Delegasi Senat Akademik UNAIR Ikuti Konferensi ASAIHL 2019

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
FOTO bersama tim UNAIR di Manila, Filipina pada (25-27/07/2019). (Foto : istimewa)

UNAIR NEWS – Dunia pendidikan di Indonesia dinilai harus siap menghadapi persaingan global. Gebrakan dan inovasi terus digalakkan di lingkungan akademik Universitas Airlangga (UNAIR). Salah satunya dengan penelitian dan hasil temuan para dosen untuk ditunjukkan dalam kanca internasional.

Senat Akademik UNAIR mengirimkan delegasi yang terdiri dari Prof. Dr. Joewono Soeroso, dr., SP.PD (Ketua Senat Akademik), Iman Prihandono, SH., MH., LL.M., Ph.D (Sekretaris Senat Akademik), Diah Ariani Arimbi, Ph.D (Dekan FIB), Dr. Santi Martini, dr (Wakil Dekan I FKM), Dr. Puji Karyanto, SS., M.Hum (Wakil Dekan I FIB), Dr. Endang Dewi Masithah, Ir., MP, (Wakil Dekan I FPK), Arief Bakhtiar, dr (Anggota Komisi III Senat Akademik).

Delegasi ini dikirimkan untuk menghadiri konferensi Association of Southeast ASIAN Institution of Higher Learning (ASAIHL) 2019. Iman menyebutkan bahwa konferensi itu dihadiri oleh universitas di seluruh dunia dan anggota ASAIHL dalam membahas metode pembelajaran di pendidikan tinggi yang bertajuk Reconfiguring Universities for The Future. Tepatnya di Manila, Phillippines pada (25-27/07/2019) lalu.

“Dari delegasi UNAIR, ada tiga anggota Senat Akademik yang mempresentasikan papernya di sesi panel dan satu orang mendapatkan kehormatan dengan mempresentasikan karyanya di Country Report mewakili Indonesia karena tema paper yang diangkat sangat sesuai dengan tema konferensi tersebut,” tuturnya.

Lanjut Iman, pada sesi Country Report diwakili oleh Diah Ariani Arimbi, Ph.D yang mempresentasikan papernya tentang pentingnya liberal arts dalam penerapan pembelajaran di perguruan Tinggi. Hal itu dikarenakan bahwa industri 4.0 lebih fokus pada penggunaan teknologi. Seharusnya era industri 4.0 ini juga menyentuh aspek humanis. Sehingga adanya seni dan budaya tidak kehilangan akarnya meskipun semua aspek sudah digital.

IMAN Prihandono, SH., MH., LL.M., Ph.D saat memaparkan papernya pada seluruh peserta di Manila. (Foto : istimewa)

Sementara itu Iman Prihandono juga memaparkan penelitiannya tentang Interdiciplinery Teaching in Law : A Study Indonesian Law School. Berdasarkan risetnya, bahwa ada 25 persen mata kuliah dari 18 Fakultas Hukum di Indonesia mengadopsi unsur tuntutan industri 4.0. Jumlah itu dikatakan masih sangat rendah dibawah di negara-negara ASEAN yang kini sudah mencapai 45 persen dari total jumlah mata kuliah. Sehingga hal ini menjadi koreksi dan evaluasi bersama perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

“Saya berharap Fakultas Hukum Indonesia khususnya UNAIR dapat menerapkan konsep interdisipliner. Yaitu pembahasan masalah hukum saat ini tidak berdiri sendiri, tapi interdisiplin. Misalnya, politik, ekonomi, sosial, dan budaya bahkan kesehatan, farmasi, aspek negoisasi, dan inovasi,” ungkapnya.

Sudah saatnya UNAIR lebih menerapkan metode interdisipliner pada proses pembelajarannya. Iman berharap Fakultas Hukum UNAIR bisa menjadi pioneer metode pendidikan yang ada di Indonesia khususnya Indonesia bagian timur. Diketahui, Fakultas Hukum UNAIR menempati peringkat ketiga setelah Universitas Indonesia dan Universitas Padjajaran untuk mata kuliah hukum berbasis industri 4.0.

Selain itu, dengan mengikuti konferensi tersebut UNAIR dapat lebih mengetahui perkembangan terkini situasi akademik di berbagai belahan dunia. Diharapkan akan ada banyak delegasi dari UNAIR khususnya Senat Akademik dalam mengikuti acara tersebut. Sehingga kita dapat menunjukkan kepada Universitas di dunia bahwa UNAIR berperan aktif dalam pengembangan akademik khususnya kurikulum. (*)

Penulis : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu