Dominasi Mutasi Ganda Sebabkan Tingginya Penderita Penyakit Hati Kronis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Koran Jakarta

Penyakit Hepatitis B yang disebabkan oleh infeksi Virus Hepatitis B (VHB) menjadi masalah di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang. Di Indonesia, penderita hepatitis B memiliki angka kejadian yang cukup tinggi. Virus Hepatitis B merupakan virus DNA yang tidak stabil. Hal ini dikarenakan VHB yang tidak memiliki kemampuan koreksi gen sebagaimana virus DNA pada umumnya sehingga VHB mudah mengalami mutasi. Gen VHB memiliki empat kerangka baca, yaitu Surface, Polymerase, Core, dan X.

Dari keempat kerangka baca tersebut, daerah gen X memiliki keistimewaan dapat berintegrasi ke dalam genom inang (host) dan dapat menyebabkan perubahan jalur persinyalan sel di tubuh inang. Pada berbagai penelitian yang telah ada di luar negeri, mutasi daerah gen X VHB seringkali ditemukan pada penderita hepatitis B dengan penyakit hati kronis. Penyakit hati kronis dibagi menjadi tiga stadium yaitu hepatitis kronis, sirosis hati, dan kanker hati. Mutasi sendiri didefinisikan sebagai perubahan susunan nukleotida virus yang berdampak pada perubahan protein yang dihasilkan oleh virus tersebut. Mutasi gen X VHB dapat mengganggu stabilitas protein X yang dihasilkan oleh virus hepatitis. Sehingga fungsi normal dari protein X dapat terganggu dan bertransformasi hingga memicu keganasan. Mutasi di daerah gen X dapat juga mempengaruhi bagian lain dari kerangka baca VHB karena lokasi gen X tumpang tindih dengan beberapa daerah VHB lainnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Wungu dkk. (2019) yang telah dipublikasikan di Malaysian Journal of Biochemistry and Molecular Biology bertujuan untuk mendeteksi keberadaan mutasi gen X VHB pada penderita penyakit hati kronis di Surabaya. Hal ini dikarenakan penelitian mengenai mutasi gen X di Indonesia, termasuk Surabaya, masih terbatas. Penelitian tersebut mengambil sampel sebanyak 30 penderita penyakit hati kronis dengan hepatitis B di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, Indonesia. Penelitian tersebut menggunakan teknik molekuler canggih berupa nested PCR-direct sequencing yang dikerjakan di Laboratorium Hepatitis Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga. Dari prosedur tersebut dapat diketahui susunan genetik virus yang kemudian dibandingkan dengan susunan genetik VHB normal untuk mengetahui adanya mutasi.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa cukup banyak sampel penderita penyakit hati kronis dengan infeksi VHB di Surabaya yang mengalami mutasi gen X (sebanyak 12 dari 30 sampel yang ada, atau 40% dari jumlah sampel keseluruhan). Hal ini menunjukkan angka kejadian mutasi hepatitis B yang cukup tinggi di Surabaya. Terdapat 3 jenis mutasi gen X pada penelitian tersebut yaitu C1632T, T1753A/C/G, A1762T, dan G1764A. Jenis mutasi yang mendominasi adalah A1762T dan G1764A yang ditemukan sebagai mutasi ganda. Berbagai mutasi tersebut pada umumnya ditemukan pada stadium lanjut penyakit hati kronis.

Mutasi ganda ini banyak berkaitan dengan perkembangan hepatitis B menjadi kanker hati. Strain HBV dengan mutasi ganda ini dikatakan memiliki keuntungan survival yang lebih tinggi dibandingkan mutasi tunggal. Hal ini ditunjukkan dengan replikasi VHB yang lebih tinggi pada VHB yang mengalami mutasi ganda. Replikasi VHB yang tinggi ini menyebabkan peningkatan inflamasi, replikasi, dan invasi virus. Mutasi ganda ini juga dikatakan dapat menekan ekspresi regulator sel pencegah keganasan dengan kuat sehingga menyebabkan proliferasi sel yang tidak terkontrol.

Penelitian mengenai mutasi gen X VHB di Indonesia sendiri masih sangat terbatas. Frekuensi mutasi ganda K130M/V131L pada penelitian ini ditemukan lebih tinggi dibandingkan penelitian yang ada sebelumnya. Banyaknya mutasi gen X VHB yang ditemukan pada penelitian ini menyadarkan kita bahwa tidak menutup kemungkinan banyak juga mutasi yang terjadi pada daerah VHB lainnya. Tidak menutup kemungkinan adanya pola mutasi yang berbeda di berbagai daerah dan suku di Indonesia. Mutasi A1762T dan G1764A sebagai mutasi yang dominan dapat diteliti lebih lanjut sebagai faktor prediktor penyakit hati kronis dengan hepatitis B. Hal ini memungkinkan penderita hepatitis B dapat melakukan pencegahan dan penanganan lebih awal sebelum terjatuh ke dalam stadium lanjut penyakit hati kronis.

Penulis: Citrawati Dyah Kencono Wungu, dr., M.Si

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://msbmb2010.wixsite.com/mjbmb

https://drive.google.com/file/d/1n6xqRy6LfJ2ZNVMW54u5wN01uq5q2Pso/view

Citrawati Dyah Kencono Wungu, Mochamad Amin, S. Eriaty N. Ruslan, Priyo Budi Purwono, Ulfa Kholili, Gwenny Ichsan Prabowo, Ummi Maimunah, Poernomo Boedi Setiawan, Maria Inge Lusida, Soetjipto, Retno Handajani (2019). Hepatitis B Virus X Gene Mutation with Predominance A1762T+G1764A Double Mutation on Chronic Liver Disease Patients in Surabaya, Indonesia. Malaysian Journal of Biochemistry and Molecular Biology, 22(1): 27-31

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu