Membongkar Sisi Gelap Eksploitasi Melalui Nobar dan Diskusi Film

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Para nara sumber diskusi film Sexy Killers, di Ruang Pusat Studi Gedung C FH UNAIR, Kamis (11/04). (Foto: Wildan Ibrahimsyah)

UNAIR NEWS – Film dokumenter berjudul Sexy Killers yang diluncurkan WatchDoc merupakan film terbaru yang diproduksi oleh tim Ekspedisi Indonesia Biru. Film dokumenter ini merupakan rilisan terakhir dari pembuatan film-film sebelumnya yang telah berjalan selama setahun. Hampir lebih dari 10 kota menggelar nobar film ini, yang ternyata cukup menarik perhatian beberapa komunitas dan kalangan akademisi.

Menyikapi antusias tersebut, Human Rights Law Studies (HRLS) Universitas Airlangga bersama Komite Mahasiswa Hukum Airlangga (KOMAHi) dan Forum Studi & Advokasi Mahasiswa Fakultas Hukum (ForSAM FH), menggelar nobar dan diskusi film tersebut sebagai bentuk upaya merawat critical thinking. Pemutaran film yang diadakan di Ruang Pusat Studi Gedung C FH itu berlangsung pada Kamis (11/04/2019).

Pemateri yang hadir di antaranya koordinator ForSAM FH UNAIR Muhammad Zuhri, dosen Ilmu Politik FISIP UNAIR Airlangga Pribadi, PhD., Ketua Pusat Studi Hukum HAM/HRLS FH UNAIR Dr. Herlambang P. Wiratraman.

Film berdurasi 88 menit tersebut menceritakan tentang eksploitasi batu bara yang sebelumnya belum pernah diungkap. Pada alur filmnya terdapat gambaran fenomena bekas-bekas penggalian, dampak dari ekspoitasi dan industri PLTU, perjuangan setiap orang dalam mempertahankan haknya, hingga membongkar aktor-aktor di balik semua peristiwa tersebut.

Zuhri mengungkapkan keprihatinannya terhadap lingkungan hidup di Indonesia. Menurutnya, banyak komunitas mahasiswa dan masyarakat yang sudah peduli pada isu-isu lingkungan hidup, namun realitanya, lingkungan hidup ini juga banyak dirusak oleh para oligarki. Terkait hukum pun masih perlu dipertanyakan.

“Dalam Pasal 66 UU PPLH menyebutkan, setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup bebas dari tuntutan pidana maupun perdata. Namun pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang dikriminalisasi,” tegasnya.

Sementara itu, Airlangga atau yang kerap dipanggil Angga, menjelaskan fenomena eksploitasi dari sisi ekonomi politik. Dimana dalam teori ekopol aktor-aktor politik tidak hanya saling bertarung, tetapi ada negosisasi di dalamnya. Ini menunjukkan sebagaimana sistem kapitalisme bekerja. Adanya istilah invisible hand memang cukup nyata dalam teori dan film tersebut.

“Dengan teori primitive accumulation, dimana sistem kapitalisme harus bisa survive dengan cara mencari, menguasasi, menghancurkan, dan mengusir, yang semuanya itu diperindah dengan jargon yang mungkin masyarakat tak menyadarinya,” ungkapnya.

Sexy Killers berhasil membongkar, ternyata, ada banyak kekerasan hajat hidup dan lingkungan. Menurutnya, di indonesia ada satu hal dari keistimewaan itu yang tidak ditampilkan dalam film tersebut.

“Ada satu yang hilang ketika kita melihatnya dari perspektif sejarah, yaitu bagaimana peran Soeharto dalam proses penghancuran dan perampasan,” jelasnya.

Dari segi pembuatan film, Helambang mengapresiasi bahwa film tersebut sangat menarik untuk dibuat diskusi.  Apa yang telah dilakukan oleh dua orang dengan perjalanan setahun keliling Indonesia dengan naik motor, menurutnya bukan sekadar pembuat film biasa.

“Mereka melakukan riset mendalam tentang ekonomi, bukti, hukum, sosial budaya, hingga adat. Jadi apresiasi saya terkait proses-proses kerja intelektualnya melampaui rata-rata seorang akademisi,” tuturnya. (*)

Penulis: Wildan Ibrahimsyah

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu