EDY Budi Santoso, S.S., M.A., (kiri) Pengajar Museologi Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, menunjukkan koleksi Museum Sejarah dan Budaya (Foto: Istimewa)
EDY Budi Santoso, S.S., M.A., (kiri) Pengajar Museologi Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, menunjukkan koleksi Museum Sejarah dan Budaya (Foto: Istimewa)
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Banyak yang menganggap mempelajari sejarah itu membosankan. Ditambah muncul kekhawatiran akan prospek kerja yang belum menentu. Itu membuat sebagian orang enggan memilih sejarah sebagai pilihan utama ketika mendaftar di perguruan tinggi.

Beragam alasan bermunculan. Sebab, ilmu sejarah dianggap kurang menarik di mata anak muda dan kekhawatiran akan lulusan sejarah mau jadi apa?. Sebenarnya ada banyak alternatif untuk menjawab itu.

Salah satunya dengan hadirnya mata kuliah museologi (Permuseuman) di jurusan ilmu sejarah. Kali ini UNAIR NEWS akan membahas lebih dalam bersama Edy Budi Santoso, S.S., M.A., pengajar di Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga. Khususnya menjawab apa itu museologi dan relevensinya dengan kehidupan saat ini.

 

Kajian yang Menarik Dipelajari

Edy, begitu sapaan akrabnya, menjawab bagaimana museologi adalah kajian yang menarik untuk dipelajari di Ilmu Sejarah UNAIR. Sebab, menurut dia, museologi berangkat dari tataran teoritis, yakni kajian penelitian tentang warisan budaya Indonesia.

”Karena warisan-warisan budaya itu kan yang nantinya bakal di kelola museum. Nah, tatarannya teoritisnya itu dipelajari di museologi,” jawab Edy.

Di mata kuliahnya, terdapat beberapa kategori periodisasi yang perlu untuk dipelajari. Yakni, masa tradisional, masa modern, dan pasca-modern.

Masa tradisional, tepatnya masa kolonial (penjajahan) Belanda, museum digunakan para birokrat atau ilmuwan untuk melestarikan produk budaya Indonesia yang unik. Tujuannya adalah untuk kepuasan pemilik museum.

Pada masa modern, museum dibutuhkan masyarakat ketika bangsa Indonesia terlepas dari penjajahan. Karena di masa itu, Indonesia sedang membutuhkan suatu identitas untuk menunjukkan bahwa antar-daerah itu dapat menyatu atas dasar kemerdekaan Indonesia.

”Karena sebagai negara baru, apalagi sebagai negara yang merdeka, museum pada waktu itu berfungsi sebagai ikon untuk mempererat budaya masyarakat dan negara Indonesia,” ungkap Edi.

Sementara, masa pasca modern atau disebut The New Museologi (Museologi baru, red), kajian permuseuman dikhususkan untuk menelusuri identitas lintas budaya dan negara. Sebab, lanjut dia, hal itu tidak terlepas dari pengaruh globalisasi yang senantiasa berkembang.

 

Praktik dan Sertifikasi

Edi menuturkan, mahasiswa yang mengikuti mata kuliah museologi dipersiapkan untuk menjawab perkembangan itu. Terutama dibekali Praktik Kuliah Lapangan (PKL, Red) ke museum setiap tahun.

”Seperti di tahun 2017, mahasiswa mengadakan PKL di Madura, tepatnya di Museum Keraton Sumenep dan makam Asta Tinggi. Hal itu dilakukan untuk menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang karakteristik masyarakat Madura,” tuturnya.

Selain PKL, mahasiswa dibekali dengan praktik pameran. Edi mengatakan, pameran dilakukan untuk melakukan identifikasi jenis benda yang tergolong arkeologi atau masuk ranah antropologi.

Yang tidak kalah menariknya lagi, setelah mengikuti mata kuliah museologi, mahasiswa berhak mendapat sertifikat kompetensi LSP UNAIR sebagai Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), dengan syarat minimal mendapat nilai AB. Hal itu, kata Edi, diberikan untuk membantu mahasiswa yang telah lulus mata kuliah museologi untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi permuseuman.

 

Kiprah Alumni dan Harapan Masa Depan

Berbagai alumni Ilmu telah berkiprah di dunia kerja, Edi menyebutkan ada beberapa alumni yang telah mengaplikasikan ilmu permuseuman, seperti Aji Destiawan yang saat ini di Museum House of Sampoerna, Basit di Museum Tugu Pahlawan Surabaya, Citra yang bekerja di Dinas Pariwisata Jawa Timur, dan Ika Ayu yang bekerja di Balai Pelestarian Budaya Dirjen Kebudayaan Kementeriaan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

“Kemarin ada Mbak Citra yang sempat ke jurusan, dia ditugasi untuk mengidentifikasi jenis-jenis benda-benda kriya yang rencananya mau dibuat Undang-Undang oleh pemerintah, terus ada Mbak Ika Ayu dari angkatan 2014 yang saat ini jadi anak buahnya Hilmar Faridz (Dirjen Kebudayaan, red),” ungkap pengajar mata kuliah Warisan Budaya tersebut.

Edi Mengatakan, dengan adanya alumni yang mau menggeluti dunia permuseuman, itu akan memberi harapan masa depan bangsa. Karena menurutnya, alumni akan berperan untuk melestarikan warisan budaya Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

“Karena ketika ada orang asing datang ke Indonesia, yang pertama ditanyakan pasti bagaimana se budaya Indonesia itu, mereka ingin mengetahui budaya Indonesia dulu. Disitu kita menyediakan orang terpilih yang paham tentang museum untuk mendeskripsikan itu semua,” Pungkasnya. (*)

 

Penulis  : Fariz Ilham Rosyidi

Editor    : Feri Fenoria