Generasi Milenial Butuh Ruang Politik untuk Berekspresi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Suko saat memberikan materi dalam diskusi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)
Dr. Suko saat memberikan materi dalam diskusi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)

UNAIR NEWS – Politik dan era disruption tidak bisa dipisahkan begitu saja. Mengingat, 2019 merupakan tahun politik yang kini kian ditunggu momennya oleh masyarakat Indonesia. Berbagai kampanye kian gencar dilakukan oleh para kandidat pada tingkat daerah hingga tingkat nasional.

Media sosial menjadi saluran utama yang paling banyak digunakan oleh para kandidat. Tentu, sasaran utama kampanye ini adalah para generasi milenial dalam mendapatkan informasi dan memutuskan posisi politiknya dalam memilih calon.

Bahkan, jumlah pemilih pemula ini dianggap memiliki potensi yang besar. Berdasar data KPU, jumlah pemilih pemula mencapai 70–80 juta dari 193 juta pemilih. Artinya 35–40 persen memiliki pengaruh yang besar terhadap pemilu.

Namun, yang lebih mengejutkan, Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) sekaligus pakar komunikasi UNAIR, Drs. Suko Widodo, M.Si, mengungkapkan survei akhir November lalu. Bahwa, para generasi milenial atau pemilih pemula belum banyak menentukan pilihannya dalam melihat politik hari ini. Mereka tidak mempunyai banyak informasi dan alasan untuk memilih paslon (pasangan calon).

Melihat data tersebut, terbukti bahwa partai politik belum sepenuhnya merebut hati para generasi milenial. Hal itu menjadi suatu persoalan bagi parpol (partai politik) dalam melihat ketidakjelian sasaran politiknya, terlebih di media sosial.

Selain itu, lanjut Suko, faktor lain yang membuat para generasi milenial tidak tertarik dengan isu politik, yaitu tidak adanya ruang gerak dalam mengekspresikan keinginan dan kebutuhan mereka.

”Partai politik tidak menawarkan narasi-narasi menarik bagi mereka, sehingga para generasi muda ini tidak masuk dan tidak tertarik untuk menelisik lebih dalam tentang isu politik terkini,” ungkap Suko.

”Tawaran partai politik saat ini tidak memberikan jawaban atas keresahaan dan kegelisahan yang dialami oleh generasi milenial,” imbuhnya.

Selain itu, dalam konteks komunikasi politik, gejala itu seharusnya dipahami sebagai komunikasi yang bersifat dyadic atau timbal balik untuk menanyakan keresahan para generasi milenial. Partai politik diharapkan dapat merancang dan menawarkan kembali visi misi dan program kerja dengan melibatkan pemilih pemula di dalamnya. Mengingat, generasi milenial merupakan generasi yang membutuhkan ruang eksistensi dalam berekspresi.

Atas kondisi semacam itu, diharapkan generasi milenial mampu memperoleh informasi yang lebih akurat, informatif, dan menghindari ujaran kebencian di media sosial.

”Parpol juga harus memberikan ruang bagi anak muda. Karena, jika hal ini tidak terjadi, maka parpol lambat laun akan ditinggalkan oleh pemilihnya. Khususnya generasi milenial,” ungkap Suko.

Wawasan politik generasi milenial adalah masa depan politik ke depan. Pendidikan politik yang sehat adalah cara mengantisipasi kejenuhan politik yang dapat merusak pendidikan politik generasi milenial. Sudah seharusnya pembahasan politik tidak didasari cara berpikir dikotomik, tidak konsisten. Namun, pembahasannya direvisi menjadi bahasa politik yang tandas dengan pendekatan holistik, menyeluruh. (*)

 

 

Penulis: Khefti Al Mawalia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu