Monkeypox: Masuk ke Singapura, Indonesia Selanjutnya?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi foto oleh Shutterstock
Ilustrasi foto oleh Shutterstock

Pada tahun 1958, seorang dokter sekaligus peneliti di bidang virologi bernama Preben von Magnus dari Copenhagen, Denmarkmelakukan identifikasi terkait monkeypox untuk pertama kali dan melakukan riset dengan menggunakan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Preben von Magnus dikenal sebagai ahli virologi yang fokus pada berbagai riset mengenai virus influenza, polio, dan monkeypox. Selain itu, Preben von Magnus juga dikenal karena Fenomena Von Magnus yang mendeskripsikan sebuah kejadian defective interfering particles (DIPs) yang berkaitan erat pada bahan genetik dari sebuah virus. Fenomena ini pertama kali ditemukannya pada virus influenza yang diperbanyak melalui telur ayam berembrio. Pada tahun 1965, kepakarannya terkait senjata biologis membawanya pada penghargaan bergengsi bernama “Knight of the Order of the Dannebrog”dari pemerintah Denmark.

Monkeypox adalah penyakit yang disebabkan oleh monkeypox virus (MPV). Virus ini memiliki bahan genetik berupa rantai ganda DNA (dsDNA), bersifat zoonosis, dan secara klasifikasi masuk kedalam genus Orthopoxvirusserta famili Poxviridae. Virus ini dapat menginfeksi manusia seperti beberapa anggota famili Poxviridae lainnya, yaitu virus variola (VAR), cowpox (CPX), danvaccinia (VAC).Virus monkeypox menyebabkan penyakit yang mirip dengan smallpox, tetapi dengan ruam yang lebih ringan dan tingkat kematian yang lebih rendah.Virus ini sebagian besar ditemukan di hutan hujan tropis Afrika Tengah dan Afrika Barat. Pada tahun 1970, dilaporkan pertama kali kasus untuk manusia di Republik Demokratik Kongo. Selain itu, artikel ilmiah dari Breman et al di Bulletin of the World Health Organization(Vol. 58), menemukan variasi dalam virulensi virus pada isolat dari Afrika Tengah dan memiliki sifat lebih virulen dibandingkan virus dari Afrika Barat.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat merilis bahwavirus monkeypox dapat menyebar baik dari hewan ke manusia maupun dari manusia ke manusia. Infeksi dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan hewan atau melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi. Virus ini dapat menyebar dari manusia ke manusia melalui kontak dari berbagai cairan tubuh dari orang yang terinfeksi. Gejala awal penyakit ini termasuk pembengkakan kelenjar getah bening(limfadenopati), nyeri otot (mialgia), sakit kepala, demam, dan munculnya ruam. Masa inkubasi penyakit ini adalah sekitar 10-14 hari.

Masuk ke Indonesia dan Bagaimana Penelitian Monkeypox di Indonesia?

Pada 9 Mei lalu, Kementerian Kesehatan (MOH) Singapura merilis informasi resmi di laman web bahwa telah ada infeksi oleh virus monkeypox di Singapura. Pasien tersebut adalah warga negara Nigeria dan dirawat di Pusat Penyakit Menular Nasional (NCID), Singapura. Hal tersebut membuat pemerintah Singapura memperketat pengawasan terhadap apapun yang berkaitan dengan penyebaran penyakit monkeypox, termasuk perdagangan satwa lintas negara dan keimigrasian.

Tidak hanya itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia menghimbau untuk warga negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah terjangkit monkeypox untuk segera memeriksakan dirinya bila mengalami gejala-gejala terkait penyakit monkeypox. Disisi lain, beruntungnya hingga kini penyakit monkeypox belum ditemukan di Indonesia. Hal ini berdasarkan keterangan terkini dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia.

Untuk mencegah penyebaran penyakit monkeypox ke Indonesia, seharusnya pemerintah Republik Indonesia melalui kementerian terkait, seperti Kementerian Pertanian dan Kementerian Kesehatan untuk melakukan pencegahan-pencegahan dinisecepatnya sebelum terjadi wabah. Sejumlah penyakit zoonosis yang masuk pada daftar penyakit hewan menular strategis di Indonesia yaitu rabies, anthraks, flu burung, salmonellosis, dan brucellosis.Disisi lain, sejalan dengan semakin meningkatnya globalisasi dan perdagangan bebas akan memunculkan agen biological warfaredan bioterorisme yang sifatnya zoonosis.Selain itu, adanyaisu-isu mutakhir yang berhubungan dengan emerging and re-emerging zoonoses, maka sudah saatnya seluruh peraturan perundangan yang berkaitan dengan bidang penyakit zoonosis dikaji ulang oleh pemerintah.

Menurut artikel ilmiah yang ditulis oleh Brown dan terbit di Revue Scientifique Et Technique International Office of Epizootics (Vol 23), monkeypox adalah salah satu emerging zoonoses yang muncul 20 tahun terakhir ini. Selain itu, berbagai faktor yang dianggap memiliki kontribusi terhadap munculnya emerging zoonoses adalah globalisasi perdagangan, perusakan habitat hewan liar, pertumbuhan populasi manusia, perubahan peternakan dan teknologi produksi, perubahan lingkungan, ekspansi populasi manusia pada wilayah yang sebelumnya tidak dihuni, mikroba yang berkaitan dengan satwa liar, dan intensifikasi pemeliharaan satwa liar.

Munculnya suatu emerging zoonoses tidak dapat diprediksi dan setiap penyakit baru muncul dari sumber yang tidak diduga sebelumnya. Tapi, hal yang diketahui pasti adalah penyakit zoonosis akan lebih banyak lagi terjadi di masa depan dan harus dipersiapkan secara baik untuk menghadapi kemungkinan terburuk. Pemerintah perlu menetapkan sejumlah poin penting untuk memperkuat kapasitas dan strategi kemitraan antara pemerintah dan swasta. Misalnya adalah melakukan penelitian terintegrasi yang lebih intensif dari sebelumnya antara kesehatan manusia dan kesehatan hewan.            

Di Indonesia, belum ada instansi riset milik pemerintah maupun swasta yang bergerak pada penelitian terkait monkeypox. Padahal, Indonesia bisa jadi adalah salah satu negara potensial untuk terjangkit penyakit ini. Publikasi ilmiah terkait monkeypox yang dilakukan oleh peneliti dari Indonesia juga tidak ada, baik yang berhubungan dengan lapangan maupun eksperimental di laboratorium. Laporan terkahir terkait riset monkeypoxdi kawasan Indonesia dipublikasikan oleh Arita et al diBulletin of the World Health Organization (Vol. 46)dengan bertopik survei serologi pada primata.

Berita Terkait

Arif Nur Muhammad Ansori, S.Si.

Arif Nur Muhammad Ansori, S.Si.

Penulis adalah Bachelor of Science (B.Sc) Biologi, lulusan Universitas Airlangga. Penerima hibah dari IRCMs - Kumamoto University untuk program magang penelitian pada Januari 2017. Asisten dosen di Fakultas Sains dan Teknologi UNAIR, dan anggota Kelompok Studi Herpetologi FST Universitas Airlangga, serta asisten penelitian di Taman Husada Graha Famili Kebun Tanaman Obat (proyek kolaborasi antara UNAIR dan PT Intiland Development Tbk.)

Leave Replay

Close Menu