Mochammad Baihaqi Al Chasan jadi wisudawan berprestasi wirausaha periode Desember 2018. (Ilustrasi Foto: Feri Fenoria Rifai)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tak terpikirkan sebelumnya oleh Mochammad Baihaqi Al Chasan untuk mendirikan bisnis di masa kuliahnya. Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga angkatan 2011 itu berhasil mendirikan QIA Catering dan sukses mengantarkannya menjadi wisudawan berprestasi di bidan wirausaha dengan IPK 3,46.

Mahasiswa kelahiran Blitar, 17 Mei 1992 tersebut menceritakan, awal mula pendirian bisnisnya itu muncul akibat dirinya terdesak dalam hal finansial. Di saat uang Bidikmisi yang menunjang akademisnya usai, Bai sapaan akrabnya, dihadapkan dengan kegagalan ujian proposal penelitian untuk skripsi yang membuatnya harus menambah masa studi.

Dengan bakat dan hobi yang dimiliki, guna membiayai penelitian skripsinya Bai menerima undangan sebagai Master of Ceremony (MC) atau penyanyi electone pada setiap acara. Merasa bukan menjadi pemasukan yang pasti, alumni SMAN 2 Blitar itu memutuskan untuk bekerja part time di sebuah rumah makan cepat saji.

“Awalnya saya membayangkan bakal menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi dengan baik meskipun dengan bekerja. Namun ternyata salah,” tambahnya.

Bekerja di sebuah rumah makan selama setahun lebih membuat Bai mengerti bagaimana membuka dan mempertahan bisnis kuliner, menemuciptakan ide kreatif dalam sajian kuliner, hingga manajemen waktu serta sumberdaya manusia dalam suatu organisasi perusahaan makanan.

Dari modalnya tersebut, bersama tiga rekannya, awal Agustus 2017 Bai mendirikan sebuah bisnis katering harian yang bernama QIA Catering. Pendirian bisnis tersebut merupakan hasil pemikiran atas kesenjangan masyarakat urban yang mempunyai aktivitas padat dan seringkali makan tidak teratur dan kurang variatif.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB tahun 2014 tersebut menambahkan, produk yang ditawarkannya ialah katering harian, katering makan siang, nasi kotak, nasi bakar, aneka jajanan pasar, tumpeng tradisional, dan minuman tradisional sinom. Saat ini omzet usahanya mencapai 12 juta rupiah. Dengan dipimpin oleh tiga orang, usahanya tersebut memiliki dua karyawan, tiga karyawan freelance, empat kurir, dan dua kurir freelance.

“Ke depan saya ingin mendirikan bisnis 3F yaitu Food, Fashion, and Fun yang dalam hal ini fun ialah wisata edukasi sejarah kepada anak. Maka dari itu saya akan mengambil S2 jurusan Museum Education dan juga kembali kepada tujuan awal saya menjadi dosen,” tutupnya. (*)

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone