Mahasiswa FIB Raih Dua Penghargaan di Thailand

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DARI Kiri: Fachry Sulaiman Konsul RI di Songkhla Kerajaan Thailand, Sabrina Ashilah Salsabila, dan Dwika Muzakka Anan Tatya usai menerima penghargaan first prize ASEAN Quiz Competition 2019 yang diselenggarakan pada 29 Agustus - 2 September, di Prince of Songkla University, Thailand. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Prestasi kembali diraih oleh mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) melalui acara ASEAN Youth Forum : ASEAN Ecotourism 2019. Dwika Muzakka Anan Tatya dan Sabrina Ashilah Salsabila mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya berhasil menyabet pengahargaan sebagai first prize ASEAN Quiz Competition 2019 yang diselenggarakan pada 29 Agustus – 2 September, di Prince of Songkla University, Thailand.

“Aku kira awalnya ini forum sebagai pertemuan orang-orang dari berbagai negara ASEAN. Ternyata aku bertemu banyak orang penting di sana, seperti Konjen Indonesia di Songkla, mantan minister of Songkla. Aku sama mbak Sabrina masih percaya nggak percaya mendapat first prize ASEAN Quiz Competition bersaing dengan banyak universitas bergengsi se-ASEAN,” ungkap Dwika.

Dwika mengatakan bahwa ia bisa dipilih menjadi peserta ASEAN Youth Forum karena mengikuti serangkaian seleksi. Mulai dari tahap apply berkas-berkas, interview oleh Airlangga Global Engagement (AGE), dan menulis esai tentang ASEAN Ecotourism.

Selain mendapat first prize ASEAN Quiz Competition, Dwika juga berhasil mendapat penghargaan first place ASEAN Project bersama timnya beranggotakan dua orang dari universitas lain.

Dwika mengaku saat mengikuti lomba quiz tersebut ia dan Sabrina belajar sendiri melalui website ASEAN mengenai seluk beluk ASEAN, ASEAN Magna Charta, dan mempelajari pasal-pasal lebih mendalam seperti pelajaran kewarganegaraan.

Dwika mengatakan bahwa banyak hal yang berkesan baginya selama berada di Thailand. Ia tidak hanya mendapat juara, tapi juga mendapat jejaring pertemanan. Di antara mereka adalah teman-teman yang humble untuk diajak bertukar pendapat soal kebudayaan di masing-masing negara.

“Ada banyak budaya yang tidak pernah aku temui sebelumnya di Indonesia. Seperti cerita bahwa jika ada makanan yang tersisa satu dan orang yang terakhir makan makanan itu akan mendapat keberuntungan. Saat itu aku orang Indonesia dalam satu meja yang makan terakhir. Ya mungkin karena itu aku bisa beruntung seperti ini,” kata Dwika.

Dwika juga mengatakan bahwa sekali mahasiswa mengikuti program atau kegiatan berskala internasional, akan besar kemungkinan untuk ingin mengikuti program yang lain. Sebab menurutnya, melalui kegiatan bertaraf internasional, mahasiswa akan mendapat ilmu dan pengetahuan yang tidak pernah didapat di bangku kuliah.

“Kamu bisa belajar culture and life changing experience, hal itu berharga banget,” ujarnya.

Dwika juga mengajak mahasiswa lain yang ingin mencoba program bertaraf internasional untuk sering memantau website https://international.unair.ac.id.

Make sure semua berkas lengkap, baca step-step untuk apply dengan cermat, kalau bingung bisa bertanya lebih lanjut pada kakak-kakak staf AGE,” imbuhnya.

Terakhir, Dwika mengungkapkan bahwa ia ingin mengkuti program-program internasional seperti ini di semester depan. Ia merasa masih banyak negara-negara lain yang perlu dijelajahi dan diketahui setiap keunikan budayanya. (*)

Penulis : Nivke Sabatimy

Editor : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).