Lima Mahasiswa UNAIR Manfaatkan Kulit Siwalan untuk Pestisida Organik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PKM M Acar
TIM PKM M Acar saat melakukan proses kegiatan. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Ksatria Airlangga tidak henti untuk terus melakukan kreasi dan karya. Kali ini, lima mahasiswa UNAIR memanfaatkan kulit siwalan menjadi asap cair sebagai pestisida organik. Kegiatan yang lolos pendanaan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian Masyarakat (PKM M) itu, dilakukan  di Desa Semanding, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

PKM M yang diberi nama Tim Asap Cair atau Acar itu terdiri dari Teguh Dwi Saputro mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) angakatan 2015, Tiyani mahasiswa FKp angakatan 2018, Achmad Ferdynan Thomas Irwan mahasiswa FKp angkatan 2018, Novia Tri Handika mahasiswa FKp angkatan 2016, dan Nova Faridatus Sholihah mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi angkatan 2015.

Mengenai hal itu, Teguh selaku salah satu anggota tim mengatakan bahwa siwalan merupakan sejenis tanaman palma (pinang – pinangan, red) yang tumbuh di Indonesia, salah satuunya di Kabupaten Tuban. Pohon siwalan itu, lanjutnya, banyak dimanfaatkan daun, batang, buah, hingga bunganya yang dapat disadap untuk diminum langsung sebagai legen (nira) ataupun diolah menjadi gula siwan (sejenis gula merah).

“Namun pemanfaatan pohon siwalan juga menghasilkan kulit siwalan yang dibuang begitu saja, tanpa diolah kembali, sehingga  menumpuk dan menjadi limbah. Padahal limbah kulit siwalan sebenarnya bisa dimanfaatkan kembali dan mempunyai potensi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Salah satunya dengan memanfaatkannya menjadi asap cair sebagai pestisida organik,” jelasnya.

Selaku pencetus ide, Teguh akhirnya mengajak Tiyani, Achmad Ferdynan Thomas Irwan,Novia Tri Handika, dan Nova Faridatus Sholihah, untuk mengembangkan inovasi dengan memanfaatkan kulit siwalan menjadi asap cair sebagai pestisida organik. Penggunaan pestisida anorganik yang semakin tinggi, jelasnya, disebabkan karena dinilai lebih cepat efeknya dari pada pestisida organic.

“Namun perlu diketahui bahwa penggunaan pestisida anorganik yang tidak terkontrol akan menimbulkan resisten terhadap hama tanaman, kandungan nutrisi tanaman yang bercampur dengan pestisida, lebih mahal jika dibandingkan dengan pestisida organic dan predator alami berkurang serta dapat munculnya hama baru,” paparnya.

Selain itu, lanjut Teguh, pestisida anorganik juga membahayakan lingkungan. Oleh karena itu, inovasi Acar sebagai pestisida organik dapat menjawab permasalahan tersebut. Hal tersebut, tandasnya, juga di dukung dengan data yang diperoleh dari studi literatur yang dilakukan.

“Dari studi itu menunjukan  masyarakat desa Semanding sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani yang menjadikan inovasi Acar sebagai pestisida organik ini tepat sasaran dan nantinya bermanfaat bagi petani,” ungkapnya.

Pada akhir, menambahkan pernyataan Teguh, Tiyani selaku Ketua Tim Acar mengatakan bahwa penggunaan asap cair dari limbah kulit siwalan secara perlahan mampu bersaing dengan pestisida anorganik yang telah marak digunakan oleh masyarakat namun berdampak buruk untuk lingkungan.

“Kami berharap bahwa inovasi ini didukung oleh pemerintah kabupaten Tuban. Kami juga berharap nantinya desa ini bisa menjadi desa percontohan desa arau daerah lain yang mempunyai potensi dan permasalahan yang sama,” pungkasnya.

Penulis: Teguh Dwi Saputro

Editor: Nuri Hermawan

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu