Menyoal Penggratisan Jembatan Suramadu terhadap Perkonomian Madura

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SUASANA Focus Group Discussion (FGD) oleh harian Kompas dengan Universitas Airlangga, Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga (IKA UA), dan Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (IKAFE) pada 31 November 2018. (Foto: Istimewa)
SUASANA Focus Group Discussion (FGD) oleh harian Kompas dengan Universitas Airlangga, Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga (IKA UA), dan Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (IKAFE) pada 31 November 2018. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Pemberlakuan kebijakan baru yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 27 Oktober mengenai pembebasan biaya tol Jembatan Suramadu mengundang banyak opini. Pembebasan biaya tol Jembatan Suramadu dianggap sebagai langkah awal yang sangat baik untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di Pulau Madura, Jawa Timur.

Dari isu tersebut, harian Kompas mengadakan Focus Group Discussion (FGD) dengan Universitas Airlangga, Ikatan Keluarga Alumni Universitas Airlangga (IKA UA), dan Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (IKAFE) pada 31 November 2018.

 

Adakah perubahan yang terjadi di Pulau Madura?

Ketika berbicara Madura, pasti akan menjurus berbagai kabupaten, karena wilayah Madura yang saling berintegrasi anatara satu kabupaten dengan yang lainnya. Wasiaturrahmah, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR, berharap kebijakan penggratisan tol Suramadu dapat meningkatkan kemandirian daerah-daerah di Pulau Madura. Yakni, Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.

Perlu diketahui, penggratisan tol Suramadu merupakan sebuah langkah untuk mendorong dan meningkatkan investasi dan pertumbuhan ekonomi di Pulau Madura. Dengan adanya kebijakan baru tersebut, kesejahteraan masyarakat Madura diharapkan juga dapat meningkat.

”Selain penggratisan saja tidak cukup, karena harus ada insentif untuk menarik industri dan investasi ke Madura. Tidak banyak pula yang dapat diharapkan oleh masyarakat Madura dari kebijakan penggratisan tol Suramadu,” tegas Guru Besar FEB Tjuk Kasturi Sukiadi.

Dia menambahkan, dengan ketersediaan lahan industri, pemahaman mengenai investasi dan kesadaran kepala daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya juga sangat diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat Madura. Karena itu, kepala daerah seharusnya saling berkoordinasi untuk mencari solusi pembangunan Madura.

Berdasar hasil penelitian Rizky Yuwono, Dosen UTM (Universitas Trunojoyo Madura), tidak ada dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Madura setelah diresmikannya Jembatan Suramadu. Pada penelitiannya, setelah Jembatan Suramadu beroperasi, Kabupaten Bangkalan justru mengalami ketertinggalan dari Kota Surabaya, Gresik, Lamongan, dan Sidoarjo.

Sementara itu, Wakil Ketua III IKAFE (Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi) UNAIR Christ Susanto menambahkan bahwa perekonomian Madura dapat ditingkatkan dengan pengoptimalan potensi lokal daerah. Mengingat, pulau Madura memiliki banyak sekali potensi lokal daerah. Misalnya, sapi Madura, buah mangga, garam, tembakau, dan potensi-potensi pariwisata di pulau Madura serta potensi lokal lainnya.

”Madura merupakan daerah tertinggal di Jawa Timur. Namun, potensi di Madura sangat luar biasa,” katanya.

”Jika Madura dapat berkembang dan mengoptimalkan potensi-potensi lokal yang dimiliki melalui Industri Kecil dan Menengah (IKM),” imbuh Rudi Purwono selaku wakil dekan I FEB UNAIR. (*)

 

Penulis: Rolista Dwi Oktavia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu