MAHASISWA peserta American Poster Exhibition saat melakukan diskusi dengan pengujung pameran. (Foto: Istimewa)
MAHASISWA peserta American Poster Exhibition saat melakukan diskusi dengan pengujung pameran. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Menjadi mahasiswa program studi sastra tak mululu hanya belajar tentang kesusastraan. Hal itu dibuktikan oleh mahasiswa S1 Alih Jenis Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga. Keberadaannya tak terlepas dari mempelajari berbagai kebudayaan, baik dalam maupun luar negeri.

Sebagai program studi (prodi) yang menitikberatkan pada kemampuan berbahasa Inggris, S1 Bahasa dan Sastra Inggris, nyatanya, juga belajar tentang budaya negara-negara yang berbahasa Inggris. Termasuk mendalami kemampuan critical thingking sebagai seorang akademisi tentang berbagai fenomena budaya di dunia.

Mengangkat tema besar ”De Trump’s Amerika” mahasiswa Alih Jenis Sastra Inggris memamerkan kebolehannya menganalisis kebudayaan di Amerika. Tepatnya pada era pemerintahan presiden ke-45 Amerika Serikat.

Dalam pameran di Lobby FIB pada Selasa (4/12) UNAIR itu, setidaknya terdapat enam topik tentang kebudayaan Amerika yang berhasil disuguhkan dengan apik. Topik tersebut meliputi American Cultural Life, Multilingual America, Immigration, Minorities, Education, serta Media. Bukan hanya itu, dalam pameran yang sarat edukasi tersebut, pengujung bisa berdiskusi secara langsung dengan kelompok sesuai dengan topik yang mereka minati.

Menurut Titien Diah Soelistyarini, M.Si., dosen PJMK (Penangung Jawa Mata Kuliah) American Studies FIB UNAIR, kegiatan exhibiton itu menjadi salah satu upaya untuk membangun softskill dan hardskill mahasiswa. Hal tersebut, lanjut dia, dapat dijadikan indikator keberhasilan mahasiswa dalam menuntaskan mata kuliah yang diambil.

”Hal ini juga sebagai sarana promosi bahwa mahasiswa UNAIR juga belajar kebudayaan negara lain. Belajar di sini artinya mahasiswa mampu melakukan analisis terhadap berbagai fenomena budaya yang ada di berbagai belahan dunia,” katanya.

Berbanding lurus dengan pernyataan Titien, peserta exhibition Romiana menyampaikan bahwa kegiatan semacam itu menajdi bagian dari upaya branding di kalangan mahasiswa, khususnya, serta masyarakat. Tepatnya, bahwa mahasiswa UNAIR dalam lingkup sosial and human, nyatanya, tak hanya belajar budaya, tapi juga mampu melakukan analisis kritis. Selain itu, pameran tersebut menjadi ajang ujuk gigi mahasiswa alih jenis.

”Semacam bentuk unjuk kebolehan bahwa mahasiswa alih Jenis bisa menyeimbangkan nilai-nilai praktisi dan akademisi dengan cara mengadakan acara ini,” tambah mahasiswa Alih Jenis Sastra Inggris 2017 itu.

 

Penulis: Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone