BEM FISIP dan Airlangga Bonek Diskusikan Kultur Masyarakat Sepak Bola

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Suasana diskusi refleksi kultur masyarakat dalam hal mendukung sepak bola, di taman belakang FISIP UNAIR, pada Jumat (17/05/2019). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar diskusi mengenai refleksi kultur masyarakat, khususnya dalam hal sepak bola. Bekerja sama dengan Airlangga Bonek (AIRBONE) dan Bawah Skor Mandala, lahirlah diskusi dengan tema bahasan “Mengkontruksi Identitas dan Budaya Mendukung Klub Sepak Bola”.

Pemateri yang hadir yaitu Donny P. Timur dari Airlangga Bonek dan Dimaz Maulana dari Bawahskor. Diskusi tersebut diselenggarakan mengingat dinamika dan maraknya polemik setiap orang yang mendukung klub kebanggannya masing-masing. Diskusi digelar pada Jumat (17/05/2019) di taman belakang FISIP UNAIR.

Dalam diskusi tersebut, Donny menjelaskan mengenai subkultur regional Surabaya yang berawal dari sebuah kerajaan, dan Surabaya termasuk bagian dari kerajaan maritim terbesar. Jawa Timur sendiri memiliki budaya yang dibagi empat, di antaranya Madura Pulau, Arek, Mataraman, dan Pandalungan.

“Surabaya dengan budaya Arek-nya hampir mirip dengan budaya egaliter, dimana ada yang namanya aku ya aku, kamu ya kamu. Dan kita semua yang berada di Surabaya sudah jelas tidak ada yang bisa mengatur. Dari zaman penjajahan, mengusir mallaby, hingga sekarang dalam konteks bonek,” ungkap Donny.

Menurut Donny, bonek sebagai subkultur sepakbola di Surabaya mewarisi hal tersebut. Tercermin ketika dalam tatanan bonek hingga saat ini tidak ada strata struktur untuk bisa dan boleh mengatur atau dalam arti mengetuai.

“Tetapi tidak masalah ketika kita membentuk circle-circle dalam mendukung sepak bola. Asalkan di antara circle kita dan lainnya itu poinnya sama, tidak ada yang lebih tinggi atau rendah. Itulah ikhwal terjadinya bahwa budaya lama itu merambat hingga konteks sepak bola,” tegasnya.

Dimaz pada sesi kedua lebih memaparkan kisahnya ketika melihat sepakbola di Britania Raya. Ia menceritakan tentang perjalanannya saat berada di beberapa stadion yang berada di kota Liverpoll, Manchester, Nottingham, dan London.

“Intinya ketika saya berkunjung ke sana, pikiran saya lebih terbuka luas untuk dapat melihat kultur dari persepakbolaan dan juga dapat merefleksikannya ketika saya kembali lagi ke Mandala Krida. Karena saya sendiri sudah mengikuti liga Inggris sejak saya kecil,” ujarnya.

Diskusi kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab dan berbagi pengalaman dari pemateri dan peserta diskusi, yang dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Tidak hanya bonek dari UNAIR, hadir pula bonek dari beberapa kampus, di antaranya, Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), dan Universitas Dr. Soetomo (UNITOMO). (*)

Para peserta diskusi yang hadir dari beberapa kampus di Surabaya. (Foto: Istimewa)

Penulis: Wildan Ibrahimsyah

Editor: Binti Q. Masruroh

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu