Makna Hari Ibu Bagi Ksatria Airlangga

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh BMH
Ilustrasi oleh BMH

UNAIR NEWS – Ibu merupakan seseorang yang memiliki jasa paling besar bagi setiap anaknya. Berada dalam kandungan selama sembilan bulan, diasuh, dan dibesarkan dalam dekapan kasih sayang seorang ibu membuat setiap anak tidak melupakan jasa besarnya. Hari ibu yang bertepatan pada 22 Desember menjadi momentum bagi anak untuk kembali mengingat jasa besar seorang ibu, begitu juga mahasiswa.

Tuntutan mencari ilmu menjadikan waktu bersama seorang ibu berkurang, terlebih mahasiswa yang jauh dari daerah asal. Berikut telah UNAIR NEWS kutip makna Hari Ibu bagi Ksatria Airlangga.

– Indri Lestari, mahasiswa Farmasi  2018

“Menurut saya Hari Ibu sama seperti hari-hari biasanya, karena menurut saya setiap hari adalah hari ibu. Tapi Hari Ibu tanggal 22 Desember itu untuk mengingatkan bagaimana makna peran dari seorang ibu untuk kita. Di tahun pertama kuliah ini setelah mengingat Hari Ibu rasanya cukup berat jika jauh dengan ibu. Namun ini menjadi motivasi bagi saya untuk lebih semangat mencari ilmu.”

– Sandi Prabowo, mahasiswa Akuntansi 2018

“Di Indonesia, tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu.  Hari Ibu bagi saya adalah salah satu momen terbaik bagi setiap anak di seluruh dunia untuk menunjukkan rasa terima kasih kita kepada ibu yang selalu mencurahkan kasih sayang yang begitu luar biasa sedari kita kecil, bahkan sejak kita masih ada dalam kandungan. Dengan momen Hari Ibu ini, saya berharap kita semua tidak hanya ingat pada ibu setiap tanggal 22 Desember saja. Tidak adil rasanya, dengan begitu banyak hal yang telah ibu berikan kepada kita, kita hanya mengingatnya dalam satu hari ini saja. Setiap hari adalah hari ibu. Kita harus selalu mengingat dan berbakti kepadanya. Merantaulah, kamu akan lebih menghargai setiap detik waktumu di rumah. Hal itulah yang saya rasakan, saya marasa belum memberikan yang terbaik untuk ibu, berbakti dengan baik. Untukmu yang masih bisa mendengar suara lembut ibumu setiap hari, berbaktilah, cintai dia dengan tulus, buatlah dia tersenyum, sebelum semuanya terlambat.”

– Luthfi Nurwidianti, mahasiswa Pendidikan Ners 2017

“Berbicara Hari Ibu tanggal 22 Desember menurut saya Hari ibu itu sebenarnya tidak ada. Saat ini saya kan  jauh dari ibu, jadi hari dimana bertemu sama ibu adalah hari yang spesial bagi saya, karena jarak yang jauh. Namun ini  memberi pelajaran bagi saya betapa berharganya waktu bersama keluarga.”

– Herlina Rosa Deswanti, mahasiswa Matematika 2018

“Makna hari Ibu menurut saya mungkin bagi sebagian orang tanggal 22 Desember itu biasa, namun bagi sebagian orang juga tanggal tersebut adalah hari yang berharga, termasuk bagi saya juga, mengingat perjuangan seorang ibu yang menjaga dan merawat anaknya sepenuh kasih. Karena bagi anak seperti saya hari ini adalah hari ibu, namun bagi ibu setiap hari adalah hari anak. Perasaan saya saat tahun pertama kuliah jauh dari ibu itu terasa berat diawal, walau sampai sekarang juga masih berat. Karena pada dasarnya dulu yang menyiapkan semua keperluan saya adalah ibu, namun sekarang saya harus belajar menyiapkan semuanya sendiri. Tapi semua ini tidak bisa saya lakukan tanpa dorongan semangat yang setiap hari ibu berikan untuk saya.”

– Seruni Lesmi Putri, mahasiswa Ilmu Informasi dan Perpustakaan

“Menurut saya setiap hari adalah hari ibu bukan hanya tanggal 22 saja ketika saya harus berusaha demi membahagiakan beliau. Saya selalu rindu dan berharap suatu saat nanti saya bisa bertemu ibu saya lagi karena saya belum sempat untuk membahagiakannya bahkan untuk mengukir senyum di wajahnya.”

– Dwi Puji Astuti, mahasiswa Pendidikan Kedokteran Hewan 2018

“Makna hari ibu? Menurut saya pribadi sih hari ibu itu mempunyai makna sebagai penghargaan atas jasa ibu yang sudah melahirkan kita, mendidik kita dari sangat dasar, pembentukan karakter juga ibu dan keluarga yang sangat berperan. Ibu juga layaknya guru, pahlawan tanpa tanda jasa sih menurut saya. Rasanya kuliah awal ini jauh dari ibu itu hambar. Tidak ada yang membangunkan setiap pagi, nyiapin sarapan yang super lezat, mengingatkan apapun saat kita lengah. Pokoknya sesuatu sekali deh. Tapi yang saya tahu ibu pasti selalu menemani kita dalam doanya. Saya juga yakin sosok ibu pasti merindukan anaknya yang jauh di rantau juga. Tidak bisa dipungkiri juga kalau tiap minggu harus video call atau telfon sebagai suplai energi positif. Kalau sudah telfon sama ibu, rasanya tuh ada semangat lagi dan selalu ada alasan mengapa kita harus bertahan dan berjuang di kota orang.”

Penulis: M. Najib Rahman

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu