Ilustrasi oleh Warta Kota
Ilustrasi oleh Warta Kota
image_pdfimage_print

Di era sekarang pemerintah sudah banyak melakukan fokus kuratif (pengobatan) terhadap seluruh lapisan masyarakat. Akan tetapi, disamping hal dari itu, tindakan preventif (pencegahan) yang telah dilakukan masih cukup minim. Selain itu, banyak hal lain juga yang kurang diperhatikan oleh pemerintah. Sehingga kesehatan di Indonesia bisa di katakan kurang baik karena masih banyak masalah kesehatan yang dihadapi oleh negara ini. Antara lain masalah yang paling tinggi merupakan masalah kesehatan gizi yaitu Anemia, Obesitas, Gaky (kekurangan asupan yodium), KVA, dan KEP. Dari beberapa hal itu masalah yang paling serius dan mendesak di negara ini merupakan KEP atau Kekurangan Energi Protein.

Banyak dibeberapa daerah kurang adanya tindakan tentang masalah gizi. Hal ini karena banyak kendala yang dialami oleh masyarakat. Beberapa masalah yang sedang menjadi sorotan bangsa bahkan jadi fokus utama bagi pimpinan dalam penaganan masalah kesehatan bagi bangsa ini, seperti halnya kasus gizi buruk yang terjadi pada saudara kita di daerah Indonesia Timur. Kondisi kesehatan khususnya masalah gizi di negeri ini cukup sangat kompleks dan rumit akibatnya pemerintahan kita mengalami kesulitan dalam menangani hal itu khususnya masalah gizi di Indonesia bagian timur terutama di masyarakat papua.

Mengutip dari BBC Indonesia (15/1/2018) “Presiden Joko Widodo memerintahkan sebuah tim untuk segera kelapangan di kabupaten Asmat, Papua,  menyelesaikan masalah gizi kronis yang sejauh ini menimbulkan setidaknya 61 korban jiwa.” Melihat hal itu bisa dikatakan mengapa pemerintahan kita baru menangani hal seperti itu di saat KLB (Kejadian Luar Biasa) sudah terjadi pada saudara kita di papua sana ? Dari pertanyaan diatas saya rasa banyak hal yang sudah terjadi di masyarakat kita khususnya  tentang kesehatan yang kurang merata di setiap daerah, seperti halnya yang terjadi pada masyarakat papua itu. Beberapa penyebab kurangnya penanganan  masalah gizi tersebut adalah kurangnya pembangunan fasilitas pelayanan kesehatan(fayankes) di daerah terpencil.

Selama ini bisa kita lihat bahwa pemerintah lebih banyak melakukan pengembangan  fayankes di kota-kota besar seperti halnya pembangunan rumah sakit daerah dan pusat yang terlalu di lebih-lebihkan memang benar pemerintah kita tidak mengesampingkan pembangunan di daerah terpencil akan tetapi masih banyak tempat yang bisa di katakan Fayankes nya belum memenuhi standar yang telah di tetapkan oleh pemerintah itu sendiri. Seharusnya hal itu bisa di tangani oleh pemerintah kita karena dana yang tersalurkan itu sudah cukup memenuhi namun terkdang malah anggaran dana yang di tujukan untuk masalah kesehatan yang terjadi di negeri kita ini kalah besarnya dengan anggaran dana yang di tujukan untuk kepentingan politik, berbicara tentang politik memang tidak akan ada habis-habisnya  namun bagaimana dengan kesehatan masyarakat kita yang saya kira hal itu harus sangat benar-benar di perhatikan oleh pemerintah kita.

Selain dari fayankes ada beberapa hal lain juga yang kurang di perhatikan khususnya pada daerah papua yang telah mengalami KLB Gizi Buruk. Kendala lain yang di alami oleh masyarakat papua itu merupakan akssesabilitas atau jalan untuk menempuh fayankes yang ada di daerah papua lebih tepatnya di Kabupaten Asmat itu cukup jauh sekitar tiga jam. Hal itu terdapat pada di beberapa desa yang ada di kabupaten Asmat karena transpotasi yang bisa di gunakan itu hanya transpotasi Air saja. Melihat hal itu bisa di katakan bahwa pembangunan Fayankes ada di sana itu kurang merata.

Selain itu ada hal lain yang benar-benar menjadi momok bagi masyarakat di sana yaitu kurangnya Sumber Daya Manusia(SDM) yang memadai dan mutu pelayana  yang kurang efektif. Hal itu perlu adanya penegasan dari pemerintah setempat tentang kelalaian SDM yang terjadi di tempat itu. Berdasarkan laporan masyarakat setempat mereka beberapa kali tidak menjumpai Petugas kesehatan di beberapa Pustu (Puskesmas Pembantu). Dengan banyaknya kasus Gizi Buruk di sana banyak pula pasien terutama anak-anak yang di larikan pada fayankes yang  tidak teratasi sehingga kasus tersebut menyebar kepada anak-anak lainnya. Seharusnya pemerintah kita lebih tegas lagi dalam masalah kualitas SDM di tempat itu, bahkan saya kira dari hal ini perlunya penekanan kembali tentang pemerataan SDM yang berkualitas tinggi ke berbagai daerah yang terpencil.

Dari sekian kasus yang di atas banyak hal yang memang harus kita atasi bersama-sama namun hal itu tidak lepas juga dari peran pemerintah yang sangat berpengaruh untuk peningkatan kesehatan di negeri kita ini terkhususnya saudara kita di daerah Indonesia Timur yaitu Daerah Papua. Apakah  Kesehatan saudara kita di Papua akan tetap sama seperti ini sampai seratus tahun ke depan ?