Prof Suwarno: Kuning Telur (IgY) Bisa Jadi Alternatif Pengganti Antibiotik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PROF. Dr. Suwarno, drh. M.Si. saat mempresentasikan penelitiannya dalam seminar nasional perunggasan di Indo Livestock 2019 Expo and Forum dengan tajuk Update Resistensi Antimikroba (AMR) dan Alternatifnya di Indonesia pekan lalu. (Foto: Ahmad Herdianto)
PROF. Dr. Suwarno, drh. M.Si. saat mempresentasikan penelitiannya dalam seminar nasional perunggasan di Indo Livestock 2019 Expo and Forum dengan tajuk Update Resistensi Antimikroba (AMR) dan Alternatifnya di Indonesia pekan lalu. (Foto: Ahmad Herdianto)

UNAIR NEWS – Penyakit bakterial masih menjadi momok bagi para peternak. Antibiotik yang biasanya menjadi andalan dalam menangani persoalan tersebut kini justru kian dibatasi penggunaannya. Hal itu terkait dengan antimicrobial resistance (AMR) atau suatu kondisi di mana sebuah mikroorganisme seperti bakteri gram positif maupun negatif, dalam tubuh tidak lagi mempan terhadap obat-obatan antibiotik tertentu.

Penggunaan antibiotik, baik pada hewan maupun manusia, akan berdampak pada perkembangan bakteri resisten di saluran pencernaan. Kemudian, bakteri resisten bakal berpindah melalui perantara dan dapat mencemari lingkungan serta berbahaya bagi makhluk hidup. Jika tidak ada pengendalian global, di tahun 2050, diperkirakan AMR akan menjadi pembunuh nomor satu di dunia dengan angka kematian mencapai 10 juta jiwa.

Persoalan AMR tersebut telah menjadi isu kesehatan masyarakat yang semakin menyita perhatian para pemangku kesehatan di seluruh dunia, termasuk di sektor kesehatan hewan. Pemerintah sendiri sedang melakukan upaya pengawasan dan telah menetapkan lima tujuan strategis nasional tentang kontrol AMR. Salah satunya adalah pengembangan dan inovasi untuk obat-obatan baru, alat ganti kit, vaksin, serta intervensi lainnya.

Dalam seminar nasional perunggasan yang digelar oleh Indo Livestock 2019 Expo and Forum pekan lalu, beberapa ahli telah menyodorkan beberapa alternatif pengganti antibiotik. Satu di antaranya ialah dosen dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, yakni Prof. Dr. Suwarno, drh., M.Si dengan penelitiannya mengenai pemanfaatan kuning telur (IgY) sebagai terobosan untuk pengobatan penyakit.

”Jika pembicara sebelumnya berbicara mengenai penggunaan probiotik, saya sedikit berbeda. Saya menggunakan antibodi yang terdapat di dalam kuning telur atau Immunoglobuline Yolk (IgY),” ujar Prof. Suwarno saat mengawali sesi keempat diskusi.

Menurut Prof. Suwarno, umumnya IgY digunakan sebagai imunoterapi, sarana preventif, dan sarana diagnose, baik bagi hewan maupun manusia. Apabila dimanfaatkan untuk terapi, IgY tidak bereaksi dengan rheumatoid factor IgM anti-IgY, tidak mengendap, serta tidak berdampak pada penyakit lain. Proses pengolahannya mudah, hemat biaya, ramah lingkungan, tidak berbahaya, dan dapat menjadi sumber ekonomi yang efektif.

”Ketika kita melakukan isolasi, tidak memakan banyak biaya, handle hewannya gampang, mengurangi efek negatif dan yang terpenting adalah animal walfare. Kemudian kita tidak harus membunuh hewan dengan cara mengambil darah karena cukup dari kuning telurnya saja,” imbuh sekretaris Airlangga Desease Prevention and Research Center itu.

Kuning telur atau IgY agar bisa digunakan sebagai alternatif pengobatan memerlukan beberapa tahapan. Mulanya, saat divaksin, seekor ayam akan menghasilkan antibodi di dalam darah. Kemudian darah mengalir menuju indung telur (ovarium) dan akhirnya ditransfer ke kuning telur karena sifat spesifik dari IgY dan keberadaan reseptor selektif.

”IgY dalam kuning telur ini akan melindungi anak ayam dari infeksi. Karena itu, kalau kuning telur diekstraksi akan menghasilkan IgY. Nah, IgY itulah yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan. Teknik produksinya juga sederhana, mulai imunisasi, panen, isolasi, pemurnian, dan formulasi,” terang penulis buku Elisa: Teori dan Protokol itu.

Beberapa penyakit pada manusia yang bisa ditangani dengan IgY adalah karies gigi, tuberculosis, diare, gastritis, dan banyak lainnya. Sementara di hewan seperti influenza, diare, hingga toxoplasma. Mekanismenya, ketika masuk ke dalam tubuh, IgY akan melapisi sel sehingga mencegah bakteri masuk ke dalam sel, mencegah pelepasan virus, serta menghambat aktivitas enzim bakteri agar tidak terjadi perkembangan bakteri baru.

”Produk buatan saya yang memanfaatkan IgY adalah suplemen untuk mengobati unggas dari virus avian-influenza. Bentuknya berupa spray yang nanti bisa disemprotkan ke paruh ayam sebanyak lima kali. Penggunaan IgY lainnya juga dapat berbentuk kosmetik, lotions, bahan makanan, makanan, ataupun injeksi,” tutup Prof. Suwarno. (*)

Penulis: Nabila Amelia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu