Khoirun Nisak menjadi wisudawan terbaik Sekolah Pascasarjana UNAIR periode Desember 2018. (Ilustrasi Foto: Feri Fenoria Rifai)
ShareShare on Facebook27Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Begitulah perjalanan Khoirun Nisak, S.E., M.SEI., dalam menjalani studi S2 di Universitas Airlangga. Perbedaan budaya antara Malang dan Surabaya mengharuskan dirinya untuk ekstra keras beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Namun, mahasiswa kelahiran Trenggalek, 22 Agustus 1992 tersebut berhasil mengakhiri studinya dengan predikat wisudawan terbaik Sekolah Pascasarjana dan total IPK 3,8.

Tentang tugas akhirnya, mahasiswa yang akrab disapa Nisa tersebut mengangkat judul model pemberdayaan zakat di perguruan tinggi: studi kasus LAZ el-Zawa Universitas Islam Negeri (UIN) Malang. Dalam tesisnya tersebut, Nisa membahas mengenai pengelolaan zakat di perguruan tinggi. Menurutnya, topik tersebut merupakan hal yang baru dan jarang dibahas oleh mahasiswa lain.

“Saya ingin tesis saya tidak hanya berakhir berdebu di rak perpustakaan, tapi bisa menjadi rekomendasi dan manfaat bagi lembaga yang bersangkutan dalam pengelolaan zakat dan universitas lain yang ingin membuat lembaga zakat yang serupa,” tambahnya.

Nisa menuturkan, dalam pengelolaan zakat di perguruan tinggi uang zakat berasal dari karyawan kampus. Kemudian dari hasil pengumpulan dana tersebut, porsi dana zakat lebih besar disalurkan kepada civitas akademika yang kurang mampu.

Nisa menceritakan, saat kuliah di samping sibuk dengan akademiknya, Nisa juga disibukkan dengan menjadi supervisor Beastudi Etos Surabaya. Nisa juga termasuk pegiat #IndonesiaTanpaJIL chapter Surabaya , sebuah komunitas yang fokus mengkaji pemikiran Islam. Dalam event tertentu, Nisa juga mengikuti beberapa international conference di bidang ekonomi Islam serta menjadi salah satu penerima manfaat Beasiswa Kepemimpinan dari Dompet Dhuafa.

“Awalnya ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi di Surabaya dan membuat kesulitan beradaptasi tapi saya berusaha untuk terus menyesuaikan diri,” tambahnya.

Nisa mengaku harus banyak menyesuaikan diri dengan budaya Surabaya yang berbeda dengan budaya di Malang ketika menjalani studi S1.  Di samping itu, dirinya juga harus seimbang membagi waktu antara kuliah dan kerja.

“Tapi memang begitulah seninya belajar, kata Imam Syafi’i “kalau kau tak tahan menanggung lelahnya, maka kau harus tahan menanggung pahitnya kebodohan”,” ucapnya.

Saat ini, Nisa masih menjadi supervisor Beastudi Etos Surabaya dan menjadi asisten peneliti untuk beberapa riset. Kedepan, Nisa berencana untuk menjadi pengajar di kampus.

“Mahasiswa S2 seharusnya mindset-nya sudah beda dengan mahasiswa S1, porsi untuk penelitian, diskusi ilmiah, baca buku, dan menulis harus lebih besar. Jangan menjadi magister karbitan yang kapasitas keilmuannya belum mumpuni ketika lulus,” pungkasnya.

Penulis: M. Najib Rahman

ShareShare on Facebook27Tweet about this on Twitter0Email this to someone