YouTube sebagai Pencegahan Bunuh Diri

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Paul Yip (kiri) dalam Workshop & Symposium “Working Together to Prevent Suicide” (Foto: Fida Aifiya)

UNAIR NEWS – Mantan wakil presiden International Association for Suicide Prevention (IASP), Prof. Paul Yip hadir sebagai pembicara dalam acara Workshop & Symposium Surabaya Suicide Update 2019: “Working Together to Prevent Suicide”. Workshop dan simposium itu berlangsung di Fakultas Kedokteran UNAIR, pada 6-7 September 2019.

Dalam forum tersebut, Prof Paul Yip menyampaikan bahwa di negara asalnya, Hongkong, ia mengedukasi beberapa Youtuber sebagai key opinion leader (KOL) pencegahan bunuh diri. Proyek tersebut berawal dari maraknya kasus bunuh diri di kalangan pelajar di Hongkong.

Mayoritas pelajar di Hongkong mengalami dua masalah umum. Pertama, tertekan karena tuntutan akademik. Kedua, tidak mendapatkan pertolongan yang layak. Dua hal tersebut mengantarkan pada depresi yang berujung pada tindakan bunuh diri.

Kasus tersebut diperparah dengan perlakuan salah kaprah dari media yang meng-highlight berita bunuh diri di halaman depan koran. Itu tidak sesuai dengan panduan World Health Organization (WHO). WHO mengatur cara pemberitaan bunuh diri karena suatu berita bunuh diri dapat mendorong orang lain dengan suicidal thoughts untuk melakukan bunuh diri juga.

Jumlah pemberitaan yang salah tentang bunuh diri berbanding lurus dengan angka bunuh diri itu sendiri. Publikasi yang benar tentang isu bunuh diri diperlukan agar tidak memakan lebih banyak korban. Untuk itu, diperlukan KOL yang teredukasi dan relevan terhadap populasi pelajar.

Para pemuda cenderung tertutup tentang masalah mereka, sehingga tidak dapat mendapatkan bantuan moril dari keluarga maupun bantuan medis dari profesional. Mereka lebih pilih mengungkapkan masalahnya di platform online. Di sinilah Prof. Yip melihat prospek YouTube sebagai medium pencegahan bunuh diri.

Kenapa memilih Youtuber sebagai KOL? Karena menurut Prof. Yip, itu jauh lebih efektif dari pada mengadakan sosialisasi tentang pencegahan bunuh diri. “Anak muda tidak tertarik mendengarkan orang tua, mereka lebih suka nonton YouTube,” ujarnya.

Youtuber-Youtuber yang telah mengikuti lima jam edukasi tentang suicide prevention kemudian memproduksi konten-konten tentang pengetahuan, sikap, dan perilaku yang benar terhadap isu bunuh diri. Para Youtuber KOL ini juga membuka diskusi positif tentang isu bunuh diri di kolom komentar.

Prof. Yip juga menyampaikan, masalah bunuh diri itu seperti iceberg. Tindakan bunuh diri itu hanya ujungnya di permukaan laut. Di bawahnya adalah sistem yang bermasalah. Karena itu, bunuh diri menjadi masalah sosial yang kompleks, bukan hanya masalah medis. (*)

Penulis: Fida Aifiya

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu