Sumber Gambar: Kompasiana
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Resensi Buku “Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat”

 

Judul: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Penulis: Mark Manson

Penerbit: Grasindo

Tahun terbit: 2018

Tebal buku: 246 halaman

ISBN: 9786024526986

UNAIR NEWS – Mark Manson adalah seorang blogger asal New York, Amerika. Ia dikenal lewat tulisan-tulisan bertema motivasi lewat blog yang ia tekuni. Buku dengan judul asli The Subtle Art of Not Giving a F*ck ini terbit pertama kali pada 13 September 2016 di Amerika.

Buku ini bahkan terjual lebih dari 3 juta kopi dan menduduki New York Times, Globe, and Mail Best Seller. Karena laris manis di pasaran, buku tersebut akhirnya diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Buku bersampul oranye ini mengantarkan saya untuk mempelajari makna kehidupan lebih dalam lagi. Mark Manson memberikan argumen bahwa semua manusia tidak sempurna dan terbatas. Ia menjelaskan tidak semua orang mampu menjadi luar biasa hingga menciptakan karya yang spektakuler. Di dunia ini pastilah ada para pemenang dan pecundang.

Terdapat total 9 bab dengan fokus konten yang berbeda. Masing-masing bab menuntun pembaca agar sadar akan realita kehidupan namun dengan cara pandang berbeda. Para pembaca diarahkan untuk melakukan hal yang bertolak belakang dengan kebiasaan mereka pada umumnya.

Di awal bab misalnya, pembaca mungkin sudah dibuat tercengang dengan judul yang disuguhkan penulis, yakni “Jangan Berusaha”.

Dalam ulasan buku, tertulis bahwa budaya sekarang banyak orang terobsesi mewujudkan harapan-harapan positif yang mustahil diwujudkan, seperti menjadi lebih bahagia, menjadi lebih sehat, menjadi paling baik, menjadi lebih pintar, menjadi lebih kaya, dan lain-lain. Coba berhenti sejenak dan renungkan lebih dalam lagi. Sesungguhnya segala macam nasihat untuk menjadi pribadi positif tersebut justru memberi penekanan pada kekurangan dalam diri sendiri.

Mark menguraikan bahwa bila seorang kurang memedulikan suatu hal, justru orang itu cenderung mengerjakan hal dengan baik. Semua berkaitan dengan hukum kebalikan, yakni dengan bersikap masa bodoh sesungguhnya akan menghasilkan sesuatu yang besar. Mengejar hal positif akan menghasilkan hal negatif, sebaliknya mengejar hal negatif akan menghasilkan hal positif.

Salah satu bagian yang menarik perhatian saya adalah ketika Mark Manson mengartikan makna kegagalan dan kesuksesan. Dia mengajak para pembaca untuk menyelami lagi makna kata kesuksesan dan kegagalan. Karena banyak orang salah mengartikan kedua kata tersebut. Menurutnya, baik sukses dan gagal adalah dua konsep yang relatif, tergantung pada perspektif masing-masing individu. Secara naluriah ada saat orang menemui kondisi untuk takut gagal. Orang itu hanya terpaku pada apa yang ada di depan dan dikuasainya.

Meskipun buku ini adalah terjemahan dari bahasa Inggris, bahasa yang disajikan tidak terbelit-belit. Mark bahkan memberi contoh kasus realita berdasarkan konsep yang ia tulis. Sehingga para pembaca dapat mencerna konten buku secara maksimal. Bagi para pembaca yang tertarik dengan buku self improvement, buku ini sangat direkomendasikan.

Buku ini cocok bagi semua umur, baik yang sedang menempuh pendidikan, sedang bekerja, hingga orang lanjut usia. Sayangnya buku ini tidak dilengkapi dengan gambar, hanya berupa tulisan dan sesekali kutipan untuk mempersingkat bahasan. Bagi para pembaca yang kurang senang dengan buku full tulisan, buku ini tidak direkomendasikan. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone