Mawapres FPK 2018: Bidikmisi Adalah Tombak Prestasi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Shindy Novian A’yun saat menerima penghargaan Best Presentator in Cluster Food and Agriculture at CISAK, South Korea 2019 pada awal April lalu. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Menjadi bagian dari Bidikmisi (Bantuan Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi) bukan berarti menghambat  mahasiswa untuk berprestasi. Bidikmisi adalah suatu tombak prestasi dan melengkapi kekurangan kita sebagai mahasiswa.

Hal itulah yang disampaikan oleh Shindy Novi A’yun, mahasiswa program studi Teknologi Hasil Perikanan (THP) tahun ketiga Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR).

Bermula dari terancam tidak bisa kuliah karena orang tua terkendala biaya justru tidak menjadikan Shindy putus asa. Ia justru bertekad kuat untuk kuliah tanpa memakai uang orang tua sepeserpun. Bahkan, ia sudah menyiapkan diri untuk bekerja di luar negeri selama satu tahun apabila tidak diterima di UNAIR.

Nampaknya, Tuhan membuka jalan untuk Shindy. Ia dinyatakan diterima di UNAIR melalui jalur Seleksi Bersama masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) sebagai mahasiswa Bidikmisi.

Dituntut Pandai Mengelola Keuangan

“Jadi saya hitung dari dana itu (600 ribu, Red) berapa persen kebutuhan kuliah, 10 persen untuk kebutuhan bulanan, yang lain itu untuk makan,” kata Shindy menjelaskan cara ia mengelola keuangan bulanan dari Bidikmisi.

Seperti mahasiswa Bidikmisi lainnya, Shindy dituntut untuk mampu mengelola keuangan dengan baik. Baik untuk kebutuhan perkuliahan maupun kebutuhan hidup sehari-hari.

Selain itu Shindy menambahkan bahwa dirinya juga mencari beasiswa lain yang memungkinkan bagi mahasiswa Bidikmisi. Shindy menyebutkan bahwa di tempat asalnya, Kediri, ada beasiswa untuk mahasiswa berprestasi dengan syarat antara lain nilai IPK. Selain mencari beasiswa, Shindy juga mencari hunian yang gratis.

“Saya menyadari semakin tua semesternya membutuhkan uang untuk penelitian. Jadi bagaimana saya bisa menggunakan uang Bidikmisi saya sehingga kebutuhan sendiri harus dikurangi,” ungkap Shindy.

Oleh karena itulah Shindy mencari tempat tinggal yang lebih terjangkau. Pada pendaftaran di salah satu asrama di Surabaya, Shindy menjadi bagian dari sebanyak delapan belas mahasiswa yang diterima dari sembilan puluh pendaftar. Menjadi sebuah keberuntungan bagi Shindy, setelah melewati tes masuk berupa baca Alquran, ia dinyatakan diterima dan bebas biaya kos bahkan mendapat jatah makan dan uang saku.

Selama berkuliah di UNAIR, Shindy mengikuti beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), seperti UKM Bola Voli, UKMP Kependudukan, forum daerah, serta Food Processing Club (FPC) yang ada di FPK. Soal keikutsertaan UKM di kampus, Shindy mengatakan bahwa organisasi mendidik mahasiswa untuk lebih kuat dan bisa ditempatkan dimana saja ketika lulus nanti.

Kuliah dari Uang Rakyat

“Saya ini kuliah dibiayai oleh uang masyarakat. Memang yang membiayai pemerintah, tetapi kan uang ini adalah uang dari masyarakat yang diberikan melalui membayar pajak,” tegas Shindy.

“Mungkin juga itu uang yang berasal dari seorang bapak-bapak yang tidak punya uang dan bekerja keras menggarap sawah tiap harinya,” lanjutnya menjelaskan alasan mengenai mahasiswa Bidikmisi yang harus berprestasi.

Shindy menekankan, mahasiswa Bidikmisi harus tahu diri bahwa sebenarnya selama kuliah mereka dibiayai oleh masyakarat. Untuk itu, ia memacu diri sendiri untuk berprestasi sebanyak mungkin.

Ia menyatakan bahwa penerima beasiswa dari negara seperti dirinya tidak mungkin bisa mengikuti program pertukaran mahasiswa karena akan memolor waktu. Namun, Shindy tetap berusaha agar bisa mengikuti program pertukaran mahasiswa dengan cara memiliki relasi yang baik dengan dosen agar bisa dengan mudah berkonsultasi. Berkat usaha itu, Shindy mampu mengikuti student exchange di Universiti Putra Malaysia (UPM) pada tahun 2018.

Adapun prestasi-prestasi yang berhasil diraih Shindy selama berkuliah di UNAIR antara lain Delegation Faculty for Student Assimilation Programme at UMT 2017, Student Exchange AUN-ACTS Programme at UPM 2018, Mahasiswa Berprestasi FPK UNAIR 2018, Field Work Programme Practice at Kasetsart University Thailand 2019, Best Presentator in Cluster Food and Agriculture at CISAK, South Korea 2019, dan masih banyak lainnya.

“Semangat buat teman-teman Bidikmisi semua. Jangan merasa minder kalau kalian memang latar belakang orang yang tidak punya. Itu justru titik balik kita untuk menjadi orang yang lebih baik ke depan, untuk keluarga dan indonesia yang lebih makmur lagi,” pesan Shindy untuk seluruh mahasiswa Bidikmisi UNAIR. (*)

Penulis: Dhea Meidiana

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu