Dr. Imron: Ketrampilan Menulis Itu Bisa Dipelajari

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Imron saat menyampaikan materi dalam Sekolah Jurnalistik Batch 2 di Ruang Kahuripan 301, Kantor Manajemen Kampus C UNAIR, Sabtu (24/8/2019). (Foto: Andi Pramono)
Dr. Imron saat menyampaikan materi dalam Sekolah Jurnalistik Batch 2 di Ruang Kahuripan 301, Kantor Manajemen Kampus C UNAIR, Sabtu (24/8/2019). (Foto: Andi Pramono)

UNAIR NEWS – Tidak sedikit para penulis pemula menghadapi tantangan saat memulai membuat sebuah tulisan. Salah satunya muncul perasaan pesimistis, terutama saat mereka mulai memilih terjun di dunia jurnalistik. Mantan Redaktur Jawa Pos Dr. Imron Mawardi mengakui munculnya fenomena semacam itu.

Berkaca pada kisahnya, Dr. Imron mengakui bahwa menulis adalah bukan bakatnya. Namun, kiprahnya di dalam jurnalistik ternyata tidak sebentar. Tercatat, Dr. Imron telah berkecimpung di dunia jurnalistik sampai 15 tahun, tepatnya di salah satu media terbesar di Indonesia Jawa Pos.

“Saya merasa menulis itu bukan bakat saya,” ujarnya saat menyampaikan materi jurnalistik dasar dalam Sekolah Jurnalistik Batch 2 di Ruang Kahuripan 301 Kantor Manajemen Kampus C, Sabtu (24/8/2019).

Namun, sebenarnya, tambah Dr. Imron, kemampuan atau ketrampilan menulis itu bisa dipelajari dan dibangun. Seperti halnya yang dia alami serta lakukan saat memulai berkiprah di dunia jurnalistik.

“Karena profesionalisme menjadi seorang jurnalis, saya bisa melakukan itu dengan mempelajarinya,” tuturnya. 

Dr. Imron menyebut, jurnalis atau orang yang melakukan kegiatan jurnalistik tergolong sebagai profesi. Dan, salah satu tandanya adalah adanya kode etik yang turut mengiringinya. Kode etik itulah, ungkap Dr. Imron, bisa menjadi salah satu dasar cara yang dijadikan sesorang agar mampu menulis secara jurnalistik.

“Selain itu, untuk bisa menulis jurnalistik, kita mesti mengetahui kaidah- kaidah jurnalistik,” sebutnya.

Yang menjadi penting, tutur Dr. Imron, adalah pengetahuan konsep dasar kaidah jurnalistik. Saat ini banyak berita menarik, tapi tidak penting. Di sisi lain, banyak berita penting, tapi kurang menarik. Jurnalistik, sebut Dr. Imron, adalah menuliskan segala sesuatu informasi, berita, yang penting dengan cara yang sangat menarik.

“Kalau di dalam media itu ya, ada yang namanya news value. Yakni, kriteria-kriteria, sebuah informasi bisa diangkat menjadi sebuah berita,” sebutnya.

” Ada sepuluh kriteria. Yakni, nilai aktual (aktualitas), dramatis, spektakuler, informatif, eksklusif, ketokohan, human interest, unik, punya kedekatan (ruang dan emosi), dan angle yang lain (berbeda),” imbuhnya.

Karena itu, kemampuan atau kecakapan menulis yang baik itu terbangun. Ada seseorang itu berbakat menulis, ungkap Dr. Imron. Namun, bukan berarti seseorang yang tidak berbakat tidak bisa menelurkan karya tulisan yang baik dan bagus.

“Jadi, jangan ragu. Kemampuan menulis bisa dipelajari,” pungkasnya.

Diketahui, Dr Imron yang juga Sekretaris Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR menjadi pemateri sekaligus memberikan motivasi dalam Sekolah Jurnalistik Batch 2 di Ruang Kahuripan 301 Kantor Manajemen Kampus C, Sabtu (24/8/2019). Kegiatan itu merupakan agenda kedua.

PIH aktif membuka keran kontribusi dari sivitas akademika, terutama mahasiswa, aktif menulis. Salah satunya bermedia di laman pemberitaan kampus news.unair.ac.id. Dalam agenda yang diikuti 90 mahasiswa itu, 30 peserta dengan tulisan terbaik bakal berkesempatan menjadi kontributor di news.unair.ac.id. (*)

Penulis: Feri Fenoria







This post is also available in: English

Berita Terkait

Feri Fenoria Rifai

Feri Fenoria Rifai

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu