Manfaat Daun Sirih Merah Penyembuh Luka

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kalimat ID

Luka merupakan kerusakan dari kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain dapat menimbulkan efek traumatis. Proses penyembuhan luka yang lambat dapat disebabkan oleh adanya infeksi bakteri seperti staphylococcus aureus yang menyebabkan  infeksi luka yang bersifat piogenik dan menimbulkan penyakit infeksi pada luka yang berefek pada terjadinya radang bernanah hingga abses.       

Sampai saat ini perkembangan pengobatan modern telah mengarah kembali ke alam (Back to nature). Hal itu disebabkan bahwa obat tradisional terbukti lebih aman dan tidak menimbulkan efek samping seperti obat kimia. Daun sirih merah (Piper crocatum) merupakan salah satu tanaman yang telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat. Daun sirih merah mengandung senyawa seperti flavonoid, alkaloid, tanin, minyak atsiri, saponin, polifenol.

Sebagai anti bakteri, senyawa flavonoid bekerja dengan cara membentuk senyawa kompleks dengan protein ekstraseluler dan mengganggu integritas membran sel bakteri. Sedangkan senyawa alkaloid pada daun sirih merah bekerja sebagai antibakteri melalui mekanisme komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri. Sehingga dapat menyebabkan lapisan dinding sel bakteri tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel bakteri. Senyawa tannin berkhasiat sebagai antibakteri dengan mekanisme tanin yang dapat merusak membran sel bakteri. Senyawa astringent tanin dapat menginduksi pembentukan kompleks senyawa ikatan terhadap enzim atau subtrat mikroba. Sedangkan senyawa saponin dapat memicu terbentuknya kolagen dengan membentuk jaringan baru yaitu protein struktur yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Senyawa saponin  mempunyai kemampuan sebagai antiseptik sehingga sangat efektif untuk penyembuh luka terbuka. Sehingga dapat dibuktikan bahwa daun sirih merah sebagai antibakteri untuk penyembuhan  luka sayatan  pada tikus yang diinfeksi Staphylococcus aureus

Penelitain ini menggunakan hewan coba tikus putih betina sebanyak 20 ekor dibagi secara acak menjadi 5 kelompok, sehingga tiap kelompok terdiri dari 4 ekor. Semua kelompok tikus dicukur bulunya pada daerah punggung seluas 3 cm x 2,5 cm. Tikus dibius terlebih dahulu dengan ketamin dengan dosis 0,1 ml per ekor. Selanjutnya dilakukan sayatan  sepanjang 2 cm, sedalam 0,25 cm dan lebar 0,01 cm di daerah yang  dicukur. Pengobatan ekstrak sirih merah dilakukan tiga kali sehari yaitu pukul 06.00 WIB, 14.00 WIB dan 22.00WIB diteteskan menggunakan pipet pasteur sebanyak dua tetes lalu dibuat preparat histopatologi pada hari ke 10.

Pemeriksaan kesembuhan luka dilakukan menggunakan mikroskop. Data yang diperoleh berupa jumlah neutrofil, makrofag, fibroblas dan angiogenesis dianalisis menggunakan anova dilanjutkan uji BNJ. Serta kepadatan kolagen dianalisis menggunakan Kruskall-Wallis dilanjutkan Mann-Whitney. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak daun sirih merah (Piper crocatum) dapat memperbaiki gambaran histopatologi luka sayatan kulit tikus putihyang terinfeksi Staphylococcus aureus yang efeknya sama dengan povidon iodine 10%.

Kami berpendapat bahwa daun sirih merah dapat digunakan untuk menyembukan luka sayatan yang diinfeksi Staphylococcus aureus. Pengobatan infeksi oleh Staphylococcus aureus menggunakan antibiotika sampai saat ini telah mengalami resistensi. Sehingga penggunaan bahan alam seperti daun sirih merah dapat menjadi pilihan untuk kembali ke alam dalam pengobatan penyakit infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotika.

Penulis: Prof,Dr. Wurlina,MS.,drh

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.ejobios.org/article/biological-study-of-piper-crocatum-leaves-ethanol-extract-improving-the-skin-histopathology-of-6196

Wurlina, Dewa Ketut Meles, I Dewa Putu Anom Adnyana, Rochiman Sasmita, Cempaka Putri (2019). Biological study of Piper crocatum leaves ethanol extract improving the skin histopathology of wistar rat wound infected by Staphylococcus aureus. EurAsian Journal of BioSciences 13: 219-221

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu