Iqyu Widya raih predikat wisudawan terbaik S1 FPK. (Ilustrasi: Feri Fenoria Rifai)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – “Katika saya sangat jenuh, saya memikirkan bagaimana nasib orang tua saya yang bekerja keras untuk menguliahkan saya.” Begitulah petikan kata yang menjadi motivasi Iqyu, mahasiswa FPK angkatan 2015 yang dinobatkan menjadi wisudawan terbaik periode Maret 2019.

Menurutnya, ketika berkuliah artinya ia harus berani berkomitmen untuk meluluskannya, meskipun pasti ada saja hambatan didalam perjalanannya. Kata-kata tersebut yang menjadi dasar bagi Iqyu dalam menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin.

Meskipun berhasil lulus 3,5 tahun dengan IPK cumlaude, wisudawan kelahiran Pacitan tersebut pernah salah persepsi tentang kuliah. Ia kira kuliah merupakan hal yang mudah seperti yang ada di ftv. Namun, ternyata ia justru mendapat banyak tugas kuliah baik secara online maupun offline di awal perkuliahan.

“Ada statement bahwa kuliah enak cuma di ftv doang, ya saya sangat setuju sekali, apalagi saat proses pengerjaan skripsi, sangat jauh berbeda dengan ftv,” ujarnya.

Menjadi Asisten Dosen mata kuliah Mikrobiologi dan berhasil memperoleh 2 beasiswa selama berkuliah, menjadi pemacu semangat Iqyu dalam berkuliah, hingga dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S1 FPK periode Maret 2019.

“Menjadi wisudawan terbaik adalah prestasi terbaik saya, awalnya saya tidak terlalu memikirkan bagaimana IPK saya, mimpi yang saya pikir hanya sebatas mimpi anak kuliahan kemudian dijabah oleh Allah SWT, Alhamdulillah,” imbuhnya.

Selain aktif membantu dosen dalam mata kuliah Mikrobiologi, wisudawan yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara tersebut juga aktif mengikuti organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan dan juga bekerja sebagai tenaga bimbingan belajar. Karena menurutnya selama kuliah harus perbanyak pengalaman atau wawasan, tidak hanya dibidang akademik saja.

Baginya, hal terberat saat menyelesaikan studi S1 yaitu proses skripsi. Karena hal tersebut sangat menguras fisik, pikiran, dan materi. Selain itu, ia harus melakukan revisi kepada dosen pembimbing ketika yang lain sedang liburan, dan juga harus bimbingan, di saat yang lain sedang tidur-tiduran, hingga drama-drama skripsi yang lain. Namun duka skripsi tidak terlalu berpengaruh baginya, karena ia percaya, dibalik duka pasti ada suka, dan ketika lelah datang pasti ada berkah.

“Saya percaya bahwa banyak sekali orang disekelilingmu yang menginginkan posisimu saat ini, berkuliah sesuai keinginanmu, berkuliah sesuai Universitas impianmu, maka salah satu tips untuk menjadi mahasiswa berprestasi yaitu NIAT dan USAHA,” pungkasnya. (*)

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone