Rektor UNAIR Prof Moh Nasih saat memberikan sosialisasi kepada kepala sekolah dan guru dari 310 sekolah di Jawa Timur, Senin 11 Februari 2019. (Foto: Agus Irwanto)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dalam sosialisasi SNMPTN dan SBMPTN yang dilakukan di Universitas Airlangga pada Senin 11 Februari 2019, Rektor UNAIR Prof Moh Nasih menegaskan bahwa UNAIR akan selektif dalam memilih calon mahasiswa, khususnya yang berpaham menyimpang dan anti-NKRI. Sosialisasi itu diberikan kepada kepala sekolah dan guru dari 310 SMA sederajat di Jawa Timur.

Kebijakan ini baru diterapkan perdana pada 2019. Mengingat pada tahun lalu, ada beberapa perguruan tinggi yang mana terdapat mahasiswa maupun dosen yang terpapar paham radikal dan anti-NKRI. Seleksi ini dilakukan dengan menambahkan persyaratan dalam mendaftar SBMPTN, yaitu melalui pembuatan esai oleh calon mahasiswa yang bersangkutan.

“Pada jalur SBMPTN, wawasan kebangsaan siswa yang bersangkutan akan menjadi bahan pertimbangan penilaian. Wawasan kebangsaan ini dinilai dari esai yang dibuat oleh siswa bersangkutan,” ucap rektor saat sosialisasi di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen UNAIR.

Rektor mengatakan bahwa esai ini dalam rangka menjaring calon mahasiswa terkait masalah ideologi, termasuk wawasan kebangsaan siswa bersangkutan. Sebab yang akan masuk perguruan tinggi harapannya bermanfaat sebaik-baiknya untuk Indonesia.

“Artinya, tidak selalu yang nilainya baik, pasti akan diterima,” tegas rektor.

Ditegaskan Rektor bahwa UNAIR menerima bukan hanya mahasiswa yang otaknya cerdas, namun juga hatinya kepada NKRI. “Sehingga nilai wawasan kebangsaan akan kita pertimbangkan,” terang Rektor.

Sementara itu, meski ada penilaian khusus, untuk pendaftar dari Tahfidz atau penghafal Al-Quran tidak secara otomatis akan diterima. Kemampuan akademik tetap menjadi pertimbangan.

“Misalnya ada calon mahasiswa yang hafal 30 juz, namun nilai akademik di sekolah tidak memenuhi persyaratan, maka tidak dapat diterima,” terang rektor.

Sementara bagi Tahfidz 30 juz yang berhasil diterima di UNAIR, yang bersangkutan akan dibebaskan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Artinya, bebas biaya tiap semester hingga dinyatakan lulus kuliah, yakni 4 tahun untuk jenjang S1.

Usai sosialisasi ini rektor berharap kepala sekolah dan guru paham benar bagaimana mekanisme masuk/diterima di UNAIR. Sehingga, nanti hasilnya pendaftaran bisa dipahami. Sebab selama ini masih banyak pertanyaan dari sekolah.

“Kami ingin semua berjalan dengan fair, yang baik dan terbaik pasti masuk. Kami berharap kawan-kawan di sekolah bisa mengatur strategi untuk mendorong siswa agar bisa memenuhi harapannya,” ucap rektor. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone