Rendahnya Permintaan Gigi Palsu Pada Lansia Sebabkan Kesehatan Mulut yang Buruk

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Tribunnews.com

Populasi Aging atau populasi lansia harus dilihat sebagai hasil langsung dari keberhasilan dalam program-program pembangunan seperti nutrisi, kesehatan, air minum bersih dan sanitasi yang sangat penting dalam mengurangi infeksi serius. Namun, pertumbuhan yang cepat dari populasi lansia juga menimbulkan berbagai tantangan, seperti meningkatnya jumlah penderita penyakit degeneratif termasuk hipertensi, penyakit jantung, kanker, diabetes mellitus tipe 2, osteoporosis, Alzheimer dan demensia.

Masyarakat Indonesia saat ini berharap untuk hidup rata-rata selama 71 tahun, naik dari 45 tahun pada tahun 1945 ketika kemerdekaan dideklarasikan. Hal ini merupakan pencapaian yang penting, tetapi kita juga harus meramalkan konsekuensi dari populasi yang menua di negara kita. Selain itu, PBB telah memperkirakan bahwa persentase orang Indonesia di atas 60 tahun akan mencapai 25 persen pada tahun 2050 ‘atau hampir 74 juta orang tua.

Kehadiran penyakit sistemik seperti Diabetes memengaruhi banyak aspek kesehatan seseorang. Terkait dengan kesehatan gigi tingkat keparahan penyakit periodontal berpotensi memperburuk kualitas hidup lansia. Terbukti diabetes mellitus dapat meningkatkan risiko periodontitis, dan inflamasi periodontal yang akan memberi dampak negatif pada kontrol gula darah. Periodontitis merupakan inflamasi kronis, disebabkan oleh mikroorganisme spesifik atau kelompok mikroorganisme tertentu pada plak gigi yang ditandai dengan kerusakan struktur penyangga gigi (ligamen periodontal dan tulang alveolar). Penyakit ini memiliki prevalensi yang cukup tinggi (periodontitis yang parah terjadi pada 10-15% orang dewasa)(Preshaw et al., 2012). Periodontitis yang parah, dapat menyebabkan gigi goyang hingga kehilangan gigi. (Carranza et al., 2015). Gigi yang hilang idealnya harus diganti untuk mengantisipasi beberapa konsekuensi serius. Efek yang paling jelas adalah estetika, tetapi dampak adanya migrasi dan rotasi gigi, ketidakefisienan mengunyah, gangguan sendi temporomandibular, dan gangguan bicara juga dapat mempengaruhi fungsi dan kesehatan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, hampir semua orang tua yang tinggal di panti jompo Surabaya kehilangan gigi, sebagian atau seluruhnya, dan mereka memilih untuk membiarkannya tanpa mengganti dengan gigi palsu karena beberapa alasan.

Pada penelitian ini ditunjukkan bahwa mayoritas permintaan untuk membuat gigi palsu lansia rendah. Rendahnya permintaan gigi palsu dipengaruhi secara signifikan oleh setidaknya 3 faktor, yaitu faktor predesposisi (pengetahuan atau sikap lansia terhadap kesehatan gigi), faktor-faktor pendukung (biaya perawatan) dan faktor regulasi, keluarga, maupun pengalaman menggunakan gigi palsu. Sikap memainkan peran penting dalam meningkatkan permintaan perawatan kesehatan, khususnya permintaan untuk gigi palsu. Para lansia tidak merasakan gangguan atau keluhan terhadap  kondisi rongga mulut mereka selama kehilangan gigi. Tidak ada pendidikan kesehatan gigi atau penawaran perawatan. Dengan demikian, mereka merasa tidak perlu melakukannya mengajukan permintaan untuk pembuatan gigi palsu karena merasa tidak dianggap wajib. Penelitian ini dimaksudkan untuk mempelajari permintaan pasien akan gigi palsu pada kelompok lansia sehingga tren masa depan dalam strategi kesehatan dan manajemen dapat ditingkatkan.

Studi cross-sectional dilakukan di antara 80 orang tua dengan multistage random sampling dengan desain penelitian analitik deskriptif. Instrumen dari penelitian ini adalah kuisioner yang divalidasi tentang permintaan gigi palsu. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dan perhitungan data disajikan dalam bentuk persentase dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 17.0.

Hasil dari penelitian ini sebagian besar peserta (45 orang) menunjukkan rendahnya tingkat permintaan terhadap gigi palsu (56,2%), dengan sisa 35 orang memiliki permintaan gigi palsu yang tinggi (43,8%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa permintaan untuk gigi palsu yang rendah dapat menyebabkan kesehatan mulut yang buruk. Adanya penyakit sistemik dan kualitas hidup yang berhubungan dengan penyakit periodontal menyebabkan lansia harus lebih sadar akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut sehingga kualitas hidup lansia tetap baik dan harapan hidup dapat dipertahankan atau ditingkatkan. Angka-angka harapan hidup dapat meringkas banyak hal tentang suatu negara, dari tingkat ekonomi, sosial, kesehatan, hingga menjadi subjek tinjauan kebijakan yang dibuat oleh suatu negara. Indeks Pembangunan Manusia (HDI) adalah ukuran ringkasan pencapaian rata-rata dalam dimensi utama pembangunan manusia (kehidupan yang panjang dan sehat, berpengetahuan luas dan memiliki standar hidup yang layak). Sehingga sangat dianjurkan bahwa program kesehatan masyarakat mencakup populasi kesehatan mulut, khususnya lansia. Sehingga tren masa depan dalam strategi kesehatan dan manajemen dapat ditingkatkan.

Penulis: Dr. Titiek Berniyanti, drg.,M.Kes.

Informasi detail dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.researchgate.net/publication/334020061_Overview_of_dentures’_demand_to_support_the_improvement_of_life_quality_of_the_elderly_at_high-level_life_expectancy_in_Indonesia

Overview of Dentures’ Demand to Support the Improvement of Life Quality of the Elderly at High‑Level Life Expectancy in Indonesia, 2019, Journal of International Oral Health, ISSN. 09767428, 09761799 Volume 11 | Issue 3 page. 112-117

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu