FKG UNAIR Dorong Peneliti Jadi Pelopor Pengembangan Etik

UNAIR NEWS Р Senada dengan slogan excellence with morallity yang digaungkan oleh Universitas Airlangga, sivitas akademika UNAIR sedang gencar-gencarnya melakukan penelitian. Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNAIR mengadakan pelatihan etika dasar lanjut (EDL) untuk para dosen peneliti. Kegiatan itu dilaksanakan pada Kamis, (31/1) hingga Jumat, (1/2) bertempat di Hotel Bumi Surabaya.

Pada kegiatan tersebut, KEPK FKG bekerjasama dalam mengisi langsung pelatihan tersebut dengan Komisi Etik Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Nasional (KEPPKN) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pelatihan ini diketuai oleh KEPPKN, Dr. Triono Soediro, M.Sc., M.Phil., Ph.D, alumni FK UNAIR angkatan 1979.

Dalam kesempatan itu, Dr. Triono menjelaskan dihadapan 60 dosen FKG tentang sejarah adanya komisi etik. KEPK, lanjut Triono, didirikan untuk melindungi subjek penelitian (manusia) agar tidak terjadi pelanggaran etika.

Dr. Triono juga menjelaskan mengenai tiga prinsip etik yaitu baik, hormat, dan adil. Kemudian, pada tahun 2011 lahirlah tujuh standar etik yang berkembang menjadi 25 pedoman KEPPKN CIOMS.

“UNAIR menjadi nomor satu dengan menghasilkan protokol terbanyak yang telah dimuat di media online dan berstandar etik di Indonesia,” tambah

Suasana peserta dalam mengikuti pelatihan (foto: istimewa)

Sesuai tema kegiatan tersebut, tak hanya memberikan pemahaman mengenai dasar etik, peserta juga diajak untuk memahami kasus dan menyesuaikanya dengan 25 pedoman yang ada. Pelatihan itu ditujukan agar menjadi lebih efektif dan mengantisipasi agar peserta tidak mudah lupa.

“Harapan saya UNAIR menjadi pemupuk perubahan dalam membudidayakan etika penelitian dan juga menjadi jago kondang, dikarenakan UNAIR adalah institusi pendidikan terkemuka dalam bidang penelitian dengan etik clearance terbanyak,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua KEPK FKG, Prof. Dr. Muhammad Rubianto, drg., MS., Sp.Perio (K) menuturkan, saat ini FKG tengah bersemangat mengadakan gerakan moral atau etika. Dengan mengundang ketua KEPPKN, diharapkan para peneliti mendapat pencerahan selayaknya meneliti berdasarkan etika yang benar.

“Ini merupakan satu hal positif, solusi konkrit untuk membangun moralitas melalui penelitian yang saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh UNAIR,” jelasnya.

Prof. Rubi menambahkan, pelatihan tersebut dilakukan untuk menanggulangi penelitian para dosen yang gagal karena masalah etika. Terlebih, penelitian UNAIR saat ini telah banyak masuk dalam jurnal scopus yang harus memiliki etika clearance.

“Harapannya motto excellence with morallity dapat seimbang, tidak hanya unggul tapi juga memiliki moral dan etika. Sehingga para sivitas akademika UNAIR saling menghargai dan mengatasi masalah dengan guyup rukun. Selain itu, setelah pelatihan ini saya berharap kita menjadi pelopor untuk pengembangan penjaga etik di Indonesia,” pungkasnya.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Khefti Al Mawalia