Potensi Konsorsium Mikroba Endemik Indonesia dalam Menurunkan Pestisida

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Miroba Jenius Pertanian Indonesia

Penggunaan pestisida sintetis sering menjadi pilihan utama petani di Indonesia. Hal itu untuk mengurangi populasi hama dalam waktu cepat. Pestisida bervariasi tergantung pada jenis hama yang muncul pada berbagai tahap tanaman. Bahan aktif pestisida yang sering diaplikasikan di wilayah Jawa Timur khususnya di Jombang, Lamongan dan Kabupaten Probolinggo adalah Aceptate, Chlorantraniliprole, Dimehypo, Fenobucarb, Methomyl, Profenofos, Chlorothalonil dan Chlorpyrifos (Wawancara dengan petani setempat, 2018). Penggunaan pestisida sintetis mempengaruhi keragaman mikroflora tanah dan kandungan nutrisi tanah yang dibutuhkan oleh tanaman termasuk unsur hara makro dan unsur hara mikro.

Nutrisi mikro adalah nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah kecil, tetapi fungsinya penting dan tak tergantikan. Unsur makro adalah nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang relatif lebih banyak daripada nutrisi lainnya. Salah satu kelompok pestisida yang paling banyak digunakan oleh petani adalah organofosfat. Pestisida ini diizinkan untuk digunakan di Indonesia karena dapat dinonaktifkan oleh lingkungan. Mereka juga mudah terurai secara hayati, tidak bertahan lama, dan mudah menghilang secara alami. Profenofos adalah jenis insektisida yang termasuk dalam kelompok organofosfat, memiliki toksisitas sedang dan memiliki waktu paruh sekitar 43 hari (paruh hidrolisis), rata-rata 2 hari (paruh aerobik) atau sekitar 3 hari (anaerob setengah aerob).

Profenofos adalah zat kimia akut sedang, karsinogenik yang dikenal sebagai polutan air tanah, dan beracun bagi alat reproduksi. Toksisitas akut hanya terjadi pada kandungan bahan aktif murni.Sedangkan chlorantraniliprole adalah bahan dari kelompok diamida dan mekanisme kerjanya menyerang saraf. Ini dapat mengendalikan hama dari keluarga Coleoptera, Diptera, Isoptera dan Lepidoptera seperti Spodoptera exigua. Chlorantranilipole adalah racun saraf dan otot. Ia mengaktifkan reseptor rianodin dan membuka saluran ion kalsium dalam retikulum sarkoplasma sel otot yang menyebabkan pelepasan ion kalsium yang berlebihan yang mengganggu regulasi kontraksi otot dan mengakibatkan kelumpuhan. Serangga yang terkena insektisida ini memiliki gejala berhenti makan, kontraksi tubuh, tidak aktif, dan akhirnya mati. Aplikasi pestisida tidak akan menimbulkan masalah selama penggunaannya terkontrol dan tepat, tetapi pengaruhnya terhadap kehidupan mikroba tanah perlu dipertimbangkan.

Tingkat kesuburan dalam ekosistem tanah tergantung pada peran populasi mikroba untuk dapat mengkonversi bahan organik. Populasi mikroba tanah bertindak sebagai indikator stabilitas ketersediaan nutrisi ketika tanah terkontaminasi dengan pestisida. Jamur dan bakteri adalah mikroba tanah yang dapat digunakan sebagai bioindikator berdasarkan kemampuan hidup dan aktivitas mikroflora. Respon mikroba tanah terhadap pestisida dipengaruhi oleh komposisi kimianya dan efek pestisida lebih terasa pada struktur komunitas dibandingkan dengan aktivitas fisiologis mikroba. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengeksplorasi bakteri yang dapat mendegradasi Profenofos dan Chlorantraniliprole di ladang pertanian kedelai daerah Jombang, Lamongan dan Probolinggo, untuk menguji potensi mikroba ini dalam mendegradasi pestisida, untuk menentukan konsorsium mikroba yang dapat mendegradasi pestisida Profenofos dan Chlorantraniliprole, serta memperbaiki struktur tanah.

Uji potensi dan uji antagonis dilakukan dengan menggunakan metode difusi sumur dan uji degradasi pestisida dilakukan menggunakan metode HPLC in-house. Hasil penelitian menemukan 39 isolat pendegradasi Profenofos dan 30 isolat pendegradasi Chlorantraniliprole. Uji konsorsium bakteri menemukan 10 isolat pendegradasi Profenofos, 3 isolat pengikat nitrogen, dan 2 isolat pelarut fosfat yang dapat menurunkan Profenofos dalam kontrol, perlakuan inkubasi 0, 2 dan 4 hari masing-masing pada 100%, 78,83%, 75,36% dan 62,3% dan dapat menurunkan Chlorantraniliprole masing-masing sebesar 100%, 88,46%, 74,36%, dan 73,08%. Penurunan terbesar terjadi pada inkubasi hari ke-4.

Penulis : Agoes Soegianto

Tulisan detail tentang riset ini dapat dilihat di

https://www.researchgate.net/publication/335523949_Potential_of_Indonesian_endemic_microbial_consortium_in_degrading_profenofos_and_chlorantraniliprole_pesticide_in_East_Java_Indonesia_to_support_agricultural_ecosystems

Mahanani Tri Asri, Yuliani, Tarsan Purnomo, Fida Rachmadiarti, Evie Ratnasari dan Agoes Soegianto. 2019. Potential of Indonesian endemic microbial consortium in degrading profenofos and chlorantraniliprole pesticide in East Java Indonesia to support agricultural ecosystems. Ecology, Environment and Conservation Paper, Vol 25, July Suppl. Issue, 2019; Page No.(S85-S90)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu