Mudik dan Perayaan Lebaran Harus Perhatikan Kesehatan Diri dan Lingkungan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PROF. DR. H. J. MUKONO, MD., MS., MPH pakar kesehatan lingkungan, fakultas kesehatan masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR). (Foto : Galuh Mega Kurnia)

UNAIR NEWS – Budaya pulang kampung (mudik) sering kali terjadi terutama ketika hari menjelang lebaran. Jumlah masa yang begitu besar memungkinkan berbagai risiko kesehatan dan keselamatan mungkin terjadi baik untuk pelaku mudik maupun untuk lingkungan sekitar. Tidak hanya mudik yang perlu untuk diperhatikan oleh masyarakat dan stakeholder terkait, namun juga salah satu budaya lebaran lainnya yaitu petasan dan kembang api.

Menurut Prof. Dr. H. J. Mukono, MD., MS., MPH, pakar kesehatan lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menjelaskan, kebiasaan sebagian besar masyarakat Indonesia yang memainkan petasan dan kembang api berisiko menjadi penyebab kebakaran. Khususnya kembang api, ledakannya di udara yang menghasilkan kemerlap cahaya ternyata juga berdampak pada pencemaran udara.

“Petasan dan kembang api juga berisiko menjadi penyebab kebakaran. Dan jika terkena tubuh manusia bisa mengakibatkan luka yang cukup parah,” ucap dosen yang akrab disapa Prof. Mukono tersebut.

Selain itu, Prof. Mukono juga memberikan tips mudik agar tetap lancar dan ramah lingkungan. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Santun Berkendara dan Perhatikan Kondisi Kendaraan

Tips pertama adalah terkait dengan kendaraan yang dipakai untuk pulang ke kampung halaman dan tindak tanduk pelaku mudik ketika berkendara. Menurut Prof. Mukono, santun berkendara dengan mengikuti peraturan lalu lintas penting dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan merugikan lingkungan sekitar.

“Begitu pula memastikan kendaraan aman dikendarai untuk mudik penting dilakukan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan ketika di jalan,” ujar Prof. Mukono.

Prof. Mukono juga mengimbau agar para pengendara tetap berhati-hati ketika melalui jalanan yang bagus. Sebab, biasanya ketika melalui jalanan yang bagus pengendara cenderung memacu kecepatan tinggi dan ketika mengantuk atau lalai akan mengakibatkan risiko tinggi terjadinya kecelakaan.

Pakai Helm dan Masker Berstandar Nasional Indonesia (SNI)

Memakai helm dan masker bestandar SNI sifatnya adalah sebagai perlindungan organ tubuh dari benturan dan cidera yang lebih parah. Cukup disayangkan ketika sebagian besar masyarakat masih menaruh perhatian lebih pada helm yang digunakan namun mengabaikan masker motornya.

Padahal, terdapat banyak partikel kecil di udara yang tidak bisa disaring oleh masker biasa atau oleh slayer saja. Sebagai contoh adalah partikel asbes dan partikel karet yang bertebaran di udara. Tidak semua masker dapat menyaring partikel tersebut. Padahal, kedua partikel tersebut bersifat karsinogenik sehingga dapat mengakibatkan kanker apabila terus menerus terakumulasi di dalam tubuh.

“Ada banyak zat dan partikel berbahaya yang bertebaran di jalanan. Masker SNI disini berfungsi untuk menyaring partikel-partikel tersebut namun masih belum bisa menyaring gas,” ucap Prof. Mukono.

Pilih Transportasi Umum

Prof. Mukono cukup mengapresiasi upaya pemerintah untuk menekan banyaknya jumlah pemudik bermotor dengan menyediakan berbagai fasilitas. Diantaranya adalah fasilitas mudik gratis dari pemerintah provinsi jawa timur dan fasilitas pengiriman sepeda motor untuk para pemudik dari kementerian perhubungan. Dengan memanfaatkan fasilitas tersebut, diharapkan dapat menekan angka kejadian kecelakaan lalu lintas.

Jangan Sembarang Jajan dan Pilih Minuman Kemasan Bersegel

Ketika berada di perjalanan, Prof. Mukono menyarankan agar tidak sembarangan membeli makanan dan minuman di jalan. Hindari makanan dan minuman yang dibiarkan terbuka karena berpotensi mengakibatkan food born disease atau penyakit yang disebarkan melalui makanan.

Lebih waspada pada minuman berwarna yang tidak dilampirkan komposisinya. Dikatakan, terdapat zat berbahaya seperti rhodamin B yang sifatnya karsinogenik atau dapat mengakibatkan kanker.

“Hati-hati mengenai makanan dalam perjalanan. Lebih baik minum air mineral bersegel untuk menghindari penyebaran penyakit melalui minuman tersebut,” jelas Prof. Mukono.

Ketika merayakan hari raya pun masyarakat tetap harus memperhatikan makanan yang dikonsumsi. Terlebih bagi orang yang memiliki riwayat penyakit tertentu yang memiliki pantangan makanan atau harus menjaga pola makan. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu