Tim PKL Desa Leran Sosialisasikan Stop BABS Melalui Pendekatan Religius

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Tim PKL Desa Leran Sosialisasikan Stop BABS Melalui Pendekatan Religius. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Kelompok Praktik Kerja Lapangan (PKL) FKM UNAIR yang bertempat di Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, membuat sebuah program yang bertajuk sosialisasi dan pemicuan mengenai bahaya Buang Air Besar Sembarangan (BABS) melalui pendekatan religius. Program ini dinamakan “KALAM KALBU” yang merupakan kepanjangan dari Kajian Islam Kurangi BABS Leran Bersama Ibu-Ibu. Programnya dilaksanakan pada hari Selasa (05/8/19) pukul 18.30 WIB di kediaman Ibu Romi yang berlokasi di RT 26 RW 08, Dusun Sidokumpul. 

Pemilihan Dusun Sidokumpul sebagai sasaran tidak dilakukan secara serta merta. Kelompok 11 sebelumnya sudah melakukan observasi dan analisis potret masalah kesehatan yang ada di Desa Leran. Terdapat 12 mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 11 yang diketuai oleh Iskandar Aziz ini.

Hernanda Arie Nurfitria dan Natasya Putri Audiena, mahasiswa yang merupakan bagian dalam Srikandi Kesling, sebutan akrab untuk mahasiswa peminatan Kesehatan Lingkungan tahun 2019 ditunjuk sebagai penanggung jawab. Mereka menjelaskan bahwa munculnya program tersebut didasarkan hasil identifikasi dan analisis yang sudah dilakukan kelompok melalui kuesioner, data sekunder Puskesmas Pungpungan dan wawancara dengan tokoh masyarakat desa.

“Dari hasil pengumpulan data primer dan sekunder menunjukkan bahwa Desa Leran belum ODF (Open Defecation Free). Dan setelah dilakukan penyebaran kuesioner, ternyata sebagian besar warga di Dusun Sidokumpul yang lebih banyak yang melakukan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dibanding 4 Dusun yang lain. Padahal sudah terdapat peningkatan jumlah kepemilikan jamban setiap tahunnya,” ungkap Hernanda sesaat setelah program KALAM KALBU sudah dilakukan. 

Dalam persiapan pelaksanaan program, kelompok 11 berkoordinasi dengan salah satu anggota pengajian, yaitu Ibu Sulikhah. Ia berperan sebagai penyambung lidah antara mahasiswa dengan Ibu-Ibu pengajian.

“Sebelum melakukan intervensi, kami sudah melakukan pendekatan sebanyak dua kali dengan mengikuti pengajian setiap hari Senin selama dua minggu berturut-turut,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Natasya menjelaskan, dalam penyampaian materinya mahasiswa dituntut untuk menggunakan Bahasa Jawa Krama Alus karena dikhawatirkan tidak semua Ibu-Ibu dapat memahami materi jika disampaikan menggunakan Bahasa Indonesia.

“Dalam pelaksanaannya, kami melakukan sosialisasi dan pemicuan tentang bahaya BABS. Pemicuan ini dilakukan dengan menggunakan media gambar dalam bentuk wayang. Dalam penyampaian materi kami menyampaikan dari sudut pandang agama islam dan fokus pada bahaya yang disebabkan akibat BABS. Selain itu, kami melakukan pemicuan menggunakan Bahasa Jawa Krama Alus, karena apabila menggunakan bahasa Indonesia tidak semua Ibu-Ibu memahaminya. Semuanya ini menjadi tantangan baru bagi kami,” ujar Natasya Putri, yang juga Srikandi peminatan Kesehatan Lingkungan 2019 ini.

Program tersebut mendapatkan respon positif dari ibu-ibu yang mengikuti kegiatan, hal ini dibuktikan dengan feedback positif yang diberikan berupa pertanyaan dan saran-saran untuk pengembangan program serupa di wilayah desa Leran.

Dengan adanya program tersebut, diharapkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat khususnya Ibu tentang bahaya BABS warga Sidokumpul meningkat, sehingga dapat mengurangi perilaku BABS yang ada disana. Kedepannya dengan integrasi seluruh pihak tekait baik pemerintah desa, LSM, maupun masyarakat sendiri, semoga Desa Leran bisa segera menyandang status desa ODF (Open Defecation Free).

Penulis: Dita Fahrun Nisa

Berita Terkait

Nuri Hermawan

Nuri Hermawan

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu