Dr. Agus Suwignyo, M.A (kanan) sedang menyampaikan isi buku yang ditulisnya dalam kegiatan bedah buku yang diselenggarakan oleh Departemen Sejarah FIB UNAIR dan Selarung Institute, Pada Rabu (8/5/2019) di Ruang Siti Parwati FIB UNAIR. (Foto: Ransis Putra Gaut).
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerjasama dengan Selarung Institute menggelar kegiatan bedah buku pada Rabu (8/5/2019) di Ruang Siti Parwati FIB UNAIR. Buku itu berjudul “Pendidikan, Kekuasaan, dan Kolonialisme” yang ditulis oleh Dr. Agus Suwignyo, M.A.

Hadir sebagai pembedah yakni Dr. Sarkawi B. Husein, S.S., M. Hum dan Dr. Agus Suwignyo, M.A sebagai pembicara. Berkaitan dengan buku yang ditulisnya, Dr. Agus menjelaskan saat ini kajian tentang sejarah pendidikan di Indonesia masih langka.

“Pada era 1980-an cukup banyak yang menulis tentang sejarah Pendidikan. Namun, pada era 1990-an mulai berkurang dan pada era 2000-an hanyalah kompilasi dari tulisan-tulisan pada era sebelumnya,” tutur Agus.

Lebih lanjut, Dr. Agus mengatakan bahwa dinamika Pendidikan di Indonesia lebih mengarah kepada continue dari pada change. Model Pendidikan di Indonesia lebih banyak mewarisi sistem Pendidikan ketika Indonesia dijajah oleh Belanda.

Sementara itu, Dr. Sarkawi mengafirmasi pernyataan yang disampaikan oleh Dr. Agus. Ia mengungkapkan bahwa paling tampak dari fenomena itu ialah masih banyaknya sekolah-sekolah eksklusif yang ada di Indonesia. Ada sekolah-sekolah khusus untuk orang Islam, sekolah-sekolah khusus untuk orang Kristen. Fenomena tersebut merupakan warisan model Pendidikan zaman Belanda di masa lalu layaknya sekolah khusus untuk orang pribumi dan non-pribumi saat penjajahan Belanda.

Fenomena sekolah eksklusif tersebut sangat berbahaya bagi eksistensi Indonesia sebagai bangsa yang majemuk. Hal itu akan berpotensi menanamkan benih konflik pada lingkungan masyarakat. “Dalam riset yang kami lakukan beberapa waktu lalu di sebelas kota di Indonesia, ditemukan bahwa potensi konflik meningkat. Dan sepengamatan kami, itu ada kaitannya dengan maraknya sekolah-sekolah eksklusif yang ada di Indonesia,” pusngkasnya.

Sebelum kegiatan berakihir, Dr. Sarkawi menganjurkan kepada seluruh peserta untuk membaca buku tulisan Dr. Agus tersebut. “Buku ini mesti dibaca, isinya komprehensif untuk membantu pemahaman kita tentang dinamika dan problem yang ada dalam sistem pendidikan di Indonesia saat ini,” tambahnya. (*)

 

Penulis : Ransis Putra Gaut

Editor    : Khefti Al Mawalia

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone