Assoc. Prof. Simon Leunig saat menyampaikan presentasinya dalam Western Australia and East Java Universities Consortium (WAEJUC) di Aula Kahuripan 301 Kantor Manajemen lantai dua UNAIR. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi tuan rumah dalam Western Australia and East Java Universities Consortium (WAEJUC) Research Training yang diselenggarakan pada Senin (18/3/2019). Acara ini dibuka oleh Wakil Rektor II UNAIR Dr. Muhammad Madyan, SE., M.Si., M.Fin., di Aula Kahuripan 301 Kantor Manajemen UNAIR.

Dalam sambutannya Dr. Madyan menyampaikan bahwa UNAIR berfokus untuk menambah human capital readiness serta edukasi bagi professor, staf, dan dosen doktor di UNAIR. Tujuan lainnya adalah untuk memperkuat bidang akademik dan kolaborasi penelitan, serta memperluas networking dan publikasi di UNAIR.

“Jadi ini (WAEJUC, Red) adalah konsorsium antara lima perguruan tinggi di Australia Barat dan sepuluh Perguruan Tinggin (PT) di Jawa Timur,” tutur Direktur Eksekutif Airlangga Global Engagement (AGE) UNAIR Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, Dra., M.Si., seusai agenda panel satu dilakukan.

Prof. Nyoman menuturkan bahwa WAEJUC merupakan kerjasama antara Provinsi Jawa Timur dengan Pemerintah Australia Barat.

Dalam pelaksanaannya, terdapat sepuluh perguruan tinggi di Jawa Timur yang mendukung kolaborasi ini. Adapun tiga kegiatan kerjasama tersebut antara lain dalam bidang akademik, research, dan pertukaran (mobility) mahasiswa Indonesia.

“Untuk kegiatan ketiga ini kami menunjuk co-chair. Untuk UNAIR co-chair di bidang riset, ITS di bidang mobility, dan Australia Barat di bidang akademik,” kata Prof. Nyoman menjelaskan kegiatan kerjasama di Aula Kahuripan 301.

WAEJUC, imbuh Prof. Nyoman, dilaksanakan karena sangat penting untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM). Baginya, SDM berkualitas yang dimiliki perguruan tinggi, otomatis wilayah Provinsi Jawa Timur akan berkembang semakin pesat. Salah satu upaya pengembangan SDM tersebut adalah diselenggarakannya Research Training Program di perguruan tinggi yang didukung oleh pembiayaan dari Australia Barat.

Resarch training ini diikuti oleh sepuluh perguruan tinggi di Jawa Timur, dan pihak Australia adalah sebagai fasilitatornya,” ungkap Prof. Nyoman.

Adapun sepuluh perguruan tinggi tersebut diwakili tiga dosen yang akan menjadi kandidat PhD di Australia Barat. Prof. Nyoman berharap, nantinya pihak Australia akan memberikan beasiswa kepada para dosen yang ikut research training.

Research training tersebut dapat diikuti oleh semua dosen perwakilan dari sepuluh PTN di Jawa Timur, dengan memenuhi persyaratan yang diberikan. Persyaratan tersebut yaitu kemampuan berbahasa Inggris dengan IELTS minimal enam, proposal yang akan menjadi kandidat riset di Western Australia University, dan sudah memiliki calon profesor di sana.

Dari persyaratan tersebut, ada empat calon UNAIR yang terkualifikasi untuk mengikuti training tersebut. Hal itu dikarenakan PTN lain hanya mengirimkan satu sampai dua calon saja, sehingga UNAIR bisa mengisi kekosongan tersebut.

“Harapan kami adalah para dosen yang mengikuti research training ini mendapatkan pembekalan yang cukup dan kiat-kiat yang perlu dipersiapkan untuk PhD student di Western Australia University,” ucap Prof. Nyoman. (*)

Penulis: Dhea Meidiana

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).