Sosok Almarhum Prof. Budi Prasetyo dalam Kenangan Dosen dan Mahasiswa FISIP

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Alm Prof. Dr. Budi Prasetyo, Drs., M.Si saat menyampaikan orasi akademik di Kantor Manajemen UNAIR. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali kehilangan salah satu putra terbaik. Prof. Dr. Budi Prasetyo, Drs., M.Si, atau yang akrab disapa Prof. Budi harus meninggalkan kita semua untuk menghadap Sang Khalik pada Selasa (25/6/2019). Wakil Dekan I FISIP UNAIR tersebut dikenal sebagai sosok yang humoris dan ramah kepada siapapun. Tak hanya kepada rekan sejawat, Prof. Budi juga merupakan dosen yang akrab serta dekat dengan mahasiswa.

Kabar wafatnya Guru Besar Politik Kota tersebut menyisakan duka mendalam bagi semua pihak. Tak terkecuali sivitas akademika FISIP UNAIR yang merasa kehilangan salah satu panutan dalam lingkungan pendidikan.

Dr. Kris Nugroho, MA., dosen sekaligus sahabat almarhum di Departemen Ilmu Politik UNAIR mengungkapkan kenangannya akan sosok Prof. Budi.

“Prof. Budi bagi kami adalah teman yg sangat sangat akrab sekali. Saya dengan beliau sering bercakap-cakap tentang hal-hal yang sifatnya akademik maupun pribadi. Kami akrab, saling memanggil om. Beberapa hari terakhir kami tengah mengurus akreditasi prodi ilmu politik. Beliau yang melakukan inisiasi untuk program tersebut,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Dekan III FISIP UNAIR, Prof. Dra. Myrtati Dyah Artaria, MA, Ph.D yang juga merupakan sahabat almarhum mengaku sempat tak percaya mendengar kabar kepergian Prof. Budi.

“Tadi pagi (Selasa, 25/6/2019, Red), beliau masih kirim foto ke kami, lagi sepedaan di area Sidoarjo terus kirim foto dia lagi istirahat,” ujar Prof. Myrta sembari menunjukkan foto yang dimaksud kepada UNAIR NEWS.

“Dia bilang, ayo semua pada olahraga biar sehat. Dia tiga tahun ini selalu jalan kaki pagi terus minum air banyak. Dia sering cerita ke saya juga. Satu minggu terakhir ini suka naik sepeda,” imbuhnya.

Kesedihan akan berpulangnya Prof. Budi juga dirasakan oleh seluruh mahasiswa FISIP. Sebab, selama ini Prof. Budi merupakan dosen yang dekat dengan mahasiswa. Selain itu sebagai Wakil Dekan I, ia juga selalu mendukung penuh kegiatan-kegiatan positif yang diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa di fakultas.

“Sepanjang interaksi saya dengan beliau, ketika hendak megadakan kegiatan organisasi, beliau bilang, kalau butuh apa-apa untuk kegiatan silakan meminta. Artinya, beliau menaruh perhatian pada kegiatan kami yang berasaskan nilai-nilai Islam,” ungkap Ahmad Ghulam Zaky, Ketua Sie Kerohanian Islam (SKI) FISIP.

Dirinya menambahkan kepedulian almarhum terlihat jelas saat SKI FISIP dipanggil untuk membantu pembentukan takmir mushola. Prof. Budi nampak selalu antusias ketika diundang dalam kegiatan SKI meskipun beberapa kali berhalangan hadir.

Begitupula yang dirasakan oleh Aisyah Danti, mahasiswi Ilmu Politik 2017. Dirinya bercerita begitu banyak kenangan dan pengalaman berharga yang ia dapatkan bersama almarhum Prof. Budi.

“Beliau orang yang super duper baik dan sangat mendukung mahasiswanya. Dan kalau ada masalah sangat solutif. Orangnya ramah, deket banget sama mahasiswa, selalu menyempatkan datang dan memberi dukungan kalau ada kegiatan dari jurusan ilmu politik,” sebut Danti.

Danti juga mengungkapkan salah satu momen berkesan saat bersama almarhum. Suatu hari, ketika dirinya bertugas menjadi pemandu acara, ia sempat berbincang dengan Prof. Budi yang berdiri di sebelahnya. Prof. Budi menanyakan perihal cita-cita Danti. Danti menjawab ingin menjadi Diplomat, namun ia pesimis untuk bisa melanjutkan S2.

Kemudian Prof. Budi menepuk pundaknya seraya berkata, “Nggak ada yang nggak mungkin kok di dunia ini, Nak. Kamu pasti bisa S2. Kamu pasti bisa jadi Diplomat yang baik, saya yakin,” kenang Danti menirukan ucapan almarhum Prof. Budi.

“Danti, Politik 2017, ketika kamu sudah lulus S2,kamu harus ngirim foto kamu ke saya, pembuktian kalau kamu sudah ngalahin rasa takutmu sendiri,” ujarnya tak kuasa menahan air mata.

Kini, Guru Besar yang baik hati itu telah pergi. Namun segala kebaikannya selalu terkenang di hati kami. Selamat jalan Prof, tempat terbaik untukmu telah menanti. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

Binti Q. Masruroh

Binti Q. Masruroh

Alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga

Leave Reply

Close Menu