Kebersihan Gigi dan Mulut, Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Usai

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
KETUA Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat FKG UNAIR. Dr. Taufan Bramantoro, drg., M. Kes. (Foto: Istimewa)
KETUA Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat FKG UNAIR. Dr. Taufan Bramantoro, drg., M. Kes. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – FDI World Dental Federation menetapkan “Say Ahh: Act on Mouth Health” sebagai tema World Oral Health Day 2019 yang jatuh pada Rabu (20/3/2019). Tema itu dipilih sebagai imbauan kepada masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga, ditemukan sebuah penemuan yang menarik. Topik mengenai gigi dan mulut menjadi hal yang jarang diakses dalam mesin pencari informasi.

Kenyataan tersebut menjadi tantangan bagi para penggiat kesehatan gigi masyarakat. Tepatnya untuk terus berinovasi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut. Hal itu diungkapkan oleh Dr. Taufan Bramantoro, drg., M. Kes., ketua Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat FKG UNAIR.

”Karies gigi dan karang gigi masih menjadi dua permasalahan utama yang sering terjadi di masyarakat,” terang Dr. Taufan saat ditemui di Departemen IKGM FKG UNAIR.

Sebagian masyarakat menilai bahwa kesehatan gigi dan mulut bukan merupakan sesuatu yang krusial. Dalam Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, proporsi masalah gigi dan mulut mencapai 57,6 persen. Sementara, proporsi perilaku menyikat gigi dengan benar hanya 2,8 persen. Di lain sisi, banyak sekali penelitian yang menjelaskan mengenai pengaruh kesehatan gigi dan mulut dengan kesehatan serta kualitas hidup seseorang secara umum.

Bahkan, sebuah data di Amerika menyebutkan bahwa sedikitnya 53 juta jam belajar anak sekolah dasar di sana hilang karena masalah gigi dan mulut. Masalah kesehatan gigi dan mulut pada anak juga dapat mempengaruhi fungsi pengucapan serta menghambat masuknya makanan sehingga dapat mempengaruhi kualitas gizi seorang anak.

”Begitu juga dengan beberapa penelitian terkait pengaruh masalah gigi dan mulut dengan ibu hamil. Di mana hal tersebut dapat menjadi faktor pemicu terjadinya kelahiran prematur atau pun juga preeklamsia,” jelasnya.

Lantas, mengapa permasalahan gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan seseorang? Menurut Dr. Taufan, di dalam mulut terdapat banyak bakteri. Sementara, gigi sendiri memiliki struktur yang terhubung dengan jaringan pembuluh darah lain pada tubuh.

Ketika terjadi kerusakan, areal pembuluh darah akan terbuka dan memicu infeksi. Bila tidak ditangani lebih lanjut, itu dapat menyebabkan penyakit lainnya.

”Gejala yang terlihat tidak selalu rasa sakit. Tapi, ketika gigi sudah mulai berlubang atau gusinya berwarna kemerahan hingga mengeluarkan darah, itu tanda-tanda bahwa sudah terjadi suatu peradangan. Harusnya jangan tunggu parah dulu baru periksa,” imbuhnya.

Persoalan lain terkait kesehatan gigi dan mulut adalah perawatan gigi yang tidak sesuai prosedur. Dr. Taufan memberikan contoh, di mana terdapat kasus pemasangan gigi palsu oleh yang bukan ahli dengan tidak semestinya. Pada kemudian hari, sang pasien mengalami infeksi dan berakibat pada penyakit kanker rongga mulut. Hal-hal seperti itulah yang kemudian menjadi alasan penting untuk mengampanyekan pentingnya kesehatan gigi dan mulut.

”Selama ini berbagai kebijakan memang telah dilakukan baik dalam skala kecil maupun besar. Namun, belum maksimal karena masih dilakukan secara parsial. Sehingga diperlukan suatu upaya yang lebih komprehensif, baik dari segi kebijakan pemerintah, sumber daya manusia dan pendekatan kepada masyarakat,” pungkasnya. (*)

 

Penulis: Nabila Amelia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

 

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu