Ilustrasi daerah tanpa aliran listrik. (Feri Fenoria Rifai)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Generasi milenial adalah generasi pembawa kebangkitan bagi bangsa dan negara di era yang serba canggih seperti masa sekarang. Penggunaan benda elektronik seperti gadget sangat digemari oleh kalangan anak muda era globalisasi.

Hal tersebut disampaikan oleh Muhamad Ali selaku Direktur Human Capital Management (HCP) PLN yang menyebutkan bahwa penggunaan barang elektronik memiliki batas masanya. Sehingga muncul istilah charging atau isi ulang kembali pada daya baterai dari gadget yang senantiasa ada dalam genggaman.

Karena keterbatasan tersebut, setiap orang membutuhkan listrik untuk menunjang kegiatan sehari-hari. Mengangkat kasus Venezuela yang pernah tidak bisa menikmati listrik dalam waktu yang cukup lama, Ali menegaskan bahwa listrik adalah hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia di muka bumi. Kepentingan tersebut terutama menjurus pada pekerjaan manusia yang bergantung pada listrik.

“Ketika Anda akan mengerjakan tugas, kemudian listriknya tidak ada atau HP-nya low-batt, maka pertama kali yang dicari itu bukan siapa (bantuan dari orang lain, Red) melainkan dimanakah ada colokan listrik,” tutur Direktur HCP PLN yang mengisi seminar PLN bertemakan Future Electricity Through Human Capital Readiness pada Rabu (13/3/2019) di Airlangga Convention Center (ACC) Universitas Airlangga.

Selanjutnya, Ali memberikan paparannya tentang posisi elektrisitas pada tahun 2017 yaitu 98,3 persen. Artinya, ada 1,7 persen penduduk Indonesia yang belum menikmati listrik dari PLN. Dari hal tersebut, Ali menambahkan, sejumlah 1,7 persen tersebut bisa jadi mereka masih menggunakan genset untuk mendapatkan listrik.

Dengan kondisi tersebut, Ali memperkirakan, pada tahun 2018 ketersediaan listrik bisa mencapai 99 persen. Menurut Ali hal ini dapat terjadi dengan cepat karena bantuan dari rekan-rekan milenial dari beberapa perguruan tinggi untuk bekerjasama demi menerangi Papua. Ali juga menceritakan bagaimana perjuangan para relawan yang melewati medan perjalanan untuk hal tesebut.

“Dari tiang listrik harus diturunkan ke tengah laut dulu, kemudian digeser dengan perahu, dibawa pakai truk, setelah itu harus digotong dengan orang. Hingga sampai di satu titik, baru didirikan di daerah tersebut,” kata Ali sambil menunjukkan beberapa dokumentasi foto di hadapan para peserta seminar.

Adanya para relawan ini, lanjut Ali, semakin melancarkan keinginan bersama untuk menerangi Papua dari ketidaktersediaan listrik.

Ke depan, Indonesia akan memiliki energi baru dan terbarukan. Ali menyampaikan bahwa pada masa kini Indonesia masih menggunakan batu bara untuk menghasilkan listrik agar dapat dinikmati oleh masyarakat. Sementara kondisi batu bara kian menurun.

“Akan tetapi, untuk masa mendatang sudah ada substitusinya, seperti air dan angin, atau biasa disebut dengan pembangkit listrik tenaga air dan angin,” ungkap Ali menyebutkan inovasi cemerlang tersebut agar masyarakat tidak cemas kehabisan pembangkit listrik di masa mendatang.

Seminar PLN merupakan salah satu kegiatan dari Airlangga Career Fair (ACF) ke-31. ACF digelar oleh Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan Universitas Airlangga (PPKKUA) selama dua hari, 13-14 Maret 2019 di gedung Airlangga Convention Center UNAIR, dan dihadiri oleh seluruh mahasiswa UNAIR mupun alumnus. (*)

 

Penulis: Dhea Meidiana

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone