Jumlah Pasien Hepatitis A di Pacitan Menurun
Pasien penderita Hepatitis A menjalani rawat inap di tempat-tempat tidur darurat (velt bed) di Puskesmas Ngadirojo, Pacitan, Jawa Timur, Kamis (27/6/2019). Pemkab Pacitan menetapkan status KLB (kejadian luar biasa) wabah Hepatitis A di enam kecamatan setelah penyakit sangat menular itu mulai terdeteksi pada 19 Juni 2019 dengan jumlah 84 pasien, dan terus melonjak hingga kini Kamis (27/6/2019) mencapai 824 penderita. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/wsj.

Jumlah Pasien Hepatitis A di Pacitan Menurun

Pacitan, Beritasatu.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan, Provinsi Jawa Timur, mengklaim jumlah penderita Hepatitis A yang menjalani rawat inap di sejumlah Puskesmas dan RSUD dr Darsono, Pacitan terhitung hari ini sudah menurun.

Jika hari sebelumnya terdapat sekitar 103 orang pasien yang menjalani rawat inap setiap harinya, maka hari ini tinggal 30-an orang pasien. Penurunan jumlah pasien rawat inap itu terjadi berkat upaya penanganan terpadu antarinstansi kesehatan kabupaten provinsi, TNI dan Polri, menyusul penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit kuning yang menular tersebut.

“Akumulasinya memang bertambah, namun penderita yang menjalani rawat inap saat ini jauh menurun,” ujar Bupati Pacitan Indartato dalam siaran persnya yang diterima, Rabu (3/7/2019) tadi pagi.

Lebih lanjut Indartato mengatakan, menurut data yang diterima, 30 pasien Hepatitis A yang menjalani rawat inap masing-masing lima orang dirawat di Puskesmas Sudimoro, 20 orang di Puskesmas Ngadirojo, satu orang di Puskesmas Wonokarto, satu orang di Puskesmas Tegalombo, dan tiga orang di RSUD dr Darsono.

Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan dengan pada masa awal Hepatitis A merebak. Pada 19 Juni lalu, jumlah penderita Hepatitis A yang menjalani rawat inap bahkan bisa naik sampai 103 pasien dalam sehari dan bahkan di awal Juli baru lalu sempat hampir menyentuh angka 1.000 penderita.

“Bandingkan dengan sekarang. Dalam kurun dua hari ini saja kasus baru yang masuk dan terdeteksi hanya tiga orang. Semoga terus menurun,” ujar Bupati.

Menurut Indartoto,  Pemkab Pacitan bersama instansi terkait berhasil mengendalikan penularan infeksi virus Hepatitis A dengan upaya penanggulangan intensif, menyusul penetapan penularan penyakit itu sebagai KLB.

Upaya itu berhasil, katanya, karena didukung Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, TNI, Polri, Universitas Airlangga, dan para relawan. “Kalau kasus baru Hepatitis A tidak lagi muncul, maka status KLB kemungkinan baru bisa diakhiri pada pertengahan bulan Juli nanti,” ujarnya.

Bupati menambahkan, Pemkab Pacitan sebelumnya menetapkan status KLB Hepatitis A pada 25 Juni 2019. Saat ditetapkan KLB, jumlah penderita sebanyak 581 pasien. Empat hari berikutnya, meningkat menjadi 957 orang. Jika dirata-rata terjadi lonjakan 100 orang per hari. Banyaknya pasien membuat puskesmas kelebihan pasien dan banyak di antaranya terpaksa dirawat di lorong-lorong puskesmas.

Pemprov Jatim

Sementara itu Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa secara terpisah, pada Selasa (2/7/2019) menjelaskan, Pemprov Jatim akan mencukupi kebutuhan air bersih di wilayah Kabupaten Pacitan dan sekitarnya.

Upaya ini dilakukan untuk meminimalisasi penyebaran virus Hepatitis A yang mewabah di wilayah tersebut. “Saya sudah komunikasi dengan Dinas Kesehatan tentang kecukupan air bersihnya. Sebab, dari awal, problem Hepatitis A ini karena PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), terutama kaitan dengan air bersih,” ujarnya.

Selain itu, penanganan medis juga dioptimalkan, terutama di seluruh puskesmas. Hal ini meliputi, pengecekan dan pengobatan kepada masyarakat, hingga pemberian obat secara gratis.

“Alhamdulilah, sekarang sudah menyusut. Tadinya, virus ini meluas di delapan kecamatan,” ujar Khofifah yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU itu. Agar virus tidak menyebar ke daerah lain, distribusi air bersih juga akan diperluas, terutama untuk wilayah rawan kekeringan. Pasalnya pada tahun ini musim kemarau diprediksi berlangsung hingga 60 hari.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jatim Kohar Hasi Santoso yang mendampingi Gubernur menambahkan, meski masih banyak penderita, namun peningkatannya mulai melandai. Pada 27 Juni lalu misalnya, jumlah penderita 824 orang, kemudian 29 Juni naik menjadi 924 orang. Ada kenaikan hingga 100 orang.

Namun, pada 1 Juli lalu berjumlah 975 orang. “Artinya peningkatannya mulai melandai. Mudah-mudahan betul di lapangan jumlah orang yang sakit hepatitis A di Pacitan tidak semakin bertambah,” katanya.

Kohar mengaku saat ini pihaknya terus menekan angka penularan Hepatitis A, yakni dengan menginstruksikan melakukan penelitian epidemologi. Tak hanya itu, Pemprov Jatimnya juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai perilaku hidup bersih dan sehat.

“Kita sosialisasikan cara yang benar buang air besar, cuci tangan, hingga sediaan air minum yang dikonsumsinya. Kemudian, bagaimana makanan tidak terkontaminasi dan masyarakat tidak membuang sampah sembarangan,” katanya.

Dinkes Jatim menargetkan upaya ini akan membuahkan hasil dengan menekan angka penularan Hepatitis A dalam waktu dua minggu bisa turun. Kohar pun berusaha maksimal untuk menyembuhkan pasien yang telah tertular.

Sebagaimana diberitakan, wabah Hepatitis A di Pacitan mulai merebak sejak Ramadan lalu. Penularan diduga terjadi melalui buah-buahan yang diduga terkontaminasi virus penderita. “Bulan puasa kita biasa makan minum buah yang segar-segar, seperti semangka, melon dan garbis atau blewah dan seterusnya. Rupanya ada yang terkontaminasi virus (Hepatitas A) kemudian menyebar,” tandas Kohar.

Sumber: Suara Pembaruan

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).
Close Menu