Ilustrasi teks bahasa sansakerta (foto: istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Era disrupsi teknologi yang diiringi dengan eksisnya budaya asing di negeri ini menjadi persoalan yang serius. Jika di biarkan identitas kebangsaan negara ini berpotensi akan hilang. Kekhawatiran ini di dukung dengan munculnya fenomena generasi milenial yang lebih suka mengkonsumsi budaya dan bahasa asing dari pada lokal.

Berdasarkan fakta temuan lapangan, bahasa sansakerta kini sudah sangat jarang digunakan dan hampir tidak ada yang menyediakan les untuk bahasa sansekerta. Hal itu dikarenakan kurangnya minat masyarakat terhadap bahasa sansekerta yang tidak lagi dianggap penting.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia (Sasindo) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) memberi kesempatan kepada mahasiswa yang memiliki minat belajar bahasa sansekerta serta bahasa kuno lainnya dengan mengambil mata kuliah bahasa tersebut di semester tiga.

Menurut Wildan, mempelajari bahasa sansakerta sangatlah unik. Namun sangat disayangkan pemuda di negeri ini memiliki minat yang rendah dan menganggap bahasa sansakerta tidak lagi penting.

“Belajar bahasa sansekerta memiliki keasyikan tersendiri. Meski tidak dapat dipungkiri awalnya mempelajari bahasa sansakerta sangatlah susah apalagi ketika menulis aksaranya. Namun ketika sudah terbiasa maka mahasiswapun akan jatuh cinta.” tuturnya.

Sasindo sebagai salah satu program studi yang ada di UNAIR memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bersama belajar dan menyebarluaskan pengetahuan yang ada didalamnya kepada khalayak dan stakeholder Universitas. Hal itu merupakan tindakan aktualisasi untuk melindungi keragaman yang ada di negeri ini, salah satunya bahasa sansekerta.

Lanjut Wildan, mempelajari bahasa sansekerta merupakan sebuah kewajiban bagi saya. Sebab hal itu merupakan warisan nusantara yang harus dijaga dan dilestarikan. Sebagai seorang akademisi sudah selayaknya mahasiswa tidak melihat sisi tersulit dalam mempelajari bahasa itu. Namun lebih tepatnya dapat melihat pada sisi manfaat yang didapatkan.

Jika generasi milenial sudah tidak dapat melestarikannya dengan baik, maka orang asing yang akan mengambil alih posisi tersebut. Peninggalan sejarah negeri ini akan menjadi terlupakan dan terkikis seiring berjalannya waktu. (*)

 

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor : Khefti Al Mawalia

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
  • Yuniar Arij

    Penulisan kata awalan “di” banyak yg kurang tepat seperti “di jaga” seharusnya “dijaga”, dsb. Terima kasih.