Benarkah Mangrove Wonorejo Menjadi Area Timbunan Sampah Plastik?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Surabaya Roll Cake
Ilustrasi oleh Surabaya Roll Cake

Akhir-akhir ini, telah banyak perbincangan mengenai polusi plastik di seluruh dunia. Indonesia menjadi salah satu dari topik pembahasan karena tercantum sebagai pengguna plastik terbesar kedua di seluruh dunia. Sebagai salah satu kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, tentunya warga Surabaya juga banyak menggunakan plastik dalam kegiatan sehari-hari. Lalu, kemanakah seluruh sampah plastik yang telah digunakan? Apakah semua sampah tersebut telah dikelola dengan baik? Jawabannya adalah, TIDAK!

Faktanya, tidak lebih dari 50% dari sampah plastik dikelola dengan baik. Sebagian besar dari sampah plastik yang tidak mendapatkan perlakuan yang layak berakhir di sungai. Aliran sungai akan membawa sampah palstik tersebut ke laut. Wilayah estuari/ muara sungai menjadi salah satu area timbunan sampah plastik yang dibawa oleh aliran sungai. Mengapa? Karena estuari adalah tempat bertemunya aliran sungai dengan wilayah perairan laut. 

Pembersihan manual menjadi salah satu solusi utama untuk mencegah sampah plastik menjadi mikro plastik yang memiliki tingkat bahaya pencemaran lebih tinggi dari makro palstik. Pembersihan hendaknya dilakukan secara efektif saat timbunan sampah berada di kondisi paling banyak. Salah satu faktor yang mempengaruhi timbunan sampah plastik di estuari adalah pasang surut air laut. Pasang surut air laut dapat membawa sampah plastik yang mengapung kembali ke wilayah estuari.

Penelitian dilaksanakan di wilayah estuari Sungai Wonorejo dengan mengambil 3 sampling lokasi yaitu tepat di mulut Sungai Wonorejo, 250 m dan 500 m berjarak horizontal dari mulut Sungai Wonorejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasang surut air laut memberikan dampak signifikan terhadap timbunan sampah plastik di estuari. Timbunan sampah plastik terukur lebih banyak pada kondisi pasang. Jenis plastik Low-density Polyethylene (LDPE) ditemukan paling banyak diantara jenis plastik yang lain. Kondisi geologis dari lokasi sampling juga berpengaruh signifikan terhadap pola timbunan sampah palstik. Dari hasil analisis, ditemukan bahwa lokasi yang berbentuk cekungan cenderung mengakumulasi sampah plastik lebih banyak. Lokasi sampling di mulut sungai menunjukkan akumulasi sampah plastik terendah akibat adanya pengaruh aliran sungai yang cukup kuat untuk membawa sampah plastik menuju ke wilayah perairan laut. 

Kondisi ini menjadi bukti awal bahwa pengelolaan sampah plastik di Surabaya belum berada di kondisi yang bisa diandalkan. Hasil penelitian ini memberikan gambaran awal bahwa salah satu lokasi wisata di Surabaya, yaitu Mangrove Wonorejo, telah menjadi tempat akumulasi sampah palstik yang terbawa oleh aliran Sungai Wonorejo.

Penulis: 

Muhammad Fauzul Imron, S.T., M.T. dan Setyo Budi Kurniawan, S.T., M.T.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat di:

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S2352186419301671

Setyo Budi Kurniawan dan Muhammad Fauzul Imron. The effect of tidal fluctuation on the accumulation of plastic debris in the Wonorejo River Estuary, Surabaya, Indonesia. Environmental Technology & Innovation, Volume 15, Halaman 100420

https://doi.org/10.1016/j.eti.2019.100420

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu