Deteksi Protein Biofilm yang Diinduksi dengan Glukosa, Laktosa, Protein Kedelai, dan Zat Besi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh intechopen

Berbagai jenis mikroorganisme hidup dalam tubuh manusia. Bakteri, virus, dan jamur baik yang bersifat menguntungkan maupun yang bersifat patogen oportunistik dapat hidup pada seluruh bagian tubuh manusia, termasuk rongga mulut. Mikroorganisme yang bersifat oportunistik dapat berkembang menjadi suatu patogen bila kondisi imun host dalam keadaan tidak seimbang. Penyakit infeksi dalam rongga mulut tidak hanya terjadi pada jaringan keras atau gigi, namun juga pada jaringan lunak atau mukosa. Mikroorganisme yang paling sering menyebabkan lesi atau infeksi pada jaringan lunak rongga mulut adalah mikroorganisme jamur Candida. Sehingga penyakit tersebut disebut dengan Kandidiasis Oral.

Kandidiasis Oral merupakan salah satu penyakit infeksi jamur yang paling umum yang menyerang mukosa rongga mulut. Lesi tersebut paling banyak disebabkan oleh spesies jamur Candida albicans. Candida albicans termasuk dalam mikroorganisme normal rongga mulut yang bersifat patogen oportunistik dan keberadaannya cukup banyak, yaitu dapat mencapai 75% dari keseluruhan populasi jamur rongga mulut. Penelitian terhadap protein spesifik biofilm Candida albicans dapat menjadi salah satu alternatif dalam mencegah penyakit infeksi rongga mulut kandidiasis oral. Protein ini dapat digunakan sebagai acuan dalam pembuatan kit deteksi keberadaan mikroba penyebab penyakit infeksi.

Mikroorganisme di dalam rongga mulut, termasuk spesies Candida albicans, hidup dengan cara berkoloni hingga kemudian membentuk suatu biofilm. Biofilm ini selanjutnya akan berkembang membentuk suatu microenvironment bagi mikroorganisme dengan tujuan mempertahankan kehidupannya

Selain sebagai suatu bentuk pertahanan hidup, biofilm juga berfungsi sebagai adherensi mikroorganisme untuk dapat menginvasi jaringan pada tubuh host. Efek lokal biofilm pada jaringan tubuh host sangat kompleks, bisa jadi menguntungkan maupun membahayakan, dan efek ini dapat berubah seiring waktu. Namun demikian, National Institutes of Health memperkirakan bahwa biofilm sangat berperan dalam 80% infeksi microbial yang terjadi di Amerika Serikat.

Karbohidrat, protein, dan zat besi merupakan substansi esensial yang diperlukan oleh tubuh agar dapat tetap hidup dan berkembang. Sehingga substansi tersebut hampir selalu ada dalam bahan makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Substansi-substansi tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan tubuh host, tetapi juga terhadap pertumbuhan mikroorganisme yang hidup di dalamnya. Karbohidrat, protein, dan zat besi masing-masing dapat mempengaruhi ekspresi biofilm mikroorganisme secara berbeda-beda, sehingga menghasilkan efek virulensi yang berbeda-beda juga.

Biofilm adalah fase pertumbuhan utama pada kebanyakan mikroorganisme. Secara umum, biofilm didefinisikan sebagai sebuah komunitas dari beberapa sel yang melekat satu sama lain, sehingga membentuk sebuah microenvironment yang memiliki sifat yang berbeda dari bentukan secara individual atau planktoniknya. Selain saling melekatkan diri satu sama lain, mikroorganisme yang membentuk biofilm juga melekatkatkan diri pada permukaan host. Sehingga biofilm memiliki resistensi yang lebih besar terhadap interfensi kimiawi dan fisika daripada bentukan individu atau planktonik yang tidak saling melekat (free-floating cells).

Biofilm merupakan sebuah koloni arsitektural dari beberapa mikroorganisme sejenis yang berada dalam suatu matriks ekstraseluler yang dibentuk oleh mikroorganisme tersebut. Matriks tersebut merupakan extracellular polymeric substances (EPS) yang terbentuk pada stase yang melekat pada biofilm dengan permukaan host. EPS memberikan kekuatan bagi interaksi koloni mikroorganisme yang membentuk biofilm. Matriks ekstraseluler ini secara umum tersusun dari protein dan beberapa komponen lain. Beberapa nutrisi dan mineral yang penting lainnya ditangkap oleh biofilm dari lingkungan sekitar.

Pembentukan biofilm secara garis besar terdiri dari empat tahap, yaitu initial contact atau perlekatan awal pada permukaan host, pembentukan mikro koloni, maturase dan pelepasan serta pembentukan koloni baru atau penyebaran

Untuk melakukan terapi yang tepat terhadap penyakit infeksi rongga mulut, dalam hal ini Kandidiasis Oral tidak hanya dibutuhkan pengetahuan mengenai seberapa parah infeksi tersebut, namun perlu juga diketahui penyebabnya. Oleh karena itu, diperlukan suatu alat yang dapat mendeteksi ekspresi yang berbeda-beda dari tiap jenis biofilm mikroorganisme.

Dalam pembuatan alat deteksi keparahan penyakit, dibutuhkan suatu biomarker. Biomarker adalah suatu penanda atau indikasi objektif dari keadaan medis yang diamati dari luar pasien, yang dapat diukur secara akurat. Untuk mendapatkan suatu biomarker yang akurat perlu ditemukan terlebih dahulu berat molekul dan kekuatan ekspresi masing-masing protein spesifik yang muncul dari mikroorganisme yang bersangkutan. Dalam hal ini yaitu biofilm Candida albicans yang diinduksi oleh glukosa, laktosa, protein kedelai, dan zat besi (FeCl2).

Penulis : Indah Listiana-Kriswandini

Informasi detail tulisan ini bisa dilihat pada tulisan kami di :

http://www.medicinaoral.com/odo/volumenes/v11i6/jcedv11i6p542.pdf

Indah Listiana-Kriswandini, Markus Budi-Rahardjo, Pratiwi Soesilawati, Aileen Prisca-Suciadi. 2019. Detection of Candida albicans biofilm proteins induced by glucose, lactose, soy protein, and iron. J Clin Exp Dent. 2019;11(6):e542-6.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu