Penyerahan cinderamata miniatur RS Terapung seusai penandatanganan MoU. (Foto: Istimewa)
Penyerahan cinderamata miniatur RS Terapung seusai penandatanganan MoU. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR bersama dengan Yayasan Ksatria Medika Airlangga menggelar peringatan satu tahun berjalannya program Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) pada Sabtu (9/2). Acara bertajuk “Setahun Bakti Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga” tersebut diselenggarakan di Aula Fakultas Kedokteran Kampus A UNAIR dengan mengundang semua pihak yang telah terlibat dan  membantu RSTKA.

Dalam acara tersebut juga berlangsung penandatanganan MoU antara Dekan FK UNAIR, IKA-UA, RSUD Dr. Soetomo, Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dan Yayasan Ksatria Medika Airlangga untuk bisa bersinergis melaksanakan kegiatan RSTKA selanjutnya. Selain itu, ada pula prosesi pemberian tali asih penghargaan dari FK UNAIR kepada 10 orang yang mewakili relawan bakti selama kurun waktu 2017-2018, pemaparan laporan refleksi kegiatan kapal RSTKA, penyampaian testimoni para relawan bakti Ksatria, serta penyampian rencana kegiatan RSTKA tahun 2019.

Kapal pinisi sepanjang 27 meter dan lebar 7,2 meter yang dibangun di Galesong, Sulawesi Selatan tersebut pertama kali berlayar pada 9 September 2017. Selama satu tahun berjalan, RSTKA UNAIR telah mengunjungi 22 pulau, menangani 1.532 pasien bedah dan 11.482 pasien pelayanan kesehatan dasar dan spesialistik.

Ketua Yayasan Ksatria Medika Airlangga, Dr. Christiyogo Sumartono, dr., Sp.AnKAR mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan program RSTKA untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil di Indonesia.

“Kami semua pengurus yayasan RSTKA merasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Karena sejak awal melaksanakan program ini kami kesulitan pendanaan. Semangat dan energi pengelola tidak boleh padam karena kita akan membuktikan cemoohan orang yang pesimis bahwa program ksatria tidak berlangsung lama,” ungkapnya.

Dirinya turut berbagi sedikit cerita selama mengunjungi beberapa pulau yang disinggahi. Baginya masing-masing pulau tempat RSTKA melakukan bakti memiliki kesan tersendiri.

“Di Pulau Bawean kita mengawali membuka Rumah Sakit Bawean, di Pulau Sapeken telah lahir bayi pertama di kapal, di Sungai Kalimas, masyarakat jadi tahu ada RS Terapung, di Lombok membantu korban gempa. Semua stakeholder kesehatan terheran-heran ada kapal ‘imut’ bisa bantu bencana, di Palu kita bisa menyumbang 70 kapal kecil pencari ikan beserta motor dan jaringnya, serta bangun TPI dan WC umum,” terangnya.

Ke depan, RSTKA juga akan membantu menyukseskan program 100 hari kerja dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Parawansa untuk melayani 3 pulau di Kabupaten Sumenep serta pulau-pulau lain. Untuk itu, para relawan akan melakukan survei terlebih dahulu serta menjalin kerjasama dengan stakeholder setempat.

Selain itu, Christiyogo berharap impian untuk merealisasikan armada kedua RST dapat segera terwujud.

“Harapan Yayasan Ksatria, insya’allah atas dukungan semua donatur dan keluarga besar UNAIR serta mimpi Pak Rektor, Prof. Nasih, kita akan membuat kapal kedua atau armada kedua, bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember,” pungkasnya.

Penulis: Zanna Afia Deswari

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone