Sambut Mahasiswa Baru, HI UNAIR Ajak Kritisi Isu Imigran Bersama Para Ahli

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
VOCAL point refugees asal Somalia yang membagikan kisahnya hingga sampai di Indonesia. (Foto: Aretha)
VOCAL point refugees asal Somalia yang membagikan kisahnya hingga sampai di Indonesia. (Foto: Aretha)

UNAIR NEWS – Dalam rangka pengenalan lingkungan jurusan, program studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Airlangga (UNAIR) mengajak mahasiswa baru untuk peka terhadap isu kemanusiaan dan imigran. HI UNAIR menggelar acara Expert Talk yang dihadiri oleh beberapa ahli  dari UNHCR, IOM, Imigrasi, Rudenim, hingga pengungsi asal Somalia dan Afghanistan.

Acara tersebut adalah bagian dari International Relations Fun and Education Self Improvement Orientation (IRFEST) yang merupakan rangkaian acara orientasi bagi mahasiswa baru HI UNAIR. Agenda yang bertajuk Reflecting Migration dan Humanitarianism in Indonesia tersebutdiisi oleh Hendrik Christy Therik, ST., MEngSc. dari UNHCR, Akmal Haris dari International Organization for Migration (IOM), Heru Hartono, S.H., M.H. selaku Kepala Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Surabaya, Mohamed Hussein Salat selaku Somalia refugees , Mohammad Najeeb Bahonar selaku Afghanistan refugees.

Materi dibuka dengan penjelasan Heru Hartono mengenai fungsi vital dari adanya Rudenim. Selain itu, Hendrick Christy dari UNHCR mengungkapkan bahwa fenomena kepadatan pengungsi global merupakan masalah bersama yang solusinya pun harus menjadi tanggung jawab bersama.

Selain mendatangkan para pakar ahli, HI UNAIR memberikan kesempatan kepada imigran untuk menceritakan perjalanan hidup mereka. Hal itu dilakukan agar para mahasiswa baru mampu memahami isu imigran dari perspektif para imigran itu sendiri.

“Negeri saya Somalia telah berada dalam perang selama 28 tahun. Saya telah mengarungi berbagai negara mulai dari Dubai, Oman, Kuala Lumpur, hingga saya kini telah menetap di Indonesia selama 6 tahun. Menjadi imigran bukanlah perkara mudah,” tutur Hussein.

Hal yang serupa diungkapkan oleh Najeeb yang meninggalkan negaranya Afghanistan karena perang dan diskriminasi. Akmal Haris, perwakilan IOM sendiri mengatakan bahwa terdapat banyak hal yang dapat mendorong seseorang untuk pergi meninggalkan negaranya. Hal tersebut dapat berupa perang, diskriminasi, krisis ekonomi,  bencana, demografi, dan lain sebagainya.

Nurintan Maghriandini selaku ketua pelaksana IRFEST 2019 menuturkan bahwa dari tahun ke tahun, HI UNAIR selalu mencoba untuk mengemas masa orientasi mahasiswa baru sebagai acara yang berguna bagi kehidupan perkuliahan kelak.

“Kami berusaha menstandarisasi masa orientasi sebagaimana universitas-universitas ternama di dunia. Jauh dari perpeloncoan dan tindakan sejenis,” ungkapnya.

Selain itu, Nurintan juga menuturkan bahwa tema mengenai imigran dan pengungsi diambil berdasar salah satu esensi acara IRFEST, yakni self improvement. Mahasiswa baru diharapkan mampu meningkatkan kesadaran mengenai keberadaan pengungsi, baik dari segi hukum internasional maupun domestik.

Ananda Amalia, salah seorang mahasiswa baru HI mengungkapkan bahwa sebelumnya ia tidak menyangka Expert Talk akan menjadi salah satu bagian acara dari kegiatan orientasi mahasiswa baru.

“Selain tidak menyangka, tentunya saya juga merasa senang karena mampu bertemu orang-orang hebat di ranah keimigrasian. Ditambah lagi agenda ini juga bisa menjadi bekal yang pas untuk agenda IRFEST selanjutnya, Short Diplomation Course,” tuturnya.

Perlu diketahui, setelah acara tersebut akan diadakan Short Diplomation Course yang mengadopsi Model United Nation atau simulasi sidang PBB sebagai rangkaian penting dari IRFEST 2019. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu