Sparganosis, Penyakit Infeksius yang Terabaikan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sciencedirect.com

Indonesia sebagai negara beriklim tropis mempunyai kekayaan sumber daya alam, salah satunya adalah keanekaragaman satwa liar. Dibalik itu semua, terdapat resiko akan penularan penyakit infeksius yang tinggi karena diperkirakan sampai saat ini 70% penyakit zoonosis (infeksi yang bisa menular dari hewan ke manusia) berasal dari satwa liar. Hal itu disebabkan oleh banyaknya jenis penyakit infeksius tersebut. Oleh karena itu kami melakukan riset yang spesifik di satu jenis penyakit yaitu sparganosis. Apa itu sparganosis? Sparganosis merupakan penyakit infeksius yang disebabkan oleh parasit cacing pita dari genus Spirometra, di mana cacing tersebut bisa menginfeksi satwa liar terutama golongan hewan berdarah dingin dari jenis reptil dan amfibi. Beberapa laporan kasus juga menyatakan bahwa manusia juga terinfeksi cacing Spirometra tersebut. Namun sangat disayangkan belum pernah ada yang melaporkan secara detail bagaimana kejadian penyakit ini pada satwa liar. Kasus kejadian infeksi pada manusia cenderung diakibatkan oleh dekatnya hubungan manusia dengan satwa liar. 

Fenomena saat ini yang terjadi di negara kita adalah munculnya sebuah kebiasaan adopsi hewan peliharaan eksotik. Peliharaan tersebut didapatkan dari satwa liar serta kebiasaan masyarakat di beberapa daerah yang cenderung mengkonsumsi daging dari satwa liar seperti ular, kadal, katak, dan biawak atau lebih dikenal dengan kuliner ekstrim. Manusia dapat terinfeksi penyakit sparganosis apabila memakan daging yang terdapat dari stadium infektif cacing pita Spirometra. Cacing Spirometra banyak ditemukan pada daging maupun jeroan yang dijadikan sebagai bahan utama kuliner ekstrim. Apabila proses pengolahan masakan menggunakan suhu yang tidak optimal maka dimungkinkan stadium infektif cacing tersebut masih hidup dan siap menginfeksi tubuh kita terlebih lagi individu peminat kuliner ekstrim tersebut lebih menyukai daging yang disajikan dalam kondisi mentah dan setengah matang.    

Selanjutnya, kami juga berargumentasi bahwa individu yang dekat dengan fenomena tersebut lebih berisiko terinfeksi sparganosis terutama jika kurang memperhatikan higinitas dan sanitasi. Sampai saat ini sudah terdapat beberapa individu yang khusus melakukan breeding (pengembangbiakan) satwa liar. Hasil breeding tersebut bisa dikirim sebagai bahan baku kuliner dan bisa juga sebagai hewan peliharaan eksotik. Sebagai tambahan, beberapa satwa liar yang dijadikan bahan utama kuliner tersebut juga berasal dari tangkapan liar dari alam yang dapat didapatkan dari para pengepul. Untuk dapat mengetahui bagaimana angka kejadian penyakit sparganosis pada satwa liar, kami melakukan riset pendahuluan pada satwa liar yang sering ditemukan pemanfaatannya sebagai hewan peliharaan eksotik maupun kuliner ekstrim yaitu ular dengan tujuan supaya mendapatkan gambaran yang jelas tentang kejadian sparganosis pada ular hasil tangkapan liar maupun breeding.

Metode dan Hasil

Riset ii berhasil untuk mendeteksi infeksi cacing Spirometra yang menyebabkan sparganosis pada spesies ular Dendrelaphis pictusatau ular tampar. Selanjutnya, 378 sampel ular tersebut dikoleksi dari wilayah kota dan kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Sampel yang didapatkan berasal dari breeder maupun tangkapan liar di beberapa pengepul ular. Sampel ular yang dikoleksi mempunyai usia yang beragam sehingga dikategorikan menurut usia yaitu mulai usia kecil (baby size), usia remaja (juvenile size), dan usia dewasa (adult size). Teknik euthanasi dan nekropsi dilakukan untuk bisa mengetahui adanya sebaran infeksi cacing Spirometrapada bagian jaringan subcutan, coelom, dan musculus atau daging dari sampel ular yang diperiksa.

Hasil yang didapatkan selanjutnya dianalisis pada aspek prevalensi yang kemudian dideskripsikan pada masing-masing kategori sampel. Total prevalensi dari keseluruhan sampel adalah 50.85% dimana jika dispesifikkan pada sampel ular yang berasal dari breeder didapatkan angka prevalensi 70.7% dan ular yang berasal dari tangkapan liar didapatkan angka prevalensi48.7%. Lebih dari setengah (56.6%) cacing Spirometra ditemukan pada bagian musculus atau daging ular, serta 29.5% ditemukan pada jaringan subcutan dan 13.8% ditemukan pada bagian coelom.

Hasil riset ini berimplikasi bahwa satwa liar yang sudah dikembangbiakan secara khusus oleh beberapa breeder sebagai hewan peliharaan dan satwa liar mempunyai peluang yang sama besarnya dalam kejadian infeksi sparganosis. Mengingat angka prevalensi yang didapatkan tergolong tinggi. Dalam hasil riset ini, kami menyarankan agar mulai dirancang sebuah Standard Operational Procedure (SOP) pada aspek pengendalian penyakit sparganosis khususnya pada satwa liar yang ada di Indonesia sebagai acuan untuk tindakan pencegahan agar tidak terjadi penularan kepada manusia maupun tindakan pengobatan apabila ditemukannya sampel yang positif. Selama ini tidak ada acuan yang spesifik terkait tindakan pengendalian sparganosis pada hewan, dikarenakan sparganosis masih tergolong dalam kategori Neglected Tropical Disease (NTD) atau penyakit tropis yang terabaikan.

Laporan kejadian sparganosis yang spesifik pada satwa liar, hewan domestik, dan hewan ternak di Indonesia saat ini tergolong sangat minim. Padahal penyakit ini bisa menular kepada manusia. Kurangnya data epidemiologi sparganosis di seluruh dunia baik pada manusia maupun spesies hewan menjadi tantangan tersendiri untuk terus mengeksplorasi riset ini secara berkelanjutan.

Penulis: Aditya Yudhana, drh., M.Si.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.veterinaryworld.org/Vol.12/June-2019/18.pdf

https://www.researchgate.net/publication/333864764_The_medical_relevance_of_Spirometra_tapeworm_infection_in_Indonesian_Bronzeback_snakes_Dendrelaphis_pictus_A_neglected_zoonotic_disease

Aditya Yudhana, Ratih Novita Praja, and Arif Supriyanto. (2019). The medical relevance of Spirometra tapeworm infection in Indonesian Bronzeback snakes (Dendrelaphis pictus): A neglected zoonotic disease. Veterinary World, 12(6): 844-848;

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu