Kenali Faktor Merokok Kalangan Pemuda di Pedesaan Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ilustrasi oleh gopos.id

Dari 264 juta penduduk Indonesia, sekitar 61,4 juta adalah perokok tembakau, mayoritas adalah laki-laki berusia di atas 15 tahun di mana 67% adalah perokok atau pengguna tembakau. Dampak kesehatan negatif yang terkait dengan merokok sudah diketahui, termasuk kematian dini karena penyakit jantung, penyakit paru-paru, stroke, kanker, dan diabetes. Di Indonesia, merokok tembakau adalah penyebab langsung lebih dari 225,000 kematian per tahun. Merokok tembakau adalah indikator penting dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dan juga misi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Mengingat tingginya prevalensi merokok pria di Indonesia, target pengurangan target WHO sebesar 30% dalam prevalensi merokok pada tahun 2025 akan sulit untuk dicapai.

Indonesia menempati peringkat negara penghasil tembakau terbesar kelima di dunia dan secara bersamaan memiliki prevalensi perokok tertinggi di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2015. Di Indonesia, rata-rata mulai merokok adalah antara usia 15 hingga 19 tahun, dan laki-laki 9 kali lebih cenderung merokok daripada perempuan. Merokok juga dikaitkan dengan norma sosial dan maskulinitas untuk pria, terutama di daerah pedesaan Indonesia. Merokok sering dipandang sebagai bagian mendasar kehidupan pria Indonesia, terutama mereka yang tinggal di komunitas pedesaan di mana pria berkumpul di kedai kopi untuk bersosialisasi dengan teman-teman mereka dan menggunakan WiFi yang disediakan secara gratis untuk mengakses internet.

Menanggapi tingginya tingkat merokok dan kematian serta kecacatan terkait merokok, pemerintah Indonesia telah mengembangkan strategi terkoordinasi untuk mengendalikan konsumsi produk tembakau melalui kebijakan publik. Termasuk pembatasan dan larangan iklan merokok langsung dan tidak langsung, kenaikan pajak dan harga tembakau, mempromosikan area publik yang bebas dari merokok dan menampilkan pesan kesehatan pada kemasan produk. Meskipun ada peraturan-peraturan ini, implementasi dan efektivitasnya belum optimal dan prevalensi merokok di kalangan kaum muda terus meningkat di Indonesia.

Memahami faktor-faktor yang terkait dengan perilaku merokok adalah penting untuk mengidentifikasi populasi kunci berisiko tinggi dan untuk menginformasikan kebijakan pemerintah dan desain program penghentian merokok yang tepat. Oleh karena itu, kami melakukan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dengan merokok di kalangan laki-laki muda (usia 15-24 tahun) yang tinggal di pedesaan Indonesia.

Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dari Survei Indonesia – Demografi dan Kesehatan 2012: Kesehatan Reproduksi Remaja (DHS ARH). DHS ARH 2012 dilakukan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Indonesia dan Kementerian Kesehatan di Indonesia.

Eksplorasi kami dilakukan terhadap 4811 remaja rentang usia 15-24 tahun yang belum menikah dan tinggal di daerah pedesaan Indonesia dengan menggunakan kuesioner ARHS IDHS 2012. Instrumen ini mengumpulkan karakteristik demografi termasuk usia, status pekerjaan, tingkat pendidikan tertinggi, status ekonomi, serta data tentang pengetahuan peserta tentang reproduksi manusia dan penggunaan keluarga berencana, penggunaan tembakau dan narkoba, konsumsi alkohol dan pengalaman dalam kencan dan hubungan seksual.  Kami menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan data demografi responden dan perilaku merokok. Analisis bivariat kami lakukan menggunakan uji chi-square (χ2) untuk membandingkan karakteristik responden yang merokok dan yang tidak merokok. Faktor yang terkait dengan status merokok diidentifikasi melalui regresi logistik biner.

Tingkat pendidikan, status pekerjaan, status ekonomi, dan akses terhadap media merupakan faktor penentu perilaku merokok di kalangan pria muda di pedesaan Indonesia. Analisis kami menunjukkan bahwa laki-laki muda Indonesia pedesaan dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah, terpapar oleh media (dan iklan rokok) lebih cenderung berpotensi untuk merokok. Sementara pemerintah Indonesia telah memberlakukan peraturan untuk membatasi merokok dan akses ke rokok, tingkat merokok saat ini masih cukup tinggi sehingga perlu dilakukan evaluasi program dan inovasi.

Studi kami menggarisbawahi perlunya program penghentian merokok komprehensif yang ditargetkan untuk laki-laki muda yang tinggal di daerah pedesaan di Indonesia. Untuk mencegah konsekuensi kesehatan jangka panjang terkait dengan merokok, program penghentian merokok khusus untuk populasi ini perlu dikembangkan. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penghapusan iklan rokok mungkin bermanfaat dalam jangka panjang. Misalnya, memberikan kesempatan kepada laki-laki untuk sosialisasi denga pembatasan rokok (mis. Membuat warung kopi dengan WiFi gratis dan juga bebas rokok).

Penulis: Ferry Efendi, S.Kep., Ns., M.Sc., Ph.D.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.degruyter.com/view/j/ijamh.ahead-of-print/ijamh-2019-0040/ijamh-2019-0040.xml

Ferry Efendi, Fitriana Nur Aidah, Eka Misbahatul M. Has, Linlin Lindayani, Sonia Reisenhofer. (2019) “Determinants of smoking behavior among young males in rural Indonesia”, International Journal of Adolescent Medicine and Health. De Gruyter.

doi: 10.1515/ijamh-2019-0040.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu