Ilustrasi oleh newsantara
Ilustrasi oleh newsantara
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Senyum kecut ketika melihat berita di Jawa Pos Online yang berisikan pernyataan seorang akademisi sebuah universitas di Sumatera yang menyayangkan tingginya angka golongan putih (golput) dan menyerukan agar generasi milenial melek politik. Bukan tingginya angka golput yang membuat senyum kecut pertanda jengkelnya terhadap golput, tapi lebih ke pelabelan golput sebagai sikap yang tak berguna dan tak kontributif terhadap negara. Bukan berarti gagasan ini sebagai bentuk dukungan dan mengajak pembaca untuk golput dalam menghadapi tahun politik mendatang. Namun tulisan ini lebih ingin mengajak teman-teman untuk memiliki ketegasan prinsip saat menentukan pilihannya dalam tahun pemilu, bukan sekadar ikut-ikutan euforia semata.

Baiklah, pertama mari mulai mencoba memahami pilihan seseorang untuk golput dengan memasuki perspektif mereka. Kenapa perlu memahami pilihan seseorang untuk golput, bukan pilihan umumnya yang memilih calon-calon yang ada adalah upaya kita semua untuk menyejajarkan pilihan golput dengan pilihan-pilihan partisipatif, mengingat framing selama ini atas pilihan golput selalu menempatkannya lebih rendah dari pilihan partisipatif, seakan-akan pilihan golput tidak dilatarbelakangi alasan.

Ingat! Ketegasan sikap dalam menentukan pilihan tidaklah akan muncul, jika ia tidak dilatarbelakangi alasan yang kuat.

Baiklah, kembali pada artikel di paragraf pertama. Argumen yang diusung oleh akademisi dalam berita tersebut ialah bahwa golput bukanlah pilihan di era demokrasi dan gerakan golput tidak membuat perubahan apapun tehadap bangsa dan negara. Padahal dalam ayat 23 pasal 1 UU No 39 tentang HAM disebutkan: “Setiap orang bebas untuk memilih dan mempunyai keyakinan politiknya”. Mengacu ayat tersebut maka jelaslah bahwa golput juga bisa dikategorikan sebagai pilihan.

Masalahnya, kenapa seseorang bisa menjadi golput? Berdasarkan beberapa sumber dan pendapa-pendapat teman-teman yang memilih golput, alasan-alasan ada dua: halangan dan ketidakpercayaan. Halangan bisa meliputi sakit, atau kendala jarak dan waktu. Ketidakpercayaan bisa didorong oleh ideologi atau kekecewaan terhadap sistem.

Masalahnya, stereotipe yang berkembang selama ini menyederhanakan pandangan bahwa golput ialah sikap apatis. Namun kita seringkali mengabaikan alasan di balik pilihan golput, terutama alasan ketidakpercayaan. Kita lupa, banyak mereka yang memilih golput lantaran kecewa dengan berjalannya sistem yang hanya menguntungkan beberapa pihak saja, atau sumpek melihat kotornya pertarungan politik yang disajikan para calon. Toh, wajar jika mereka memilih golput jika berdasarkan rational choice theory, golput bagi mereka merupakan pilihan lebih menguntungkan, daripada memilih orang-orang tak dikenal namun hanya digunakan untuk sandiwara gelut para elit, dan masyarakat biasa tak merasakan dampak apapun dari berjalannya sistem.

Harusnya tingginya angka golput mencambuk mereka yang akan bertarung dalam kompetisi politik untuk mawas diri, lebih aktif dan serius untuk mendengar suara masyarakat. Mereka yang saat ini sedang memegang amanah rakyat, atau akan mendapatkan amanah rakyat, seharusnya turun ke masyarakat, aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat untuk menjaring keluhan dan aspirasi.

Sudah berapa banyak orang yang fotonya terpajang di baliho, spanduk, dan sejenisnya di pinggir jalan, yang turun menyambangi anda dan konstituen lainnya untuk mendengarkan suara dan mencatat aspirasi? Atau jangan-jangan sama sekali tak pernah? Kalau begitu, maka foto mereka yang terpampang di pinggir jalan tak lebih dari sampah visual. Dan saya pun akan sangat memaklumi pilihan teman-teman yang golput, jika melihat realitasnya seperti itu.

Oleh karenanya, rasionalisasi atas prinsip perlu teman-teman miliki. Jangan memilih hanya karena mbebek euforia yang bergelora. Ketika euforia golput lagi marak, maka ikut-ikutan golput, atau euforia memilih si A, B, atau C, maka ikut-ikutan juga untuk nyoblos tanpa ada rasionalisasi jelas. Jika memang tahun politik merupakan ajang perubahan, bagaimana bisa mengubah keadaan jika sikap saja tak punya?

Tahun Politik Butuh Peran Mahasiswa

Berangkat dari penjelasan tentang golput di atas, maka penting bagi mahasiswa agar memiliki prinsip saat menentukan pilihan. Jangan sampai mahasiswa seperti orang yang terombang-ambing di laut, panik mencari benda apapun yang dapat ia jadikan pegangan yang mencegahnya tenggelam, karena tidak memiliki prinsip. Jika demikian, maka sudah pasti akan hanya mbebek saja dan percayalah bahwa harapan akan perubahan lewat tahun politik itu akan musnah.

Kemudian perlunya ada sebuah aksi nyata pencerdasan politik masyarakat. Mahasiswa yang sering digadang-gadang sebagai agent of change tentu harus memiliki peran aktif untuk mengatasi kemungkinan-kemungkinan negatif yang ditimbulkan oleh tahun politik.

Pertama dan yang fundamental mahasiswa harus mampu menumbuhkan kesadaran menentukan prinsip di kalangan mahasiswa sendiri. Mahasiswa yang berilmu, harus menumbuhkan kesadarannya untuk membaca kondisi perpolitikan hari ini, jangan sampai terseret euforia semu, atau bahkan sentimen-sentimen yang cenderung menjatuhkan satu sama lain. Prinsip atas pilihan ini harus berangkat dari keadaan objektif berbagai bidang hari ini, ditujukan bagi kemaslahatan bersama. Sudah diajari dan dituntut berpikir objektif, masa masih doyan menelan informasi-informasi yang berbau post-truth?

Kedua, jangan memposisikan diri sebagai intelektual menara gading, yang hanya menikmati sendiri ilmunya, tanpa ditujukan untuk kemaslahatan bersama. Jika tak mampu mempengaruhi orang banyak, bisa dimulai dari lingkup terdekat dahulu: keluarga. Namun jangan posisikan masyarakat sebagai objek, yang dianggap tak tahu apa-apa soal pencerdasan politik. Tempatkan mereka sebagai subjek, ketahui pendapat-pendapat mereka tentang pencerdasan politik. Jangan tempatkan anda sebagai orang yang lebih ‘pintar’ dan lebih ‘tahu’, seakan-akan mereka tidak mempunyai pengalaman tersendiri yang mungkin lebih manjur.

Ketiga, desak mereka yang maju dalam persaingan politik, yang wajahnya terpampang di baliho atau spanduk pinggir jalan untuk turun langsung temui, dengarkan keluhan, dan catat aspirasi konstituennya, jangan hanya numpang pamer wajah di pinggir jalan yang hanya membuat mereka seperti sampah visual. sebagai mahasiswa, kita punya power yang cukup untuk memaksa mereka untuk turun lebih aktif menemui konstituennya. Lagipula beberapa mahasiswa yang sudah aktif terlibat dalam tim pemenangan calon-calon yang maju, maka seharusnya mereka memiliki power tersebut.

Singkatnya, harapan akan perubahan tidak bisa langsung kita serahkan ke mereka yang akan maju mewakili rakyat, Namun ada di pundak kita sendiri, para mahasiswa, yang dapat bertugas sebagai penyampai dan sekaligus watchdog.

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone