Pentingnya Pembelajaran Informal Bagi Praktisi Kesehatan Masyarakat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi pelayanan kesehatan. (Sumber: Alodokter)

Pembelajaran merupakan sebuah kata yang sangat umum kita dengar terutama bagi mereka yang bekerja di dunia pendidikan. Kata pembelajaran yang memiliki kata dasar belajar selama ini banyak melekat pada mereka yang memiliki status sebagai siswa atau mahasiswa. Belajar nampaknya hanya menjadi kewajiban bagi mereka yang sedang dalam tugas belajar, tapi sedikit yang menyadari bahwa proses belajar itu harus kita lakukan seumur hidup.

Teori yang membahas tentang pembelajaran dan proses belajar sudah banyak dilakukan. Secara garis besar, pembelajaran bisa dibedakan menjadi pembelajaran formal, informal, dan insidental. Pembelajaran formal umumnya adalah pembelajaran yang dilakukan dalam sebuah kurikulum yang terstruktur dan bisanya diberikan sebuah gelar sebagai tanda bahwa pembelajaran formal tersebut telah berakhir.

Pembelajaran informal adalah pembelajaran yang dilakukan sebagai upaya untuk mendukung pembelajaran formal yang dilakukan. Dalam dunia kerja pembelajaran informal bisa dalam bentuk tersedianya literatur yang mendukung kinerja, kegiatan mengikuti workshop atau konferensi yang mendukung keilmuan yang dimiliki, strategi kerja yang dilakukan untuk mencapai performa kinerja yang diinginkan, atau bentu lain yang beragam dengan tujuan mendukung keilmuan atau keahlian yang dimiliki.

Pembelajaran insidental merupakah proses pembelajaran yang terjadi secara tidak sengaja. Pembelajaran ini bisanya disadari saat pekerjaan yang dilakukan mendapat evaluasi oleh pimpinan. Evaluasi ini menunjukkan area yang harus diperbaiki dan strategi yang harus dilakukan dalam memperbaiki keinerja.

Proses pembelajaran seumur hidup ini harus dipraktikkan oleh semua praktisi untuk meningkatkan kinerjanya. Profesi kesehatan masyarakat merupakan salah satu profesi yang harus mengembangkan diri dalam profesinya. Hal ini karena perkembangan dalam dunia kesehatan masyarakat yang selalu dinamis di area preventif dan promotif.

Masyarakat berhak untuk mendapatkan pelayanan terbaik dari para praktisi kesehatan masyarakat ini. Para professional kesehatan yang telah menempuh pendidikan formal perlu mengupdate keilmuannya melalui pembelajaran informal secara berkelanjutan selain secara incidental mendapatkan pembelajaran juga di tempat kerja.

Pembelajaran berkelanjutan yang dilakukan oleh profesional dalam bidang kerjanya disebut Continuing Professional Education (CPE). CPE memberi banyak manfaat terutama dalam menjamin kualitas pelayanan yang diberikan oleh profesi tersebut. Hal ini menekankan pentingnya CPE bagi profesi kesehatan masyarakat yang setiap harinya harus melayani masyarakat dalam upaya preventif dan promotif dalam kesehatan.

Artikel yang berjudul “Improving Professional Development of Public Health Professional Through Informal Learning” adalah yang ditulis berdasarkan studi doktoral di College of Public Health, University of Georgia di Amerika Serikat mulai tahun 2010-2014. Artikel ini menjelaskan tentang salah satu aspek pembelajaran yang sedikit terlupakan karena dianggap sudah tidak lagi menjadi kewajiban, yaitu pembelajaran informal.

Ditambah lagi, tantangan dalam mengikuti pembelajaran informal yang dihadapi oleh para praktisi kesehatan masyarakat di USA yang juga terjadi di Indonesia. Tantangan dalam CPE yang banyak dikeluhkan oleh para praktisi kesehatan masyarakat di USA adalah sulitnya mencari waktu di antara beban kerja mereka dan permasalahan keluarga yang dihadapi.

Metode dalam penelitian yang dilakukan mengunakan online survey mengingat secara geografi tidak memungkinkan unuk mengumpulkan para praktisi kesehatan masyarakat yang telah bekerja di berbagai instansi yang tersebar di negara bagian Georgia. Pada akhir pengambilan data, total 172 profesional kesehatan masyarakat mengisi survey Dimension of Learning Organization Questionnaire (DLOQ) yang salah satu bagiannya mengukur keinginan para professional kesehatan masyarakat untuk belajar secara informal dan kesempatan yang diberikan instansinya untuk mendukung pembelajaran informal tersebut. 

Seluruh responden dalam penelitian ini diminta untuk mengidentifikasi 9 kegiatan dalam instansi mereka yang termasuk dalam kategori pembelajarn informal menurut DLOQ. DLOQ dikembangkan oleh prof Karen Watkins yang merupakan salah satu pembimbing saya dalam program Doctoral di UGA. DLOQ telah ditranslate di berbagai bahasa dan sudah terbukti bisa memberikan gambaran tentang dimensi pembelajaran yang terjadi dalam sebuah organisasi.

Selain diminta untuk mengidentifikasi 9 kegiatan dalam bidang kerjanya, responden juga diminta untuk  memilih apakah mereka berpartisipasi dalam pembelajaran informal diluar pembelajaran formal yang memang diwajibkan bagi mereka. Responden juga diminta mengidentifikasi kelompok informal yang mereka miliki dan alasan mengapa menjadi member kelompok tersebut.

Hasil dari penelitian yang saya sampaikan di artikel ini dapat menjadi masukan dan rekomendari bagi pengambil kebijakan. Para pengambil kebijakan dapat melihat aktivitas yang dapat dilakukan dalam instansinya yang mendukung pembelajaran informal dalam upaya peningkatan kinerja para praktisi kesehatan masyarakat di Indonesia. (*)

Penulis : Ira Nurmala

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences Vol.15 Supp 3, Aug 2019 (eISSN 2636-9346) halaman 52-55 https://medic.upm.edu.my/our_journal/malaysian_journal_of_medicine_and_health_sciences_mjmhs/mjmhs_vol15_supplement_3_august_2019-51211

Ira Nurmala (2019). Improving Professional Development of Public Health Professional Through Informal Learning. Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences 15(3): 2636-9346 Page 52-55.

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu