“Kaskara” sebagai Solusi Permasalahan Limbah Ala Mahasiswa PSDKU Banyuwangi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
BANGGA: Proses penyerahan Piala juara 3 Business Plan Competition kepada Yarshinta dan tim (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA) Pendidikan Di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Airlangga, pekan lalu  mengadakan Lomba Accounting business Plan Competition (ABC) 2019. Bertempat di Aula Minak Jinggo, lomba tersebut terbuka untuk siswa SMA/SMK sederajat dan mahasiswa se-Jawa Timur dan Bali. Dalam laga itu, menghasilkan 3 juara yang salah satunya berasal dari mahasiswa PSDKU UNAIR Banyuwangi.

Ditemui UNAIR NEWS, Yarshinta Aprilia Marshanty (FKM 2016) perwakilan tim yang mendapatkan juara tiga tingkat mahasiswa dalam lomba tersebut, menceritakan alasannya dalam mengikuti lomba bahwa pada awalnya pihaknya sudah pernah membahas hal itu pada lomba sebelumnya dengan nama produk yaitu “Kaskara”.

“Namun yang membedakan adalah saat ini lebih di upgrade, dengan bahan baku sama namun ada hal-hal lain yang ditambahkan,” ungkapnya

Produk “Kaskara” yang merupakan karya tim dengan beranggotakan 2 orang lainnya yaitu Rahmasuciani Putri (FKM 2016) dan Melan Argarini (FEB 2017) itu, menjadi solusi adanya permasalahan limbah di Gombengsari, Banyuwangi. Produk Kaskara, lanjutnya, adalah produk teh dari kulit kopi yang telah dikeringkan, setelah itu dapat di konsumsi sebagai teh.

“Dan untuk saat ini kopi yang banyak di pakai adalah jenis exsalsa. Produk ini Sebenarnya telah ada di Indonesia, hadir sebagai produk minuman sejak dahulu. Namun, belum terlalu terkenal dan masih rendah jika di Indonesia, padahal  memiliki nilai ekonomi yang tinggi,” jelasnya

Produk itu, imbuh mahasiswa yang akrab disapa Yarshinta, juga memperhatikan unsur kesehatan. Pasalnya, kesehatan dinilai bukan hanya pada manusia saja namun juga lingkungan. Sehingga produk itu dirasa menjadi suatu hal yang perlu.

“Coba saja jika dibayangkan, kalau ada banyak hasil kopi namun yang digunakan hanya biji nya saja, sedangkan limbah kulit nya yang begitu banyak hanya digunakan sebagai pakan ternak dan pupuk kompos dimana nilai ekonominya cukup rendah, jika dibandingkan produk ini,” lanjutnya

Tidak hanya itu, menurutnya, faktor kesehatan lainnya adalah ketika “Kaskara” sudah masuk ke penjualan, sebagian hasil penjualan tersebut akan di donasikan untuk asuransi kesehatan petani kopi, agar mereka punya asuransi seperti BPJS.

“Sehingga memastikan mereka tetap memiliki asuransi kesehatan, dan ketika bekerja kemudian mengalami kondisi kurang baik dapat ke yankes dengan mudah serta mendukung target Indonesia yaitu Universal Health Coverage,” tambahnya

Mahasiswa prodi Kesehatan Masyarakat yang juga biasa disapa Yars itu mengungkapkan hal yang ia rasakan saat mengikuti lomba tersebut. Background keahlian yang berbeda mengenai bisnis, lanjutnya, menjadi tantangan utama di dalam mengikuti lomba itu. Namun, hal tersebut bukanlah masalah yang berarti bagi tim ini.

“Bahwasanya, coba aja karena pengalaman itu mahal strategi. Walaupun kalian pernah sekali ikut  mencoba dan itupun gagal setidaknya kamu mendapatkan pengalaman yang akan sangat berguna di kemudian hari,” tutupnya.

Penulis: Athiya Adibatul Wasi

Editor: Nuri Hermawan

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu