Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib, M. Kes, PhD, Apt memberikan materi workshop di Ruang 10 Nopember, lantai 3, Hotel Santika, Kamis (13/12). (Foto: Tunjung Senja Widuri)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS –  Problematika yang mencuat saat ini bukan hanya datang dari negara berkembang melainkan dari negara maju. Dekade ini, negara berkembang memiliki masalah pada ketertinggalan pendidikan, pertumbuhan ekonomi tidak stabil, rendahnya sanitasi, serta tidak meratanya layanan kesehatan.

Sedangkan kini negara maju ikut diliputi kesenjangan akses perawatan yang tidak memuaskan. Sangat bertolakbelakang dengan biaya perawatan yang fantastis. Ditambah lagi, kontinuitas pelayanan tidak merata di seluruh lapisan masyarakat.

Kondisi itu menggerakkan Universitas Airlangga melakukan upaya transformasi bertajuk Academic Health System (AHS). AHS berfokus pada sistem organisasi, layanan perawatan, dan penerapan teknologi baru. AHS secara luas mengintegrasikan sistem pendidikan dan sistem kesehatan, sehingga dapat menelurkan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas.

Sejalan dengan itu, UNAIR membentuk rencana strategis yang disusun dalam empat pilar, antara lain academic excellence, research excellence, community services excellence, dan university holding excellence.

Menjelang pergantian tahun, UNAIR menyelenggarakan Workshop bertajuk “Evaluasi Capaian AHS 2018 dan Perumusan Program Rencana Implementasi 2019” di Ruang 10 Nopember, lantai 3, Hotel Santika, pada Kamis (13/12).

Workshop itu akan di laksanakan selama 2 hari. Hari pertama bahasan dikhususkan pada pemaparan evaluasi capaian piloting AHS, refleksi implementasi AHS, diskusi rencana pengembangan AHS UNAIR tahun 2019, pemaparan dan perumusan strategi implementasi modul pembelajaran praktik kolaborasi interprofesi di pelayanan geriatri oleh tim IPE. Sementara hari kedua workshop akan membahas pengelolaan terpadu pasien geriatrik berbasis Patient-Centered Care.

“Proses ini melibatkan civitas akademika dalam bidang kedokteran dan kesehatan lain dengan institusi yang terkait seperti rumah sakit, puskesmas, dinkes, dan masyarakat,” papar Wakil Rektor IV, Junaidi Khotib, M. Kes, PhD, Apt dalam sesi materi workshop.

Junaidi Khotib berujar bahwa koordinasi fakultas (kelompok kesehatan di berbagai bidang) dengan pemerintah dan masyarakat akan menciptakan best community development dalam pelayanan kesehatan. Selain itu, tersedianya profiling komprehensif dalam kesehatan sangat bermanfaat bagi penetapan kebijakan dan upaya peningkatan kesejahteraan.

Tim Pokjanas Prof. dr. Irawan Yusuf, MD, Ph. D dan Dr. dr. H. Slamet Riyadi Yuwono, DTM & H, MARS. M.Kes juga memberi arahan terkait AHS, bahwa rancangan AHS mengharuskan pengembangan sebuah jaringan kuat melaui aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi dan melibatkan berbagai lembaga. AHS UNAIR harus berperan sebagai provider of last resort.

Selanjutnya, Ketua AHS Prof. Dr. dr. Soetojo, SpU (K) mengatakan UNAIR sebagai salah satu pilot project bersama universitas ternama, UNHAS, UI, UGM, dan UNPAD akan terus meningkatkan pelayanan mutu kesehatan di Indonesia.

“Keberhasilan AHS harus dibarengi dengan sistem koordinasi epik bersama para stakeholder,” pungkas Prof. Dr. dr. Soetojo. (*)

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone