Geliat Hijrah Menggugah Teguh Menulis Buku

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
TEGUH Imami, penulis buku Hijrah Milenial. (Foto: Istimewa).
TEGUH Imami, penulis buku Hijrah Milenial. (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Berawal dari keresahan melihat fenomena hijrah di Indonesia, Teguh Imami, alumnus Ilmu Sejarah UNAIR, menulis buku. Menurutnya, geliat hijrah saat ini menjadi fenomena yang berkembang pesat di tengah masyarakat.

Pria yang kerap di sapa Teguh itu mengatakan, setidaknya ada empat fenomena hijrah yang tengah berkembang. Pertama, banyaknya artis yang mulai berhijrah. Kedua, berkeriapannya event islami yang mengajak hijrah. Ketiga, munculnya komunitas-komunitas hijrah. Dan, yang keempat, tertariknya generasi milenial untuk berhijrah.

”Dimulai dari artis-artis seperti Teuku Wisnu dan Arie Untung. Lalu, komunitas-komunitas islami seperti Muslim United, Islamic Fest, Pemuda Shift, Kaft, sampai Airlangga Hijrah,” ujar Teguh.

”Dan, yang menariknya itu generasi (muda, Red) milenial. Ketika saya tanya kenapa kok hijrah? Ternyata jawabannya karena sering lihat film-film islami, lihat ceramah ustad di Youtube, mendengarkan tausyiah di radio, sampai mengikuti kajian yang tema-temanya tentang pernikahan,” tambahnya.

Dengan mengamati fenomena itu, Teguh ingin menunjukkan kepada masyarakat. Bahwa, fenomena hijrah milenial itu benar-benar terjadi. Dan didukung penuh oleh perkembangan media sosial.

Karena itu, lewat buku barunya berjudul Hijrah Milenial, Teguh ingin menyuguhkan analisis gagasannya yang tertuang dalam dua bab. Bab pertama bercerita tentang kisah hijrah sembilan pemuda yang punya jalan berbeda-beda. Dan, bab Kedua mengulas tentang bagaimana munculnya komunitas-komunitas hijrah di Indonesia.

”Kesemuanya punya jalan yang berbeda dalam berhijrah. Dan, itu dipengaruhi oleh gerakan komunitas islami seperti salah satunya oleh pemuda Shift dari Ustadz Hanan Attaki yang sering memposting tentang kebaikan di Instagram dan Youtube,” terangnya.

Diakui Teguh, mengerjakan dua bab itu dilaluinya bukan tanpa hambatan. Sebab, dia harus bekerja di Suaramuslim.net pada pagi sampai sore. Serta menjadi supervisor Markaz Ksatria pada malam hari.

”Lalu kapan saya menulis? Yaitu, ketika kebanyakan orang sedang tidur. Waktu sepertiga malam, saya menyelesaikan buku ini selama setahun. Rasanya berat menulis buku ini, apalagi jenis buku pemikiran, tapi saya percaya dulu Ibnu Khaldun dan Imam Al-Ghazali itu menulis buku dengan waktu yang sangat sedikit,” ucapnya.

Setelah diterbitkan, Teguh punya tiga harapan besar kepada masyarakat. Pertama, dia ingin agar aktivis yang sering aktif dalam berorganisasi mau untuk menulis buku. Kedua, Teguh menyeru kepada teman yang hijrah agar mau meniti proses hijrah yang panjang secara istiqomah.

Dan, yang ketiga, Teguh berharap generasi muda kembali gemar membaca buku. Sebab, menurutnya, pemuda saat ini lebih tertarik dengan game dan Youtube.

”Jadi, saya pingin literasi itu kembali dibangkitkan oleh generasi milenial,” ujar mantan Sekjen UKMKI tersebut.

 

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu