Novi, Mahasiswa UNAIR Jadi Pembicara di Seminar Internasional

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
NOVIANI Mariyatul Hakim (tengah) sedang memaparkan hasil makalahnya di Hotel Aryaduta, Makasar pada acara seminar internasional. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Menjadi seorang penulis dan pengisi makalah adalah sebuah capaian yang membanggakan bagi mahasiswa. Hal tersebut sedang dirasakan oleh Noviani Mariyatul Hakim mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR).

Novi, sapaan karibnya, berhasil menjadi pembicara di seminar internasional bertajuk Conflict and Violence: Reconstructions and Cultural Resolutions di Makassar. Acara yang berlangsung pada 27-29 Agustus 2019  tersebut juga diisi oleh beberapa keynote speaker dari beberapa perguruan tinggi di Indonesia.

Novi menjadi pembicara makalah mengangkat judul “Bertahan Hidup Dalam Masa Yang Sulit:  Kehidupan Sehari-Hari Masyarakat Tionghoa Pada Masa Revolusi Di Surabaya”. Ia mengangkat judul tersebut karena selama periode revolusi fisik, khususnya di Kota Surabaya dan sekitarnya telah menciptakan trauma yang dalam bagi para korbannya.

Masyarakat lokal, khususnya kelompok-kelompok masyarakat minoritas seperti India dan Tionghoa berusaha mengamankan diri, mencari tempat perlindungan agar bisa bertahan hidup. Mereka antara lain mengungsi ke beberapa tempat yang dianggap aman seperti Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Mojokerto.

“Kekerasan terhadap masyarakat Tionghoa khususnya tidak terlepas dari kelompok yang terpisah dengan kaum bumiputra,” ungkapnya.

Novi juga menambahkan bahwa makalah tersebut merupakan tugas mata kuliah sejarah komunitas dan sejarah lisan. Tugas dari dua mata kuliah tersebut ia tekuni hingga tercapai menjadi pembicara dalam seminar internasional.

Wawancara dengan orang Tionghoa juga ia lakoni. Dua masyarakat Tionghoa, Lie Tjio Wee dan Djuneo menjadi narasumber kunci menggambarkan peristiwa masa lalu dalam makalahnya. Tidak hanya itu, ia juga mencari koran terbitan pada masa 1945-1949.

Dalam menyusun makalah, ia juga menemukan beberapa hal menarik untuk diungkap ke publik. Salah satunya dalah perjuangan masyarakat Tionghoa yang membantu kemerdekaan Indonesia pada tahun 1947-1949. Salah satunya yang ia temukan adalah panitia amal Tionghoa yang menyokong dana para pejuang di medan pertempuran.

Selain itu, Novi ingin memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa bangsa Indonesia pada masa revolusi fisik saling bahu membahu mempertahankan kemerdekaan. Tidak hanya kaum bumiputra, masyarakat Tionghoa juga membantu kemerdekaan untuk hidup bebas dari penjajahan orang Eropa. (*)

Penulis: Aditya Novrian

Editor: Khefti Almawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu