Menguak Problem Milenial Peningkatan Kerja Sama Indonesia-Afrika

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
H.E. Al Busyra Basnur bersama mahasiswa Universitas Airlangga serta Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) asal Afrika dan Ethiopia (29/8/19). (Foto: Intang Arifia)
H.E. Al Busyra Basnur bersama mahasiswa Universitas Airlangga serta Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) asal Afrika dan Ethiopia (29/8/19). (Foto: Intang Arifia)

UNAIR NEWS – H.E. Al Busyra Basnur selaku Duta Besar Indonesia untuk Uni Afrika, Ethiopia dan Djibouti menyebut bahwa kini adalah saat yang tepat bagi generasi milenial untuk mulai mengenal peluang kerja sama dan usaha di kawasan Afrika serta sekitarnya. Terdapat sejumlah tantangan dan problem yang mesti diperhatikan para milenial.

Materi “Peluang dan Tantangan Generasi Milenial dalam Meningkatkan Kerja Sama Indonesia-Afrika” itu disampaikan dalam kuliah tamu yang bertajuk Africa Now! yang digelar di Ruang Adi Sukadana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga. Kuliah tamu tersebut yang dihadiri mahasiswa program studi hubungan internasional serta mahasiswa pertukaran pelajar Afrika.

Secara singkat H.E. Al Busyra atau biasa disapa Al menuturkan bahwa kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini memiliki miskonsepsi mengenai negara-negara Afrika, khususnya Ethiopia. Kemunculan itu berasal dari pandangan bahwa Ethiopia adalah sebuah negara yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Padahal, selama beberapa dekade terakhir, Ethiopia telah berubah menjadi salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi di Afrika.

Selain itu, perlu disadari bahwa beberapa tahun belakangan perusahaan-perusahaan besar Indonesia mulai menempatkan Afrika sebagai salah satu wilayah strategis bagi kegiatan ekspor. Produk-produk tersebut meliputi mie instan, sabun mandi, merek pakaian, dan lain sebagainya.

“Produk Indonesia di Afrika yang paling diminati kalangan atas serta mahal harganya itu ya sarung BHS. Bahkan, saya sudah siapkan satu untuk menteri luar negeri Afrika kalau-kalau saya nanti bisa bertemu,” tuturnya.

Melalui fakta tersebut, Al Busyra menjelaskan bahwa generasi milenial harus mulai membaca peluang dalam hubungan diplomatik antara Indonesia dan Afrika. Apabila dicermati dengan saksama, bukan hanya produk perusahaan besar saja yang dapat menjangkau pasar Afrika. Tetapi industri kreatif diyakini juga mampu bersaing dan memperoleh tempat di hati masyarakat benua Afrika.

Karena itu, untuk meningkatkan hubungan dagang serta kerja sama diplomatik Indonesia dan Afrika, Al Busyra mengimbau seluruh generasi milenial mampu membaca peluang itu. Terutama dengan memahami dan mengenal budaya serta pasar Afrika.

“Di Asia Tenggara, Indonesia itu satu-satunya negara yang memiliki kedutaan besar di Addis Ababa (ibukota Ethiopia, Red). Hal ini adalah suatu nilai plus karena tempat tersebut menjadi gerbang masuk yang strategis bagi kegiatan ekspor produk Indonesia,” ungkapnya.

Pada akhir acara, Al Busyra berpesan mahasiswa UNAIR terus berperan aktif serta merangkul Afrika sebagai salah satu kawan dekat. Baik dalam hal ekonomi, politik, pendidikan, maupun kebudayaan. Dengan begitu, pada masa depan, hubungan dua negara tersebut dapat terus berkembang menuju ke arah yang lebih baik. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu