Direktorat Gizi Masyarakat Kemenkes RI Gandeng FKM UNAIR Tanggulangi Masalah Stunting di Kabupaten Probolinggo

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SUASANA kegiatan workshop di Aula Nanizar Zaman Jonoes, Fakultas Farmasi. (Tunjung Widuri)

UNAIR NEWS – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR bersama Direktorat Gizi Kementerian Kesehatan RI menggelar workshop terkait masalah stunting pada Kamis (20/06/2019). Workshop bertajuk Penyamaan Persepsi Perguruan Tinggi pada Program Pencegahan dan Penanggulangan Stunting di Kabupaten Probolinggo tersebut dilaksanakan di Aula Nanizar Zaman Joenoes Fakultas Farmasi.

Latar belakang kegiatan tersebut dilaksankan karena penyakit stunting merupakan masalah kesehatan kompleks yang tidak hanya disebabkan oleh kurangnya gizi pada balita. Namun juga dikaitkan dengan kemiskinan, kelaparan, pendidikan, kondisi lingkungan, dan sanitasi.

Dr. Sri Sumarmi, S.KM., M.Si selaku koordinator kegiatan workshop mengatakan Kabupaten Probolinggo menjadi salah satu kabupaten lokus stunting terbanyak ketiga di Jawa Timur. Sehingga hal itu perlu mendapat perhatian lebih sebab stunting adalah masalah pembangunan yang kompleks.

‘’Kegiatan workshop ini merupakan langkah awal dari serangkaian kegiatan pendampingan UNAIR di daerah lokus stunting,’’ tutur Dr. Sri Sumarmi.

Ia melanjutkan langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyamakan persepsi antara pihak terkait, salah satunya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Probolinggo. Menurutnya, Bappeda yang berperan sebagai koordinator perlu mengetahui rencana penanggulangan stunting itu.

Fokus penanganan stunting adalah intervensi gizi sensitif sebanyak 70 persen dan gisi spesifik 30 persen. Langkah-langkah aktualisasi kegiatan mencakup internalisasi konsep dan rencana aksi, analisis masalah, sosialisasi hasil analisis data.

Kemudian melakukan perumusan rencana intervensi dan sinkronisasi APBD, advokasi penyusunan regulasi dan peraturan bupati, koordinasi rencana implementasi, implementasi aksi pencegahan dan penanganan stunting, monitoring dan evaluasi, serta perencanaan tahun 2020.

‘’Aktualisasi pendampingan ini diwujudkan dalam KKN tematik yang dilakukan oleh mahasiswa,’’ imbuhnya.

Pada akhir, Dr. Sri Sumarmi berharap pendampingan stunting nantinya tidak hanya berhenti pada FKM UNAIR saja. Namun dapat digiring ke level perguruan tinggi supaya dapat menarik fakultas lain ikut bergabung.

‘’Perlu saya tekankan lagi langkah penanggulangan stunting membutuhkan kerjasama lintas disiplin serta lintas pelaku,’’ pungkasnya.

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu