Mengulas Buku dan Meresensi Buku, Apa Bedanya?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
REZA Maulana Hikam (Book reviewer) sedang memberikan materi dalam kegitan PELITA batch 2 pada Selasa (28/5/2019) di Ruang kuliah 4A FKH UNAIR. (Foto: Ransis Putra Gaut).

UNAIR NEWS – Kementerian Keilmuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan Klub Seri Buku dan Departemen Keilmuan BEM Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) menggelar PELITA (Pelatihan literasi) batch 2. Kegiatan itu dilaksanakan pada Selasa (28/5/2019) di Ruang kuliah 4 A FKH UNAIR dan merupakan kelanjutan dari PELITA batch 1.

Hadir sebagai pemateri yakni Reza Maulana Hikam, seorang pengulas buku (Book reviewer). Reza menegaskan ada perbedaan utama dalam mengulas dan meresensi buku. Hal itulah yang selama ini tidak diketahui oleh banyak orang. Banyak orang cenderung menganggap mengulas buku sama dengan merensesi buku.

Merensensi buku kurang lebih sama dengan menjadi sales karena yang diutamakan adalah menyampaikan kelebihan dan kelemahan buku agar menarik minat pembaca. Sedangkan dalam mengulas pastinya ada komparasi yakni membandingkan sebuah buku dengan buku yang lain dalam suatu tema yang sama.

“Kalau kita meresensi buku, yang kita lakukan adalah mengungkapkan kelebihan dan kekurangan dari sebuah buku. Misalnya, buku A menggunakan bahasa yang komunikatif sehingga cocok untuk dibaca oleh berbagai kalangan karena akan mudah dipahami. Sedangkan dalam mengulas buku harus ada komparasi. Misalnya, buku Kewarganegaraan yang ditulis oleh Kaelan kurang mendefinisikan Pancasila secara holistik dan itu sangat berbeda dengan buku kewarganegaraan yang ditulis oleh Yudi Latif yang mendefinisikan Pancasila secara holistik,” tuturnya.

Reza juga menjelaskan bahwa Kecakapan utama yang mesti dimiliki untuk bisa mengulas buku adalah kemampuan parafrase. Reviewer mengembangkan isi buku dalam bahasa yang berbeda dengan tidak menghilangkan makna dari isi buku yang sebenarnya. Hal itu bertujuan agar dalam mengulas isi buku, reviewer tidak hanya menggandakan isi buku yang diulas.

Pada bagian akhir kegiatan, Reza berpesan kepada para peserta yang hadir agar menjadikan ulasanbuku sebagai sebatas hobi. “Jangan menganggap menjadi book reviewer sebagai pekerjaan utama karena itu sangat terbatas. Penerbit-penerbit buku cuman ada 3-4 orang book reviewer-nya. Anggaplah itu sebagai freelance (pekerja lepas) karena paling tidak disitu kita mencitrakan diri kita kepada orang lain,” tambahnya. (*)

Penulis : Ransis Putra Gaut

Editor    : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu